Teori tentang Sikap dan Model Pembentukan Sikap

Teori tentang Sikap dan Model Pembentukan Sikap
0 10.192

Teori tentang Sikap. Sikap merupakan pembawaan yang dapat dipelajari dan dapat mempengaruhi perilaku seseorang terhadap benda, kejadian-kejadian atau makhluk hidup lainnya. Sekelompok sikap yang penting ialah sikap kita terhadap orang lain (Dahar, 2011: 123).

Definisi tentang Sikap

Bebebrapa definisi tentang Sikap menurut Para ahli diantaranya:

Definisi tentang Sikap Louis Thurstone, Rensis Likert, dan Charles Osgood.

Mereka mendefiniskan sikap sebagai suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan (Azwar, 1995:4). Secara lebih spesifik, Thurstone (dalam Azwar, 1995:5) memformulasikan sikap sebagai derajat afek positif atau afek negatif terhadap suatu objek psikologis. Pendapat serupa diungkapkan oleh ahli psikologi lain seperti Berkowitz.Berkowitz (dalam Azwar, 1995:5). Ia mengatakan bahwa sikap seseorang terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable) pada objek tersebut.

Definisi tentang Sikap Lapiere (dalam Azwar, 1995:5)

Lapiere mendefinisikan sikap sebagai suatu pola perilaku, tendensi atau kesiapan antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial. Sedengakan Allport (dalam Sears, D, O., Freedman, J, L., & Peplau, L, A., 1985:137) mengemukakan bahwa sikap adalah keadaan mental dan syaraf dari kesiapan, yang diatur melalui pengalaman yang memberikan pengaruh dinamik atau berarah terhadap respon individu pada semua objek dan situasi yang berkaitan dengannya. Hal serupa diungkapkan oleh Gagne (dalam Abror, 1993:108) bahwa sikap merupakan keadaan kesiapan mental dan susunan syaraf, yang mempengaruhi atau yang dinamis terhadap respon individu atas semua obyek atau situasi yang berhubungan.

Definisi tentang Sikap Menurut Calhoun

Menurut Calhoun (1990:315) sikap adalah sekelompok keyakinan dan perasaan yang melekat tentang objek tertentu dan kecenderungan untuk bertindak terhadap objek tersebut dengan cara tertentu. Thurston (1993) sikap itu dipengaruhi oleh piskologis secara objektif. Sedangkan Thomas dan Znaniecki (dalam Ramdhani, 2009) merumuskan sikap sebagai predisposisi untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perilaku tertentu.

Dalam arti yang sempit sikap adalah pandangan atau kecenderungan mental. Menurut Bruno (1987) sikap (attitude)adalah kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu (Syah. 2005:120).

Sikap biasanya identik dengan

sifat. Banyak persepsi yang menyamakan antara sikap dengan sifat. Menurut Allport yang dikutip oleh Sumadi Suryabrata (2006:209) persamaan antara sikap dengan sifat adalah predisponsisi untuk berespon, kedua-duanya adalah khas, kedua-duanya dapat memulai atau membimbing tingkah laku; kedua-duanya adalah faktor genetis dan belajar.

Namun jika diteliti ada juga perbedaan antara kedua hal tersebut seperti sikap (attitude) berhubungan dengan suatu obyek, sedangkan sifat (trait) tidak. Jadi sikap itu lebih sempit dari pada sifat. Dan sifat itu biasanya memberikan penilaian (menerima atau menolak) terhadap obyek yang dihadapi.

Dengan demikian pada prinsipnya sikap itu dapat kita anggap suatu kecenderungan siswa untuk bertindak dengan cara tertentu. Dalam hal ini, perwujudan perilaku belajar siswa akan ditandai dengan munculnya kecenderungan-kecenderungan baru yang telah berubah, terhadap suatu objek, tata nilai, peristiwa dan sebagainya.

