Teori Pengetahuan| Filsafat Ilmu Part – 4

Teori Pengetahuan Filsafat Ilmu Part - 4
0 3.236

Teori pengetahuan adalah cabang dari filsafat ilmu yang membicarakan atau mengkaji tentang cara memperoleh pengetahuan. Cabang ini sering disebut epistemologi. Epistemologi umumnya membicarakan tentang hakikat pengetahuan, yaitu apa sesungguhnya yang dimaksud dengan pengetahuan.

Dalam bidang ini, dikaji soal sumber pengetahuan dan bagaimana manusia (bersifat metodologis) memperoleh pengetahuan serta norma berpikir seperti apa yang dimungkinkan dapat melahirkan atau dapat memperoleh dan membentuk pengetahuan yang benar. Oleh karena itu, tidak salah juga jika ada yang menyatakan bahwa logika adalah ilmu pengetahuan (science), sekaligus juga keterampilan (act) untuk berpikir lurus, cepat dan teratur (Ahmad Tafsir, 1998: 34-35).

Teori Nilai

Teori ini adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang orientasi atau nilai suatu pengetahuan. Cabang filsafat ini sering disebut sebagai axiologi. Cabang ini dapat menjadi sarana orientasi manusia dalam menjawab suatu pertanyaan yang amat fundamental yakni bagaimana manusia harus hidup dan bertindak berdasarkan nilai yang dianggap benar baik dalam perspektif masyarakat maupun dalam perspektif agama. Untuk itu, para ilmuwan membagi bidang ini pada apa yang disebut dengan etika dan estetika.

Etika membicarakan tentang baik dan buruk dilihat dalam perspektif yang luas. Sedangkan estetika berbicara tentang indah tidak indah, nikmat dan tidak nikmat, membahagiakan dan tidak membahagiakan. Estetika sering terkait dengan bidang kesenian, meski tidak identik dengan kesenian (Frans Magnin Suserio, 19887: 13-15).

Objek Kerja Filsafat Ilmu

Penjelasan tentang makna filsafat, ciri dan karakter berpikir filosofis di atas, lalu apa hubungannya dengan filsafat ilmu? Filsafat ilmu adalah cabang dari ilmu filsafat. Ilmu ini hendak mengkaji ilmu dari sisi kefilsafatan yakni untuk memberikan jawaban terhadap sejumlah pertanyaan menyangkut apa itu ilmu (dijawab oleh ontology), bagaimana ilmu diperoleh (dijawab oleh epistemologi) dan untuk apa ilmu itu dilahirkan (dijawab oleh aksiologi).

Filsafat ilmu diperkirakan lahir pada abad ke 18 Masehi. Orang mentahbiskan Immanuel Kant sebagai pendiri lahirnya Filsafat Ilmu. Alasan penyebutan tokoh ini sebagai pendiri Filsafat Ilmu dilatari oleh suatu asumsi yang menyebutkan bahwa filsafat merupakan disiplin ilmu yang mampu menunjukkan batas-batas dan ruang lingkup pengetahuan manusia secara tepat.

Sejak itu, refleksi filsafat mengenai pengetahuan menjadi menarik perhatian uniat manusia, sebab ilmu tidak lagi terjun bebas dengan paradigma positivismenya. Ilmu mulai dikawal oleh aspek-aspek aksiologis. Bukti penting dari telah lahirnya filsafat ilmu pada abad ke-18 itu adalah, di Eropa telah lahir filsafat yang disebut filsafat pengetahuan (theori of knowledge, Erkenistlehre, kennesler, atau epistemologi) di mana logika, filsafat bahasa, matematika, metodologi dan nilai guna keilmuan menjadi landasan utama dalam melahirkan ilmu.

Perlu dicatatkan bahwa pada abad ke-18 dan apalagi sebelumnya, secara praksis ciri khas ilmu yang berkembang pada abad itu, cenderung bersifat positivistik. Dengan demikian, lahirnya filsafat ilmu dapat dipandang sebagai respon sekaligus antitesis dari corak keilmuan yang sebelumnya saya sebut positivistik.

Ciri menonjol dari gejala filsafat yang positivistik adalah terabaikannya sesuatu yang bersifat beyond. Penalaran yang empirik sekaligus rasional tidak mampu memberikan jawaban terhadap apa yang dibutuhkan aspek yang beyond tadi. Oleh karena itu, eksistensi Tuhan yang kehadiran-Nya di balik yang fisik, otomatis dianggap tidak ada.

