Inspirasi Tanpa Batas

Teori tentang Nilai dan Penilaian atas Nilai

Teori Nilai dan Penilaian atas Nilai
0 338

Teori Nilai. Nilai religius mengandung makna sikap. Dalam Kamus Bahasa Indonesia (1985: 994), sikap diartikan dengan perbuatan yang berdasar pendirian (pendapat atau keyakinan). Sedangkan keberagamaan oleh kamus tersebut diartikan sama dengan beragama. Yakni memeluk (menjalankan), beribadat, menjalankan hidupnya menurut keyakinan agama.

Pembahasan tentang revolusi mental, sesungguhnya berbicara tentang nilai. Nilai adalah bagian dari kajian filsafat, khususnya bidang aksiologi. Pertanyaan atau pemikiran kefilsafatan yang cirinya antara lain kritis dan mendalam. Di sini dimulai dengan pertanyaan: Apakah hakikat nilai itu? Dalam berbahasa sehari-hari sering kali kita mendengar atau membaca kata penilaian, yang kata-asalnya adalah nilai. Nilai yang dalam bahasa Inggrisnya adalah value. Maknanya dapatAi??diartikan sebagai harga, penghargaan, atau taksiran. Maksudnya adalah harga yang melekat pada sesuatu atau penghargaan terhadap sesuatu.

Bambang Daroeso (1986:20) mengemukakan bahwa nilai adalah suatu kualitas atau penghargaan terhadap sesuatu, yang dapat menjadi dasar penentu tingkah laku seseorang. Darji Darmodiharjo (1995: 1) mengatakan bahwa nilai adalah kualitas atau keadaan sesuatu yang bermanfat bagi manusia, baik lahir maupun batin. Sementara itu Widjaja (1985: 155) mengemukakan bahwa menilai berati menimbang, yaitu kegiatan menghubungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain (sebagai standar), untuk selanjutnya mengambil keputusan. Keputusan itu dapat menyatakan: berguna atau tidak berguna, benar atau tidak benar, indah atau tidak indah, baik atau tidak baik dan seterusnya.

Sipat dan Karakter Nilai Hidup

Menurut Fraenkel, sebagaimana dikutip Soenarjati Moehadjir dan Cholisin (1989:25), nilai pada dasarnya disebut sebagai standar penuntun dalam menentukan sesuatu. Apakah sesuatu itu disebut baik, indah, berharga atau tidak. Frondizi (1963: 1-2) mengemukakan bahwa aksiologi adalah cabang filsafat yang berusaha menjawab pertanyaan, apakah sesuatu itu dikatakan bernilai karena memang benar-benar bernilai, atau apakah sesuatu itu karena dinilai maka menjadi bernilai ?

Di antara para ahli terdapat perbedaan pendapat tentang sifat nilai dari sesuatu, yaitu pendapat yang mengatakan bahwa nilai itu bersifat subyektif dan nilai itu bersifat obyektif. Pengertian nilai itu bersifat subyektif artinya bahwa nilai dari suatu obyek itu tergantung pada subyek yang menilainya.

Sebagai ilustrasi, pohon-pohon kelapa yang batangnya bengkok di suatu pantai sangat mungkin memiliki nilai bagi seorang seniman. Karena itu, pohon kelapa yang bengkok dianggap bernilai. Tetapi tidak bernilai bagi seorang pedagang kayu bangunan. Mengapa? Karena pohon kelapan yang bengkok, justru dapat merugikan dirinya sendiri.

Contoh lain adalah, sebuah bangunan tua warisan zaman Belanda yang sudah keropos sangat mungkin memiliki nilai bagi sejarawan. Karena ia merupakan warisan budaya yang tidak dapat dinilai dibandingkan dengan bangunan baru. Tetapi, bangunan itu, tidak dapat dinilai bagi orang lain yang bukan merupakan ahli sosial budaya. Demikian halnya bagi orang lain.

Nilai Itu Subjektif

Pandangan yang menyatakan bahwa nilai itu subyektif, sifatnya antara lain dianut oleh Bertens (1993: 140-141), yang mengatakan bahwa nilai berperanan dalam suasana apresiasi. Penilaian akan berakibat pada suatu obyek akan dinilai secara berbeda oleh berbagai orang. Untuk memahami tentang nilai, ia membandingkannya dengan fakta.

Bertens mengilustrasi dengan obyek peristiwa letusan sebuah gunung pada suatu saat tertentu. Hal itu dapat dipandang sebagai suatu fakta, yang oleh para ahli dapat digambarkan secara obyektif. Misalnya para ahli dapat mengukur tingginya awan panas yang keluar dari kawah, kekuatan gempa yang menyertai letusan itu, jangka waktu antara setiap letusan dan sebagainya. Selanjutnya bersamaan dengan itu, obyek peristiwa tersebut dapat dipandang sebagai nilai.

Bagi wartawan foto, peristiwa letusan gunung tersebut merupakan kesempatan emas untuk mengabadikan kejadian yang langka dan tidak mudah disaksikan oleh setiap orang. Sementara itu bagi petani di sekitarnya, letusan gunung yang debu panasnya menerjang tanaman petani yang hasilnya hampir dipanen, peristiwa itu dipandang sebagai musibah (catatan : ilustrasi yang dicontohkan oleh Bertens tersebut sesungguhnya masih dapat dikritisi, sebab di situ tidak dibedakan antara peristiwa letusan gunung itu sendiri dengan akibat dari letusan gunung).

