Tepatilah Janji | Belajar Menjadi Kekasih Allah Part-2

0 24

Tepatilah Janji. Manusia lahir ke muka bumi karena ia telah bersumpah kepada Tuhan. Suatu sumpah yang menyatakan bahwa tidak ada ilah kecuali Allah. Tidak ada tuhan kecuali Tuhan itu sendiri. Hal ini setidaknya terekam dalam al Qur’an surat al A’raf [7]: 172-173 yang menyebutkan bahwa sebelum manusia lahir atau dilahirkan ke muka bumi, secara umum mereka telah membuat semacam perjanjian. Perjanjian yang mengabsyahkan bukan hanya sekedar Allah ada, tetapi, Ia Tunggal. Hal ini terkem dalam salah satu ayat yang artinya:

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,– atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?”

Dalam berbagai tulisan, sumpah ini disebut penulis sebagai potensialitas atau fitrah dasar manusia. Manusia tercipta karena dan dengan posisinya sebagai makhluk yang menghambakan dirinya kepada Tuhan. Namun dalam perjalanan kehidupannya di dunia, sumpah ini, kadang sering tidak dilakukan manusia. Atas posisi manusia yang sering lupa akan janjinya ini, maka, Allah-pun mengutus para Nabi dan Rasul. Tentu bersamanya adalah kitab-kitab yang menjadi petunjuk manusia.

Karena itu, tidak mengherankan kalau ada yang menyebut bahwa tujuan Allah mengutus para Nabi dan Rasul serta mengapa bersamanya turun Kitab-kitab suci itu, sebenarnya hanya untuk mengingatkan manusia. Mengingatkan akan janji yang telah diikrarkan manusia sejak di alam rahiem, yakni sebelum ruh ketuhanan ditiupkan kepada manusia oleh Allah ke dalam wujudnya yang prophan sekaligus fisis.

Bertemanlah dengan Tuhan

Jika manusia menepati janjinya, maka, konsep ahsani takwim akan benar-benar terwujud. Manusia sejenis ini bakal mampu memancarkan dimensi ilahiyah dari dalam dirinya. Perjanjian ketuhanan yang mengakui bahwa Allah itu Ada dan Esa, mengharuskan semua karakter selain diri-Nya adalah kosong dan tidak ada. Selain itu, sikap semacam ini akan memaksa manusia untuk mengakui bahwa segenap wujud selain Tuhan pasti relatif dan banyak.

Keangkuhan, ego dan merasa bahwa dirinya menjadi berkuasa atau pemilik kebenaran, tentu karena itu menjadi indikasi bahwa kita melanggar janji kepada Tuhan. Mereka yang melanggar janji itulah yang tidak akan pernah menjadi kekasih Tuhan.

Dalam makna terbalik, mereka yang selalu membangun citra kemanusiaan, bersahaja, tenang dan selalu berupaya untuk mencari kedamaian di antara sesama manusia, adalah wujud kongkret bahwa dirinya telah menepati janji kepada Tuhannya. Ia sadar bahwa yang boleh angkuh, ego dan merasa menjadi pemilik kebenaran, hanyalah Tuhan. Yang lain, semuanya kosong. Karena yang lain selain Tuhan itu kosong dan tidak ada, maka, ia hanya akan berteman dengan Tuhan. By. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.