Teologi Kerja dan Pandangan Al-Quran Terhadap Kerja

0 441

Teologi Kerja | Pandangan Al-Quran Terhadap Kerja: Etos kehidupan muslim adalah etos gerak yang disimbolkan dengan syarîî‘ah,  tharîqah, shirâth, sabîl dan minhâj. Istilah- istilah tersebut  menunjuk pada makna “jalan dan ajaran” yang harus dilalui  untuk mencari tujuan hidupnya. Islam mewajibkan sekaligus memberi apresiasi yang positif terhadap karya dan prestasi yang dihasilkan oleh muslim.  Al-Qur’an menggunakan beberapa term untuk menunjuk kerja seperti; ‘amal (عَمَل), kasb (كَسْب), juhd (جُهْد), ibtighâ’ (ابْتِغاَء), sa‘yu (سَعْى) dan su’âl (سُؤَال). Dari konsep ini, al-Qur’an memandang bahwa kerja adalah mulia, sementara meminta adalah hina. Orang yang bekerja berarti telah mensyukuri potensi yang diberikan Tuhan pada dirinya. Al-Qur’an tidak sekadar mewajibkan bekerja yang hanya menghasilkan materi. Kerja hanya salah satu bentuk ikhtiyâr yang harus dilakukan untuk mencari nilai- nilai suci demi kemaslahatan dalam memenuhi hajat hidup. Oleh karenanya kerja juga harus dilakukan di atas nilai- nilai etik.

Al-Qur’an memandang  dunia bersifat teosentris. Relasi etik antara manusia dan Tuhan harus terrefleksi secara utuh dalam kehidupan. Relasi etik tersebut akan mendasari sikap manusia terhadap alam dan sikap manusia terhadap sesamanya. Sikap etis Tuhan terhadap makhluk yang harmoni, telah menetapkan kebajikan fundamental yang esensial, yaitu keadilan-Nya. Sikap muslim yang tidak memisahkan antara spiritual dan duniawi, mendorong untuk menghormati hukum moral. Islam tidak sekadar ideologi, karena Islam merupakan humanisme transendental yang menciptakan masyarakat khusus dan melahirkan tindakan moral yang ideal, legal, dan universal yang mampu mengayomi semua unsur kemakhlukan di bawah “atas nama Tuhan”.

Keharusan manusia menjalin hubungan dengan sesamanya, tidak harus mengesampingkan monoteisme mutlak. Tetapi melewatinya lebih dan memberikan kepada manusia kemungkinan untuk mengembangkan kebajikannya. Islam menganjurkan manusia mengutamakan hal-hal yang bersifat spiritual dan mengambil faedah secara wajar dari hasil yang ia upayakan (Al-Qashash/28: 77). Islam menetapkan nilai pribadi manusia dan menentukan batas- batasnya serta menetapkan kewajiban yang perlu demi keseimbangan antara pribadi dan lingkungannya.

Pandangan al-Qur’an terhadap Kerja

Salah satu etos yang dinamik dalam kehidupan muslim adalah etos gerak. Al-Qur’an mendorong pengikutnya untuk bergerak dan berbuat sesuatu yang baik secara aktif. Al-Qur’an melukiskan “Islam” dengan “jalan” seperti syarîî‘ah yang disebut satu kali (al-Jâtsiyah/48: 18), tharîqah yang disebut dua kali (QS.  Thâha/20: 104 dan al-Jinn/72: 16), shirâth yang diulang 45 kali (QS.Âlu ‘Imrân/3: 51), sabîl yang disebut 166 kali (QS. Yûsuf/12: 108), dan minhâj yang diulang satu kali (QS. al-Mâ’idah/5: 48). Secara umum kata tersebut  menunjuk pada makna “jalan” yang harus dilalui. Dalam hal ini, Islam adalah jalan untuk mencari tujuan hidupnya yaitu ridlâ Ilâhi.

Islam yang dikonotasikan dengan “jalan”, memberikan gambaran bahwa ajarannya adalah ajaran dinamis, bergerak, dan berubah menuju kesempurnaan sesuai dengan yang dicita- citakan. Orang Islam yang berjalan di atas jalan tersebut lazimnya bergerak, dinamis, dan aktif. Al-Qur’an menyalahkan kondisi yang dialami oleh seseorang yang tidak menguntungkan, kacuali setelah dia berusaha mencari kondisi yang diprediksikan lebih menguntungkan. Bagi orang yang mencari perubahan, Allah menjanjikan kemudahan dan keleluasaan sebagai apresiasi atas usahanya. Dengan demikian, seorang muslim tidak dibenarkan bersikap pasif dan menyerah pada satu keadaan yang membuatnya tidak dapat berbuat yang positif, baik terhadap dirinya, keluarga, maupun sosialnya.

Nilai Kerja

Islam memberikan penilaian yang tinggi terhadap kerja dan usaha manusia, karena kerja merupakan pokok penyangga keberlangsungan hidupnya. Baik secara individu maupun sosial, baik secara biologis maupun fisiologis. Secara biologis, manusia harus mengupayakan materi untuk pemenuhan hajat tersebut sehingga dapat membangkitkan gairah hidup secara kemakhlukan. Secara fisiologis, manusia harus mencari nilai yang ada di balik materi yang ditangkap oleh visual inderanya. Nilai tersebut tidak akan didapat tanpa kerja. Dalam pandangan fuqahâ’, kerja dikategorikan sebagai kewajiban individu (فرض عين) yang di atasnya ditunaikan kewajiban kolektif (فرض كفاية). Hal ini karena kebutuhan kolektif tidak akan terpenuhi sebelum kebutuhan individu tercukupi. Logika ini diformulasikan dalam sebuah kaidah bahwa, setiap yang mengantarkan pada tercapainya suatu kebutuhan, maka sesuatu itu lebih awal dibutuhkan keberadaannya.

Kata syarî‘ah yang berarti jalan, sebagai simbol bahwa manusia dalam melaksanakan pengabdian kepada Tuhan, tidak lepas dari usaha, baik berupa fisik maupun non fisik. Kedua-duanya dibangun di atas prestasi kerja. Ibadah yang sepintas bersifat fisik, bukan berarti tidak membutuhkan materi. Orang dapat melaksanakan shalat dengan tenang, jika seluruh tanggungannya telah terpenuhi, baik terhadap dirinya maupun orang lain yang menjadi tanggungannya. Terlebih ibadah yang secara lahir memang telah dibutuhkan materi, secara mutlak manusia harus bekerja untuk mendapatkan kekayaan.

Dalam dunia ekonomi, nilai kerja  berpengaruh pada nilai barang, yang mempengaruhi harga yang harus diganti oleh konsumen. Ibn Khaldûn membahas nilai kerja, dikaitkan dengan konsep penghasilan, keuntungan, kebutuhan, laba, hak milik, dan modal yang dikaitkan dengan penghidupan (‘aisy dan ma’âsyî) manusia sebagai khalifah Allah di bumi. Perwujudan peranan manusia dalam mengelola alam menghasilkan nilai tertentu, yaitu nilai yang ditimbulkan oleh hasil kerja.

Oleh Ahmad Munir [Dosen Ushuluddin STAIN Ponorogo]

Bahan Bacaan

Madjid Fakhri, Etika Dalam Islam, Terj. Zakiyuddin Baidhawy, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996)

Marcel A. Boisard, Humanisme Dalam Islam, Terj. M. Rasjidi, (Jakarta: Bulan Bintang, 1980)

Nurcholish Madjid, Pintu-Pintu Menuju Tuhan, (Jakarta: Paramadina, 2002)

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2003)

Al-Sayyid Ahmad Al-Makhzanjî, Al-Zakât wa Tanmiyah al-Mujtama‘, (Makkah al-Mukarramah: Râbithah al-Âlam al-Islâmî, 1419 H)

‘Îsâ  ‘Abduh dan Ahmad Ismâ‘îl Yahyâ, Al-‘Amal fî al-Islâm, (Kairo: Dâr al-Ma‘ârif, tt)

Abd al-Rahmân Ibn Khaldûn, Muqaddimah ibn Khaldûn, (Beirût: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1993)

Komentar
Memuat...