Teori Tentang Etika

0 213

Teori Tentang Etika. Teori Prinsip Tentang Etika – Ketika kita berbicara etika, secara sederhana barangkali yang akan dibicarakan adalah mengenai benar dan salah atau hak dan kewajiban secara moral (akhlaq). Meskipun begitu, teori tentang etika secara khusus dapat pula dikaitkan dengan seni pergaulan manusia. Etika kemudian dipersamakan dalam bentuk aturan (code) tertulis secara sistematik yang sengaja dibuat berdasarkan prinsip- prinsip yang ada. Pada saat yang tepat dan dibutuhkan, hal ini dapat difungsikan sebagai alat untuk menghakimi segala macam tindakan yang secara umum (common sense) dinilai menyimpang dari atura (kode etik).

Etika merupakan refleksi dari apa yang disebut dengan self control. Mengapa? karena segala sesuatunya dibuat dan diterapkan dari dan untuk kepentingan kelompok sosial itu sendiri. Suatu profesi akan mendapat kepercayaan masyarakat, apabila dalam diri para profesional tersebut ada kesadaran yang kuat untuk mengindahkan etika profesinya. Hal ini tentu dibutuhkan ketika mereka ingin memberikan jasa keahlian profesinya kepada masyarakat yang membutuhkannya. Perkataan etika atau juga lazim disebut etika, memiliki makna nilai, norma, dan kaidah bagi tingkah laku manusia kea rah yang lebih baik.

Dalam perkembangannya, etika sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Ia mampu memberi orientasi baru bagaimana manusia menjalani hidupnya melalui serangkaian tindakan ataupun kegiatan sehari-hari. Artinya, etika berperan membantu manusia dalam mengambil suatu sikap dan bertindak secara tepat dalam manjalani hidup. Etika akan membantu manusia dalam mengambil keputusan tentang tindakan apa yang mesti dilakukan. Sehingga, perlu dipahami bahwa etika dapat diimplementasikan dalam segala aspek kehidupan ummat manusia.

Macam- Macam Etika

Setidaknya, terdapat dua macam etika yang harus dipahami dalam menentukan konsep baik dan buruknya perilaku manusia. Kedua macam dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. Etika deskriftif. Disebut etika deskriptif karena etika dimaksud berusaha meneropong secara kritis dan rasional mengenai sikap dan perilaku manusia. Selain itu, ia juga meneropong tentang apa yang dikejar manusia dalam hidupnya sebagai sesuatu yang bernilai. Etika deskriftif akan memberikan fakta sebagai dasar dalam mengambil keputusan tentang perilaku ataupun sikap yang hendak
  2. Etika normatif. Dinamakan normatif karena etika ini berusaha menentukan dan menetapkan berbagai sikap dan pola perilaku ideal yang seharusnya dimiliki oleh manusia sebagai sesuatu yang bernilai. Etika normatif akan memberi penilaian sekaligus memberi norma sebagai dasar dan kerangka tindakan yang akan ditingkatkan.

Bagian- Bagian Etika

Jika melihat bagaimana cara manusia mengambil suatu keputusan dan tindakan, maka etika ini akan terbagi kedalam dua bagian, yaitu:

  1. Etika individual, yaitu menyangkut segala kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya sendiri
  2. Etika sosial, yaitu berbicara mengenai kewajiban, sikap serta pola perilaku manusia sebagai anggota umat manusia.

Harus diperhatikan bahwa kedua jenis etika dimaksud tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Keduanya akan berjalan beriringan secara integral. Mengapa? karena kewajiban manusia terhadap diri sendiri sebagai individu maupun social keduanya saling berkaitan dan saling membutuhkan. Etika sosial akan berbicara tentang hubungan manusia dengan manusia, baik secara langsung maupun secara kelembagaan (keluarga, masyarakat dan negara). Etika ini juga berbicara mengenai sikap kritis terhadap pandangan- pandangan dunia dan ideologi maupun tanggung jawab umat manusia terhadap lingkungan hidup. Ruang lingkup dari etika sosial tentu akan sangat luas sehingga terbagi menjadi beberapa bagian, seperti etika keluarga, profesi, politik, lingkungan, ideologi dan sebagainya.

Etika sebagai suatu ilmu, dititik beratkan pada perbuatan baik atau jahat, susila atau asusila. Perbuatan maupun kelakuan seseorang yang telah menjadi sifat atau telah mendarah daging, itulah yang kemudian disebut akhlak atau budi pekerti. Tumbuhnya budi adalah pada jiwa. Ketika sudah diimplementasikan dalam bentuk tindakan atau perbuatan, maka ia akan disebut pekerti. Jadi suatu budi pekerti penilaiannya berpangkal dari dalam jiwa. Ia kemudian berwujud berupa angan- angan, cita- cita, niat hati, dan kemudian lahir menjadi perbuatan nyata.

Baharudin Salam (2003) bahkan menyebut bahwa sesuatu perbuatan akan dinilai pada tiga tingkat, yaitu: 1) Sewaktu belum lahir menjadi perbuatan. Ia masih berupa rencana dalam hati yang dalam Bahasa kita disebut dengan niat, 2) Setelah lahir menjadi perbuatan nyata yang kemudian disebut pekerti, dan 3) Akibat atau hasil perbuatan yang pada akhirnya akan disebut dengan istilah baik atau buruk. *** N. Tati Kusmiyati

Bahan Bacaan:

Dalyono, M. 2001. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

Damsar. 2011. Pengantar Sosiologi Pendidikan. Jakarta. PT. Kencana Prenada Media Group

Mulyasa. 2011. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Hadidar Nawawi. 1983. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta. Gajah Mada University Press.

Hamzah B. Uno. 2009. Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta; Bumi Aksara

Muchlas Samani- Haryanto MS. 2012. Pendidikan Karakter. Bandung. PT Remaja Rosdakarya.

Mulyasa, Enco. 2011. Menjadi Guru Profesional. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya.

(teori tentang etika) (etika sosial)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.