Ciri Nilai

Berdasarkan ilustrasi tersebut, Bertens menyimpulkan bahwa nilai memiliki sekurang-kurangnya tiga ciri., pertama nilai berkaitan dengan subyek. Kalau tidak ada subyek yang menilai, maka juga tidak ada nilai. Kedua, nilai tampil dalam suatu konteks praktis, dimana subyek ingin membuat sesuatu. Dalam pendekatan yang semata-mata teoritis, tidak akan ada nilai.

Dalam hal ini ia mengajukan pertanyaan kepada pandangan idealis, apakah pendekatan yang murni teoritis dapat diwujudkan? Ketiga, nilai menyangkut sifat-sifat yang ai???ditambahai??? oleh subyek pada sifat-sifat yang dimiliki oleh obyek. Nilai tidak dimiliki oleh obyek pada dirinya.

Sementara itu menurut para filsuf pada zamanYunani Kuno, seperti Plato dan Aristoles, nilai itu bersifat obyektif. Artinya, nilai suatu obyek itu melekat pada obyeknya dan tidak tergantung pada subyek yang menilainya. Menurut Plato, dunia konsep, dunia ide, dan dunia nilai merupakan dunia yang senyatanya dan tetap.

Menurut Brandt, sebagaimana dikutip oleh T. Sulistyono (1995: 14), sifat kekekalan itu melekat pada nilai. Demikian pula pandangan tokoh-tokoh aliran Realisme Modern, seperti Spoulding, hakikat nilai lebih utama dari pada pemahaman psikologis. Pemahaman manusia terhadap suatu obyek hanyalah merupakan bagian dari dunia pengalamannya, yang tidak jarang saling bertentangan serta tidak konsisten. Berbeda dengan manusia yang sifatnya ai???tergantung ai???, maka subsistensi nilai itu bebas dari pemahaman maupun interes manusia.

Menghadapi kontroversi pemahaman tentang nilai ini, maka dipihak lain dikenal adanya penggolongan nilai intrinsik dan nilai intrumental. Meskipun telah dibahas seebelumnya, tapi di sini masih perlu dikemukakan pertanyaan, adakah sesuatu yang bernilai, meskipun tidak ada orang yang memberi nilai kepadanya?

Ini berarti, apakah nilai itu terkandung di dalam obyeknya ? Sementara pertanyaan lain, apakah nilai itu merupakan kualitas obyek yang diberikan oleh subyek yang memberinya nilai ? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, Kattsoff (1996: 328-329) memberikan ilustrasi tentang nilai sebuah pisau. Apakah suatu pisau dikatakan baik, karena memiliki kualitas pengirisan atau kualitas ketajaman di dalam dirinya? Atau, apakah suatu pisau saya katakan baik, karena dapat saya gunakan untuk mengiris? Terhadap pertanyaan pertama, jika jawabannya ai???yaai???, maka inilah yang disebut nilai instrinsik.

Terhadap pertanyaan kedua, jika jawabannya ai???yaai???, maka inilah yang disebut nilai instrumental. Diskusi ini masih bisa berlanjut, sebab dalam kenyataannya ada sesuatu yang diinginkan orang.

Nilai dan Pandangan Keagamaan

Secara bahasa, kata religiusitas adalah kata kerja yang berasal dari kata benda religion.Religi itu sendiri berasal dari kata re dan ligare artinya menghubungkan kembali yang telah putus, yaitu menghubungkan kembali tali hubungan antara Tuhan dan manusia yang telah terputus oleh dosa-dosanya (Arifin dalam Rohilah 2010). Menurut Gazalba (Rohilah, 2010), kata religi berasal dari bahasa latinreligio yang berasal dari akar kata religare yang berarti mengikat.

Religi adalah kecenderungan rohani manusia untuk berhubungan dengan alam semesta, nilai yang meliputi segalanya, makna yang terakhir, dan hakekat dari semuanya.Sedangkan Sarwono (2006) mendefinisikan religi sebagai suatu kepercayaan terhadap kekuasaan suatu zat yang mengatur alam semesta ini. Istilah religiusitas menunjukkan pada aspek religi yang telah dihayati oleh individu dalam hatinya (Mangunwijaya dalam Sudrajat, 2010).

Dister (Sudrajat, 2010) menyatakan bahwa di dalam religiusitas terdapat unsur internalisasi agama dalam diri individu. Definisi lain menyatakan bahwa religiusitas merupakan perilaku terhadap agama yang berupa penghayatan terhadap nilai-nilai agama yang dapat ditandai tidak hanya melalui ketaatan dalam menjalankan ibadah ritual tetapi juga dengan adanya keyakinan, pengalaman, dan pengetahuan mengenai agama yang dianutnya. (Ancok dan Suroso, 2008)

Glock dan Poluitzian (Sudrajat, 2010), menyebut bahwa religiusitas merupakan sebuah komitemen beragama yang dijadikan sebagai landasan beragama, apa yang dilakukan seseorang sebagai bagian dari kepercayaan, bagaimana emosi atau pengalaman yang disadari seseorang tercakup dalam agamanya, dan bagaimana seseorang hidup dan terpengaruh berdasarkan agama yang dianutnya. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...