Teori Kebenaran Korespondensi | Epistemology Part – 7

0 60

Teori Kebenaran Korespondensi. Jika teori koherensi dianut kaum metafisikus-rasionalis, maka teori korespondensi dianut kaum realis. Sering juga disebut diikuti kaum empirisme. Kebenaran, menurut kelompok ini adalah kesetiaan terhadap realitas objektif (fidelity to objective reality). Kebenaran ini, selalu menuntut adanya kesesuaian antara pernyataan pertimbangan (judgement)Ai??fakta, dengan situasi yang dilukiskan oleh pertimbangan itu sendiri.

Dalam anggapan teori ini, pernyataan baru dianggap benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu ber-korespondensi (berhubungan) dengan objek yang dituju. Jika seseorang menyatakan bahwa BJ. Habibie adalah Presiden Republik Indonesia yang ketiga, posisinya menggantikan Soeharto, maka pernyataan ini adalah benar sesuai dengan objek factual. Andaikan ada pernyataan yang menyebutkan bahwa B.J. Habibie adalah presiden pertama, maka pernyataan itu salah, sebab, pernyataan itu tidak sesuai dengan realitas dan fakta. Mengapa? Sebab presiden pertama RI tentu saja adalah Ir. Soekarno.

Teori ini sama seperti teori sebelumnya yang mulai berkembang sejak jaman Yunani Kuna. Jika pada teori koherensi mulai ada sejak Socrates, maka teori ini baru rmrncul ketika Aristoteles mencetuskan adanya keharusan bagi sebuah kebenaran dengan landasan dan pertimbangan fakta empiris. Pemikiran Aristoteles ini kemudian dikembangkan oleh tokoh semacam Ibnu Sina dan Thomas Aquinas di abad skolastik dengan merumuskan teorinya pada apa yang disebut dengan “teori kememadaian”.

Kebenaran Harus Memadai

Kelompok ini beranggapan bahwa suatu kebenaran itu baru diakui jika kebenaran itu dirumuskan dengan adanya kememadaian pikiran atas bendanya (edaequntio intelectus et rex). Kebenaran dengan demikian, tidak hanya melekat di dalam inteiek tetapi ia juga melekat di dalam benda-benda. Secara sederhana dapat disebutkan bahwa teori ini menganggap suatu pemyataan itu benar jika berkorespondensi dengan realitas. Apabila sebuah gagasan selaras dengan pasangannya (counterpart) dalam dunia realitas, maka gagasan itu menjadi benar.

Teori korespondensi sebagai salah satu teori kebenaran jelas dipakai dalam cara berpikir ilmiah. Penalaran teoritis yang mendasarkan diri pada logika deduksi jelas mempergunakan teori koherensi, sedangkan logika induksi menggunakan teori korespondensi. Fakta dianggap kelompok ini sebagai sesuatu.yang netral.

Fakta yang benar, juga tidak salah. Letak kemungkinan salah atau benar bukan pada fakta, tetapi pada gagasan, pemyataan dan keyakinan adalah tidak cukup untuk meyakinkan kebenaran, tetapi butuh dibuktikan dengan meneliti apakah terdapat hubungan (koresponden) antara dunia idea dengan dunia nyata (fakta) yang mereka cerminkan. Kebenaran adalah sejumlah keyakinan rasional yang menggambarkan atau mengidentikkan dengan unsur- unsur dan struktur alam semesta.

Teori ini menurut Titus dan Nolan (1984) mengasumsikan bahwa: “pengetahuan kita bukan saja atas pertimbangan diri sendiri, tetapi ia harus didukung oleh keadaan nyata di samping pengalaman”. Bahkan secara ektrem, kelompok ini menganggap bahwa tanpa campur tangan akal (rasio), dunia telah dapat dipersepsi secara benar sebab dunia adalah sesuatu yang universal. Prof. Cecep Sumarna –bersambung

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.