Filosof dan saintis yang positivistik, menyebut beberapa argumentasi yang menunjukkan keberatan akan eksistensi Tuhan. Di antara argumentasi dimaksud adalah: pertama, perbincangan akan eksistensi Tuhan yang saya sebut beyond adalah sesuatu yang non sence. Kenapa demikian? Manusia dengan berbagai kemampuannya dapat menafikan Tuhan karena manusia dapat berbuat apa saja tanpa Tuhan. Kedua, mereka yang mengklaim bahwa percaya kepada Tuhan adalah sikap diri yang inkonsisten dan tidak memiliki logika yang lurus.

Contohnya, banyak ahli teologi yang yakin bahwa Tuhan itu ada, tetapi ia tidak memiliki tubuh. Sehingga bagaimana meyakini sesuatu itu ada, padahal yang dimaksud Adanya itu tidak memiliki tubuh. Oleh karena itu, argumentasi yang ketiga, percaya kepada Tuhan persis seperti orang yakin akan adanya Syeitan atau Malaikat yang adanya hanya diyakini dan tidak mungkin dapat dibuktikan. Manusia bukan saja dapat mengalahkan Syeitan, tetapi manusia juga dapat membunuhnya.

Mulai Tumbuhnya Filsafat Ateistik

Pemikiran yang secara eksplisit ateistik, diawali tokoh- tokoh dan filosof akhir abad pertengahan. Sebut saja filosof dimaksud adalah: John Lock dan David Hume. Dua tokoh ini dapat disebut sebagai tokoh kunci yang meyakini bahwa eksistensi sesuatu itu harus dapat dibuktikan secara empirik dan dapat diterima secara akal. Dua filosof ini menjadi pelekat dasar teori empirisme dan rasionalisme yang menjadi bangunan ilmu pengetahuan modern. Sesuatu yang berada di luar dua jangkauan nalar. Sesuatu yang berada di luar dua jangkauan tadi, menurut Lock dan Hume harus berani ditolak.

Atas pemikiran dua filosof tadi, bagaimana Tuhan yang berada di luar kategori historis manusia dapat diyakini benar adanya? Alat bukti apa yang kuat untuk menunjukkan bahwa Tuhan itu memang benar-benar ada? Jika penalaran logika dan empirisme yang dipakai, maka konsekwensinya memang Tuhan itu tidak ada. Kenapa demikian? Sebab Tuhan tidak berwujud dan tidak mewujudkan dirinya seperti wujudnya manusia da lam perspektif manusia.

Pemikiran ini juga telah menjadi landasan yang kokoh bagi munculnya pemikiran dialektis, di mana sesuatu itu menjadi eksis karena ada sesuatu yang mendahului. Dalam istilah lain sering juga diistilahkan dengan sebutan prima kausa. Pendapat- pendapat tadi secara pribadi tidak dapat difahami melalui pemahaman saya dan intelektualitas saya. Saya tidak percaya pada sebuah kewajiban yang mesti harus pasti. Karena keimanan saya.

Upaya Sintetik dalam Filsafat

Upaya sintetik dimaksud ternyata belum sepenuhnya berhasil. Bahkan dalam banyak hal, basis keilmuan Barat semakin positivistik kalau bukan ateistik. Dalam banyak hal, filsafat ilmu yang positivistik ini bertahan dan sulit tergoyahkan bahkan terlalu kokoh untuk dikoreksi dalam durasi waktu yang lama. Baru pada tahun 1960-an, corak filsafat ilmu yang sintetik (gabungan antara paradigma empirik-rasional sensual) dengan paradigma intuisi/wahyu mulai memperlihatkan tanda-tanda keberhasilannya, metodologi pengembangan ilmu yang sebelumnya positivistic tadi, juga mengalarpi perkembangan kalau bukan perubahan.

Pacia paruh abad kedua puluh, mulai diperkenalkan istilah baru, yakni: post positivisme, post modernisme dan post paradigmatik. Jika pada abad ke-18 filsafat ilmu yang positivistik lebih menggunakan paradigma ilmu-ilmu kealaman, sehingga kebenaran hanya diakui jika empirik-rasional sensual, maka pada era post modernisme, filsafat ilmu lebih menggunakan positivisme linguistik dan positivisme fungsional yang berupaya mencari makna di balik yang empirik-rasional sensual.

