Terima Kasih Sukmawati atas Puisi Indahmu

0 916

Maaf … Aku tak tahu Sukmawati
Bahkan hampir tak mengerti jika dia anak Soekarno
Aku lebih mengerti Puan dan Puti
Meski keduanya hanya cucu dari salah satu pendiri bangsa

Aku baru tahu kalau Sukma bisa membuat puisi
Meski kuragukan kemampuannya dalam bernyanyi
Apalagi tentang dendangan lagu kebangsaannya tentang bumi pertiwi
Dalam bait-bait yang terbataspun, belum pernah aku nikmati

Yang kutahu, ya … yang kutahu justru keindahan dan kemolekan Guruh
Dalam liukan tari-tarian indah meski tak pernah memberi titah
Aku juga tak mengerti jika sukma mampu atau mengenal Tarian kebangsaan
Maaf … karena aku belum menyaksikan dia menari bersama

Maaf … aku juga tidak tahu kemampuan Sukma
Bukan hanya dalam soal syariai??i??at Islam yang kompleks
Bahkan terhadap Sari Konde yang disebutmu sangat indah
Karena kau lebih sering memakai pakaian yang jauh dari pertiwi

Aku tak mengerti kalau Sukma adalah wanita cantik
Yang merefresentasikan diri sebagai ibu Pertiwi
Dalam penglihatanku kau justru semakin tampak asing
Sehingga tak mampu menunjukkan kecantikan asli dari bangsamu

Aku bahkan semakin tak mengerti jika kau ternyata
Mampu berbicara soal kecantikan, kesehatan, keberbudian dan kreativitas
Bahkan aku tak tahu kau sedang menyapa siapa ketika harus berkata
ai???Selamat datang di duniaku, bumi Ibu Indonesiaai???

Rumputpun tak mampu menjawab ketika kutanya
Siapa yang dipanggil Sukma ketika berkata Selamat Datang
Asing atau Aseng? Yang jelas pasti bukan Arab atau apalagi kaum pribumi
Yang telah lama memegang panji-panji Ilahi

Jujur Saja Aku

Jujur sekali lagi
Aku tak mengerti canting menggores ayat ayat alam surgawi mana
Yang kau persembahkan ketika memandang Ibu Indonesia
Saat pandangan matamu semakin pudar dan tak menentu
Karena itu, sejatinya kau tak dapat mengetahui kemolekan sejati dari bangsamu

Tapi harus aku ucapkan

Terima kasih Sukma kau telah mengingatkanku
Jujur, aku lama tak mendengar keindahan suara Adzan
Yang di waktu kecil justru menjadi nyanyian yang kunantikan
Dengan puisimu, aku, justru kembali rindu suara penuh makna itu

Puisimu kembali membantingkan kesadaranku
Akan keindahan liukan suara Muadzin yang mendengarnya bernilai ibadah
Gemulai gerak jalan sang muadzin menuju mimbar
Akan selalu menjadi penghela nafas kami menuju Tuhan

Sukma …
Jangan ganggu nyanyian ketuhanan kami …
Karena nyanyian itu pula sesungguhnya
yang Membentuk Indonesia

By. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.