Take a fresh look at your lifestyle.

Teori Kebenaran Koherensi | Epistemology Part – 6

0 171

Teori Kebenaran Koherensi. Setiap kelompok manusia selalu memiliki persyaratan yang berbeda terhadap apa yang disebut dengan kebenaran. Antara satu teori dengan teori lain, selalu berbeda dalam memahami apa yang dimaksud dengan kebenaran. Mengapa? Sebab setiap apa yang disebut benar, akan selalu bergantung terhadap sasaran objek kebenaran itu sendiri.

Dalam konteks kajian Filsafat Ilmu, untuk mengetahui apa yang disebut dengan kebenaran, serendahnya harus menganut satu di antara tiga kriteria kebenaran. Ketiga kriteria dimaksud adalah: koherensi, korenspondensi dan pragmatisme fungsional.

Ketiga teori ini, memiliki perbedaan paradigma yang cukup kental. Misalnya, teori koherensi lebih menekankan pada rasio. Korespondensi lebih menekankan pada empirisme. Mengapa? Sebab data dan fakta dianggap memiliki kebenaran objektif pada dirinya sendiri. Sedangkan kebenaran pragmatis fungsional lebih menekankan pada kebermanfaatannya bagi hajat hidup manusia.

Namun demikian, sekalipun titik tekan ketiga teori itu berbeda, harus juga diakui ada sisi persamaan di antara ketiganya. Kesamaan dimaksud terlihat dari: Pertama. Seluruh teori melibatkan logika [formal material] atau logika deduktif dan logi induktif. Kedua. Melibatkan bahasa yang memungkinkan dilakukan pengujian terhadap pernyataan-pernyataan yang hendak diuji. Ketiga. Sama-sama menggunakan atau menempatkan pengalaman pengalaman dalam kedudukan penting untuk mengetahui kebenaran. Untuk lebih jelasnya, penjelasan tentang kriteria kebenaran ini, dijelaskan sebagai berikut:

A�MengenalA�Teori Koherensi

Secara historis, teori koherensi lahir berbarengan dengan munculnya kajian metafisika idealis di Yunani Kuna. Karena itu, tidak terlalu mengherankan jika ada yang menyebut bahwa teori ini hanya berlaku di kalangan metafisika idealis dan rasional. Meski demikian, sejarah juga mencatat bahwa paradigma positivisme yang mendasarkan kebenaran pada fakta-fakta empiris, akhirnya tidak dapat mengelak atas kepentingannya untuk mengakomodasi teori ini.

Adalah Benedictus Spinoza, filosof asal Belanda dan kritikus hebat terhadap alkitab yang konsen menggunakan teori ini. Sosok ini, lahir di Amsterdam, 24 November 1632 dan meninggal di Den Haag 21 Februari 1677. Ia dikenal menjadi murid bagi Thomas Aquinas ketika mengkaji tentang matematika, fisika, mekanik, astronomi, kimia, dan obat-obatan.

Selain A�Spinoza, Teori ini juga dikembangkan Georg Wilhelm Friedrich Hegel. Filosof Jerman yang lahir 27 Agustus 1770 di Stuttgart, WA?rttemberg, Jerman dan meninggal 14 November 1831 di Berlin. Dia dikenal sebagai filosof Jerman yang mengembangkan skema dialektis yang menekankan kemajuan sejarah dan gagasan dari tesis hingga antitesis. dan berakhir di sintesis. Dalam banyak hal, Hegel dikenal juga sebagai pembangun sistem filosof agung modern. Ia mengikuti nalar Immanuel Kant, Johann Gottlieb Fichte, dan Friedrich Schelling. Ia adalah idealis mutlak yang diilhami oleh wawasan Kristen dan didasarkan pada penguasaan dana pengetahuan konkret yang fantastis. Hegel menemukan tempat bagi pengembangan logika yang lgis, sistem alami, manusia dan ilahi sekaligus.

Meskipun demikian, menurut Titus, Smith dan Nolan (1984), bibit-bibit teori ini sebenarnya sudah ada sejak era pra Socrates. Hanya saja, harus diakui jika Spinozalah yang mematangkan teori ini. Melalui Spinozalah, teori ini terus dikembangkan. Berikutnya, menurut Titus, Smith dan Nolan, teori ini dikembangkan Francois Herbert Bradly, Brand Blanshard, Edgar Sheffield Brightman dan Rudolph Carnap.

Ide Dasar Koherensi

Kelompok ini beranggapan bahwa kebenaran adalah sebuah sistem dan seperangkat proposisi yang saling berhubungan secara koheren. Sebuah pernyataan akan dianggap benar apabila pernyataan itu dapat dimasukkan (incorporated) dengan cara yang tertib dan konsisten. Oleh karena itu, suatu pernyataan dianggap benar jika pernyataan itu dilaksanakan atas pertimbangan konsistensi dan pertimbangan-pertimbangan lain yang telah diterima keberadaannya.

Logika matematika adalah bentuk pengetahuan yang digunakan dalam teori ini. Logika matematika disusun atas beberapa dasar pernyataan yang dianggap benar atau aksioma yang menghasilkan teorema. Di atas teorema ini, menurut Jujun S. Surisumantri, matematika ecara keseluruhan menjadi satu system yang konsisten. Oleh karena itu, logika yang digunakan dalam teori koherensi adalah logika deduktif yang menguji kebenaran terhadap kemungkinan adairya relasi-relasi dengan anggota lain. Logika ini memastikan bahwa simpulan itu benar jika premis-premis yang digunakannya juga benar.

Contoh sederhana dari teori ini adalah: “Semua manusia yang normal pasti akan menikah”. Pernyataan ini adalah pernyataan yang patut dianggap benar. Oleh karena itu, pernyataan yang menyebutkan bahwa Puspa adalah gadis yang normal, dan pasti ia akan menikah adalah benar pula. Sebab pernyataan kedua konsisten dengan pernyataan pertama. Sifat koheren atau konsisten dengan pertanyaan-pertanyaan sebelumnya yang dianggap benar, dengan demikian menjadi sangat khas dari teori kebenaran ini. Prof. Cecep Sumarna –bersambung

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar