Teori Perkembangan Potensi Anak

0 93

Hubungan manusia di lihat dari potensi dirinya sebagai faktor internal dengan pendidikan sebagai faktor eksternal yang akan menentukan proses jalan kehidupannya. Berikut ini adalah aliran- aliran yang menjelaskan tentang perkembangan potensi anak.

Empirisme

Teori ini menyatakan bahwa perkembangan potensi dasar manusia (anak) bergantung kepada lingkungannya. Sedangkan pembawaan tidak di anggap sebagai sesuatu yang penting. John Lock (1704-1932) mengumpamakan bahwa seorang anak lahir ke dunia bagaikan kertas putih yang bersih. Lingkungan kemudian mempengaruhi dan akan menentukan pola- pola mengenai cara pandang tertentu yang di transfer melalui pendidikan. Lingkungan sebagaimana di sebut di atas, dapat berupa lingkungan keluarga, lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat. Dengan demikian, mengacu pada teori ini, pendidikan akan berperan dalam menentukan pilihan- pilihan hidup yang akan di jalani. Berkaitan dengan hal ini, Ngalim Purwanto (2003) menyebutnya sebagai optimisme pedagogis, yaitu proses pendidikan berpeluang dalam mengembangkan potensi manusia.

Nativisme

Setiap anak dilahirkan dengan pembawaan baik dan pembawaan buruk. Tokoh dalam teori ini adalah Schopenhauer (1788-1860). Menurut teori ini, keberhasilan seseorang di sebabkan oleh adanya kemampuan yang berasal dari dalam diri manusia itu sendiri berupa kecerdasan atau kemauan keras untuk mengembangkan bakat dan kemampuan yang ada dalam dirinya. Maka, implikasinya adalah bahwa  faktor eksternal manusia, seperti keluarga, sekolah dan masyarakat tidak memiliki peran dalam menentukan dan membentuk karakter manusia. Hal ini berarti bahwa proses pendidikan (transfer pengetahuan) antara manusia dan lingkungan tidak terjadi. Mengapa? karena manusia hanya sebatas menunggu potensinya menjadi kenyataan dengan sendirinya. Berkaitan dengan aliran jenis ini, Ngalim Purwanto (2003) menyebutnya sebagai kebalikan dari aliran sebelumnya, yakni pesimisme pedagogis yang berarti proses pendidikan tidak memiliki peluang dalam mengembangkan potensi manusia.

Naturalisme

Teori ini dikembangkan oleh JJ. Rosseau (1712-1778). Ia menyatakan bahwa semua anak yang baru di lahirkan mempunyai pembawaan baik. Pembawaan baik ini akan menjadi rusak kerana di pengaruhi oleh lingkungan. Titik tekan dari teori ini adalah pada proses pengembangan potensi anak yang harus di lakukan secara alami, yakni tanpa adanya rekayasa apapun. Maka, pendidikan harus memeberikan kebebasan kepada anak dalam menentukan perkembangan potensi dirinya agar mereka tetap berada pada potensi pembawaannya, yakni potensi baik. Sebetulnya, jika di perhatikan, aliran ini sejalan dengan teori empirisme, hanya saja teori ini menganggap bahwa jika dalam aktualisasinya anak melakukan sesuatu yang buruk, hal itu tidak lebih disebabkan oleh faktor lingkungan pendidikan.

Konvergensi

Seorang anak di lahirkan ke dunia sudah di sertai dengan pembawaan baik maupun pembawaan buruk. Dalam proses perkembangannya, faktor bawaan dan lingkungan sama- sama memiliki peran yang sangat penting. Teori jenis ini di kembangkan oleh William Stern (1871-1939). Dalam pandangan teori ini, jika pendidikan yang baik telah diperoleh seseorang dan hasilnya efektif, berarti faktor internal (pembawaan baik) dan eksternal (lingkungan) saling memperkuat satu sama lain. Sebaliknya, jika pendidikan yang baik telah diperoleh seseorang dan hasilnya teryata tidak efektif, nampaknya pembawaan buruk lebih dominan. (LM)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.