Post positivisme atau apapun istilah sejenis dengannya, menuntut sebuah keyakinan pada sesuatu yang sebelumnya, di era positivisme, dihilangkan, yakni kepereayaan pada sesuatu yang fisik. Pendapat ini setidaknya diwakili oleh Alvin Plantinga, teolog sekaligus filosof Kristen Barat Modern yang menyebut bahwa kepereayaan kepada adanya Tuhan dan keyakinan pada eksistensinya harus menjadi jantung sikap hidup manusia.

Tulisan Alvin Plantinga (1983: 16-90) ini tampaknya dimaksudkan untuk memberikan jawaban atas pertanyaan: Dapatkah manusia menerima eksistensi Tuhan dengan keimanan semata tanpa pertimbangan rasionalitas? Pertanyaan ini dimunculkan sebagai jawaban atas perkembangan asumsi di kalangan filosof positivis bahwa eksistensi Tuhan harus diyakini dengan penalaran ilmiah (akal) dan dapat dibuktikan secara empiris. Atas masalah seperti ini, Alvin Plantinga kemudian memberikan pertanyaan tambahan: apakah orang yang percaya kepada Tuhan berarti telah melakukan pertentangan dengan akal? Atau apakah percaya akan adanya dan eksistensi Tuhan ia dapat disebut sebagai orang yang irasional ?

Untuk memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dia munculkan itu, Alvin Plantinga kemudian merumuskan jawaban dengan menggunakan paradigma berpikir seperti yang dipakai para pemikir dan ahli teologi Calvinis yang sering diakui sebagai aliran yang sangat rasional. Dalam ajaran agama ini disebutkan bahwa terlalu banyak argumentasi ilmiah yang cocok untuk menyebut adanya eksitensi Tuhan termasuk kenapa manusia mesti mengimani- Nya.

Namun demikian, sebagai seorang pemikir yang netral, Alvin Plantinga tampaknya ingin mencoba mengeksplorasi pemikiran tentang ketuhanan dalam sudut yang beragam. Ia mencoba sebisa mungkin untuk tetap netral dengan mengajukan beberapa argumentasi kenapa banyak orang tidak yakin akan eksistensi Tuhan. Inilah hasil analisis dan kajiannya.

Alvin Plantinga menyebut beberapa tokoh dan filosof modern yang banyak mengajukan keberatan terhadap eksistensi Tuhan. Di antara tokoh yang disebut itu adalah: W.K. Clifford, Brand Blanshard Russell, Michael Scriven dan Anthony Flew. Nama-nama dimaksud menurutnya adalah termasuk di antara filosof yang memberikan argumentasi bahwa percaya kepada Tuhan adalah sesuatu yang irasional dan tidak dapat diterima oleh akal pikiran yang sehat. Russel misalnys menyatakan bahwa Tuhan itu ada. Keyakinan pada eksistensi Tuhan adalah

Filsafat dalam Nalar Filosof

Pemikiran filosof di atas, Alvin Plantinga kemudian memberikan pertanyaan: Bagaimanakah kita menafsirkan kepercayaan kepada Tuhan? Sub judul ini dimaksudkannya untuk membuat second opinion terhadap pemikiran filosofis para filosof tadi yang perkembangannya sangat cepat dan merembes ke berbagai soal kehidupan umat dan cenderung mengalahkan teori teosofi dan sekaligus teologis seperti dibangun kaum beriman dan para teolognya.

Alvin Plantinga kemudian berpendapat bahwa Tuhan adalah Dzat yang ada-Nya tanpa mulai. Sebab jika kehadiran Tuhan diawali oleh sesuatu yang tidak ada, maka bukan saja ia sama dengan makhluk, tetapi ia tidak mungkin menciptakan alam yang demikian besar. Alam yang demikian besar tidak mungkin diciptakan oleh sesuatu yang kehadirannya tidak ajaib. la juga menyebut bahwa Tuhan adalah Dzat yang Maha Bijaksana, adil dan berpengetahuan. Atas sifatnya yang demikian, Tuhan mampu menciptakan keselarasan dalam dunia yang dibangun-Nya dengan dunia yang demikian besar.