Faktor-faktor yang menyebabkan perubahan sikap:

  1. Faktor intern, yaitu faktor yang terdapat dalam pribadi manusia itu sendiri. Berupa selektifitas atau daya pilih seseorang untuk menerima dan mengolah pengaruh-pengaruh dari luar dirinya. pilihan tersebut berhubungan erat dengan motif-motif dan attitude-attitude di dalam diri pada waktu tersebut. Disesuaikan dengan motif, minat, dan perhatiannya.
  2. Faktor ekstern, yaitu faktor yang terdapat di luar pribadi manusia. Berupa interaksi sosial di luar kelompok dengan hasil kebudayaan manusia. Biasanya melalui media komunikasi (massa). Pembentukan dan perubahan sikap terjadi dengan sendirinya.

Dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang dapat merubah sikap seseorang. Yaitu selain dari dalam pribadi manusia itu sendiri tetapi juga faktor dari luar seperti lingkungan sekitar dengan melalui interaksi sosial, pergaulan, serta kebudayaan.

Model Pembentukan Sikap

Dalam pembahasan terdahulu telah dikatakan bahwa sikap terdiri atas tiga komponen yang saling menunjang. Tiga komponen tersebut yaitu: komponen kognitif (cognitive), komponen afektif (affektive) dan komponen konatif (conative). Ketiga komponen inilah yang dalam Saefuddin Azwar (1995: 23) dikatakan sebagai struktur pembentuk sikap. Adapun penjelasan ketiganya menurut Azwar (1995: 24) adalah sebagai berikut: Komponen kognitif berisi persepsi, kepercayaan, dan stereotipe yang dimiliki individu mengenai sesuatu. Maksudnya, komponen kognitif berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar mengenai objek sikap. Sementara kepercayaan sendiri berasal dari apa yang kita lihat atau kita ketahui. Berdasarkan dari apa yang kita lihat dan ketahui itulah kemudian terbentuk ide, gagasan, atau persepsi kita terhadap sifat dan karakteristik suatu objek. Sekali kepercayaan itu terbentuk, maka ia akan menjadi dasar pengetahuan seseorang mengenai apa yang dapat diharapkan dari objek tertentu.

Azwar (1995: 22-26) menjelakan lebih lanjut bahwa kepercayaan sebagai komponen kognitif tidak selalu akurat. Karena terkadang kepercayaan itu terbentuk justru dikarenakan kurang atau tiadanya informasi yang benar terhadap obyek yang dihadapi. Komponen afektif merupakan perasaan individu terhadap objek sikap dan menyangkut masalah emosional subjektif seseorang terhadap suatu objek sikap. Secara umum komponen ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu. Namun, pengertian perasaan pribadi seringkali sangat berbeda perwujudannya bila dikaitkan dengan sikap. Pada umumnya reaksi emosional yang merupakan komponen afektif, dipengaruhi kuat oleh kepercayaan yang merupakan komponen kognitif.

Komponen kognitif atau yang dianggap juga sebagai komponen perilaku menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya. Pengertian kecenderungan berperilaku menunjukkan bahwa komponen konatif meliputi bentuk perilaku yang tidak hanya dapat dilihat secara langsung saja, akan tetapi meliputi pula bentuk perilaku yang berupa pernyataan atau perkataan yang diucapkan oleh seseorang. Dalam interaksi sosialnya, individu bereaksi membentuk pola sikap tertentu terhadap berbagai objek psikologi yang dihadapinya.

 Faktor Yang Mempengaruhi Sikap Menurut Saefuddin Azwar

Diantara beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap menurut Saefuddin Azwar (1997: 30-38) adalah pengalaman pribadi, kebudayaan, orang lain yang dianggap penting, media massa, institusi atau lembaga pendidikan, serta faktor emosi dalam diri individu. Berikut sedikit penjelasan mengenai bebrapa faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap manusia:

Pengalaman Pribadi.

Apa yang telah dan sedang dialami akan ikut membentuk dan mempengaruhi penghayatan terhadap stimulus sosial. Tanggapan akan menjadi salah satu dasar terbentuknya sikap. Middlebrook dalam Saefuddin Azwar (1997: 31) mengatakan bahwa tidak adanya pengalaman sama sekali terhadap suatu objek psikologis cenderung akan membentuk sikap negatif terhadap objek tersebut. Untuk menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi haruslah meninggalkan kesan yang kuat. Sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut melibatkan faktor emosional. Dalam situasi yang melibatkan emosi, penghayatan akan pengalaman akan lebih mendalam dan lebih lama berbekas.