Menurutnya, tidak mungkin alam ini berjalan dan berkembang secara teratur tanpa ada suatu Dzat yang bijaksana, adil dan berpengetahuan. Keteraturan alam (teleleogis) terjadi pasti karena ada Dzat yang mencipatakan dan ada Dzat yang kuat untuk mengaturnya. Pemikiran yang tampak filosofis yang dimunculkan Alvin Plantinga ini, diakuinya sendiri dinukil dari keterangan kitab Suci Injil (Heb: 11: 6). Atas argumen ini, ia kemudian menyatakan bahwa wahyu Tuhan juga rasional. Termasuk dalam menunjukkan keberadaan Tuhan.

Para ahli teologi kontemporer Barat di bawah pengaruh Immanuel Kant telah menarik akan keyakinan pada Tuhan dengan sesuatu yang sangat innate, idea atau sebuah penafsiran yang terbentuk konstruk mental. Gondon Kaufman seorang ahli teologi berkebangsaan Amerika misalnya, ia kutif untuk kepentingan pembuktian teorinya itu. Kaufman misalnya menyebut bahwa: perbicangan tentang eksistensi Tuhan menarik berbagai kalangan dalam waktu yang cukup panjang.

Kaufman juga menyebutkan bahwa, jangankan eksitensi Tuhan, kata Tuhan sendiri sebenamya telah muncul sebagai problem khusus sebab ia harus ditafsirkan dari sesuatu yang transenden kepada sesuatu yang prophan (dengan ciri bertempat dan berpengalaman), Pemikiran Kaufman ini, dianggap Alvin Plantinga persis seperti pemikiran Kant yang menarik soal ketuhanan dari sebelumnya yang transenden kepada sesuatu yang duniawi bendawi. Pemikiran yang demikian, diakui Alvin Plantinga diamini oleh tokoh setingkat Prof. John Hick yang menganggap bahwa perbincangan tentang Tuhan akan mencorong orang para sikap mental yang imaginative.

Tugas Filsafat Ilmu itu Apa

Jika demikian kronologi sejarahnya, lalu apa itu Filsafat Ilmu? Dilihat dari objek kajiannya, Filsafat Ilmu mempersoalkan dan mengkaji segala persoalan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, fisik dan metafisik. Filsafat ilmu memfokuskan pembahasan dalam metodologi ilmu pengetahuan. Ilmu merupakan salah satu cara untuk mengetahui bagaimana budi manusia bekerja. Ilmu pengetahuan merupakan karya budi yang logis dan imajinatif sekaligus bernurani. Ilmu berfisik empiric, sistematik, observatif, dan objektif.

Filsafat ilmu bertugas membuka pikiran manusia agar mempelajari dengan serius proses logic dan imajinatif dalam cara kerja ilmu pengetahuan. Filsafat ilmu berbicara tentang metode ilmu pengetahuan, bagaimana pengembangannya dan bagaimana prinsip-pfinsip penerapannya.

Filsafat ilmu menjadi bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah) dilihat dari berbagai perspektifi merupakan cabang pengetahuan yang mempunya tertentu. Filsafat ilmu merupakan telaahan secara filsafati yang bertujuan untuk menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu seperti:

Objek apa yang ditelaah ilmu? Bagaimana wujud objek yang hakiki? Bagaimana hubungan antar objek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa, dan mengindera) yang menghasilkan ilmu pengetahuan. Jenis pertanyaan ini disebut dengan landasan ontologi.

Bagaimana proses yang memungkinkan diperolehnya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal- hal apa yang harus diperhatikan agar manusia dapat memperoleh pengetahuan yang benar? Apa yang dimaksud dengan yang benar itu? Apa kriterianya? Teknik dan sarana apa yang membantu manusia dalam memperoleh ilmu? Sumber seperti apa yang digunakan untuk mendapatkan ilmu.

Selain itu, filsafat ilmu juga membahas tentang untuk apa ilmu dikontruk? Bagaimana manusia mesti bersikap terhadap hasil tela’ahan keilmuan? Wilayah keilmuan seperti apa yang memungkinkan memberi manfaat terhadap keliidupan umat manusia. Itulah beberapa manfaat yang mungkin akan diperoleh dari pengkajian terhadap Filsafat Ilmu. So kenapa filsafat ilmu harus diabaikan? Prof. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.