Pengaruh Orang Lain yang Dianggap Penting.

Orang lain di sekitar kita merupakan salah satu diantara komponen sosial yang ikut mempengaruhi sikap manusia. Individu yang dianggap penting, yang diharapkan persetujuan bagi setiap gerak, tingkah, dan pendapat, tidak ingin mengecewakannya, dan memiliki arti khusus (significant others), akan banyak mempengaruhi pembentukan sikap seseorang terhadap suatu objek. Diantara orang yang dianggap penting bagi individu adalah orangtua, orang dengan status sosial lebih tinggi, teman sebaya, teman dekat, guru, teman kerja, istri atau suami, dan lain-lain.

Pengaruh Kebudayaan.

Kebudayaan dimana seseorang hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar tehadap pembentukan sikapnya. Apabila seseorang hidup dalam budaya yang mempunyai norma longgar bagi pergaulan heteroseksual, sangat mungkin dia akan mempunyai sikap yang mendukung terhadap masalah kebebasan pergaulan heteroseksual tersebut, begitupula sebaliknya.“Burrhus Frederic Skinner sangat menekankan pengaruh lingkungan (termasuk kebudayaan) dalam membentuk pribadi seseorang. Kepribadian katanya, tidak lain daripada pola perilaku yang konsisten yang menggambarkan sejarah reinforcement yang dialami” Hergenhahn, dalam Saefuddin Azwar (1997: 34). Pola perilaku yang dimiliki seseorang dikarenakan reinforcement (penguatan, ganjaran) dari suatu perilaku yang dilakukan, bukan dari perilaku yang lain.

Media Massa.

Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah, dll. Mempunyai pengaruh yang besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang. Dalam penyampaianinformasi sebagai tugas pokoknya, media massa membawa pesan berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Pesan-pesan sugestif yang dibawa oleh informasi tersebut, apabila cukup, akan memberi dasar efektif dalam menilai suatu hal sehingga terbentuklah arah sikap tertentu.

Lembaga pendidikan.

Lembaga pendidikan sebagai sistem mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap dikarenakan keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisah antara sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Diperoleh dari pendidikan dan dari pusat keagamaan serta ajaran-ajarannya. Dikarenakan konsep moral dan ajaran agama sangat menentukan sistem kepercayaaan, maka tidaklah mengherankan kalau pada gilirannya kemudian konsep tersebut ikut berperan dalam menentukan sikap individu terhadap suatu hal.

Pengaruh Faktor Emosional.

Tidak semua bentuk sikap ditentukan oleh situasi lingkungan dan pengalaman pribadi seseorang. Kadang-kadang, suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego. Sikap demikian dapat merupakan sikap yang sementara dan segera berlalu begitu frustasi telah hilang, akan tetap dapat pula merupakan sikap yang lebih persisten dan tahan lama. Suatu contoh bentuk sikap yang didasari oleh faktor emosional adalah prasangka(prejudice). “Prasangka didefinisikan sebagai sikap yang tidak toleran, tidak ‘fair’, atau tidak favorabel terhadap sekelompok orang (Harding, Prosbansky, Kutner, & Chein; dalam Wrightsman & Deaux) dalam Saefuddin Azwar (1997: 37).

Pembentukan sikap seseorang bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor. Diantaranya yaitu, pengalaman pribadi, pengaruh orang lain yang dianggap penting, pengaruh kebudayaan, media massa, lembaga pendidikan serta pengaruh faktor emosional. Lembaga pendidikan atau sekolah merupakan tempat dimana seorang siswa untuk mendapatkan pendidikan selain dirumah. Didalam sekolah terjadi proses belajar mengajar, proses belajar mengajar merupakan salah satu faktor yang berperan penting dalam pembentukan sikap dan tingkah laku siswa.  Wardatul Badah, S.Pd.I

Komentar
Memuat...