Terminologi Ishlah Perspektif Hadits

0 45

Terminologi Ishlah Perspektif Hadits: Dengan tidak menafikan fakta historis adanya kehidupan yang serba aman dan sejahtera. Dalam masa- masa tertentu kiranya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sejarah panjang peradaban manusia selalu diwarnai konflik dan pertikaian. Mulai dari level komunitas terkecil seperti rumah tangga hingga ke tingkat komunitas menengah. Seperti antara elit partai, kelompok dan golongan, hingga komunitas terbesar antar bangsa dan blok negara.

Konflik tersebut seakan- akan tak pernah reda. Kerusuhan sosial berlatar belakang konflik suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) seakan- akan mewabah ke seluruh pelosok kehidupan yang dilatar-belakangi oleh berbagai motif dan kepentingan. Konflik tersebut terjadi salah satu sebabnya adalah karena hilangnya nilai- nilai kebajikan, kemanusiaan, kedamaian dan persaudaraan. Baik antar individu maupun antar komunitas (kelompok).

Dalam hal ini usaha- usaha untuk merekonsiliasi dan memperbaiki hubungan (islâh) antara pihak- pihak yang bertikai sangat diperlukan. Hal ini demi terciptanya sebuah kehidupan yang penuh harmoni, damai dan saling pengertian. Dalam konteks ishlah inilah para Nabi dan Rasul diutus oleh Allah ke dunia. Tujuannya adalah untuk menebarkan rahmat dan kedamaian di alam ini.

Pada tingkat konseptual, al-Qur’an dan al-sunnah telah mengemukakan secara gamblang tentang hakekat ishlâh dalam berbagai konteks makna dan penggunaannya. Pada tingkat praktis kita dapat melihatnya dalam praktek-praktek yang pernah dicontohkan dan dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Pada masa ini upaya ke arah ishlâh di antara sesama manusia baik dalam konteks individu maupun kelompok. Yang lebih luas lagi seperti antar negara dapat dimulai dengan mengkaji pesan- pesan moral yang terangkum dan terdokumenkan dalam hadits Nabi saw.

Terminologi Ishlah

Secara bahasa kata ishlâh berasal dari kata صلح yang berarti baik dan bagus. Kata صلاح sering dilawankan dengan kata سيّئة \ فساد (rusak). Dalam pemakaiannya kedua kata tersebut dipakai dalam konteks verbal. Sementara kata  الصلح biasanya khusus dipakai untuk menghilangkan persengketaan di kalangan manusia. Tetapi jika dipakai oleh Allah, maka إصلاح الله الناس adalah kadang- kadang dilakukan dengan melalui proses penciptaan yang sempurna. Kadang- kadang dengan menghilangkan suatu kejelakan/ kerusakan setelah keberadaannya dan kadang-kadang dengan melalui penegakan hukum (aturan) terhadapnya.

Ibrahim Madkûr dalam Mu’jam-nya berpendapat bahwa kata ishlâh yang berasal dari kata صلح mengandung dua makna yaitu; manfaat dan keserasian serta terhindar dari kerusakan, sehingga jika kata tersebut berbentuk imbuhan; أصلح بينهما , maka berarti menghilangkan segala sifat permusuhan dan pertikaian antara kedua belah pihak, dan الصلح berarti menghilangkan dan menghentikan segala bentuk permusuhan. Sementara Ibnu Mandzur berpendapat bahwa kata bermakna sebagai anti tesa dari kata فسد ,dan kata أصلح الشيء biasanya mengindikasikan rehabilitasi setelah terjadi kerusakan, sehingga dimaknai dengan أقامه.

Manusia adalah makhluk Allah yang mempunyai dua dimensi yaitu dimensi fisik dan psikis, jasad dan ruh, dari dimensi tersebut berimbas pada keberadaannya di mana ia sebagai makhluk individu dan juga sosial, ke dua sisi tersebut saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan,dan bahkan dalam aspek yang kedua inilah yang lebih menonjol sehingga ia tidak pernah lepas dari hubungan antas sesamanya.

Dalam sosialisasi pergaulan, sikap emosi antara individu satu dengan yang lain relatif variatif, ada yang berteperamen rendah (sabar), ada yang sedang dan ada yang tinggi, sehingga wajar kadang-kadang terjadi perselisihan dalam bersosialisasi. Dalam hal ini Islam telah menyadari kondisi tersebut, sehingga ia memberikan fasilitas lembaga ishlâh  jika ternyata terjadi perselisihan yang tidak dapat dielakkan.

Islam Mengedepankan Ishlah

Dalam proses penyeleseian konflik, Islam tidak mendahulukan sikap panish bagi yang merasa benar atas yang salah, tetapi ia lebih mendorong dan memfasilitasi proses penyeleseian dengan memberikan prestasi bagi siapa dari yang bersengketa lebih dahulu mengedepankan sikap kesatriaannya yaitu dengan mengedepankan ishlah atas gep yang telah terjadi. Hal ini seperti hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim yang bersumber dari Abi Ayyub bahwa:

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثٍ يَلْتَقِيَانِ فَيَصُدُّ هَذَا وَيَصُدُّ هَذَا وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ وَذَكَرَ سُفْيَانُ أَنَّهُ سَمِعَهُ مِنْهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

Ishlah dalam Perspektif Hadits

Tema ini jika dilihat dari kitab- kitab hadits yang standar (كنب التسعة), hanya Bukhâry yang membahas yang dimasukkan dalam bab khusus yaitu bab shulh. Sementara yang lain hadits- hadits tersebut di masukkan dalam berbagai bab dan pembahasan. Dalam pembahasannya al-Bukhâry memulai dengan mencantumkan firman Allah QS.al-Nisâ’: 114:

لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma`ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.

Al-Thabari menuturkan sebab turunnya ayat tersebut mengenai keinginan seseorang (Thu’mah) untuk membela keluarganya meskipun bersalah dengan membisikkan masalahnya kepada Nabi, masalah ini acap terjadi di kalangan masyarakat sesuai dengan kepentingan dan interes masing-masing.

Perintah bersedekah, melakukan ma’rûf dan upaya melakukan perbaikan di antara manusia yang dikecualikan dari pembicaraan rahasia yang buruk, menunjukkan bahwa amalan-amalan menjadi terpuji bila dilakukan dengan rahasia. Ketiga hal tersebut pada hakekatnya tidak keluar dari memberi manfaat dan menolak madlarat, pemberian manfaat dapat bersifat materi yang disimbulkan shadaqah, sementara yang bersifat immateri disimbulkan dengan ma’rûf, sementara yang menolak madharat disimbulkan dengan perbaikan (ishlâh) antar manusia.

Ishlah dalam Hadits- Hadits Bukhary

Dari hadits- hadits yang diriwayatkan oleh Bukhâry dapat dikelompokkan menjadi beberapa topik:

  1. Upaya perbaikan konflik antar manusia bukan sikap hipokrit;
  2. Ishlâh dalam hutang piutang;
  3. Mengedepankan  ishlâh lebih baik;
  4. Ishlâh yang didasarkan atas sikap pura-pura adalah batal;
  5. Tidak boleh melanggar hasil ishlâh  yang telah disepakati;
  6. Ishlâh berlaku untuk semua kelompok;
  7. Ishlâh terhadap qishash tidak menggugurkan had yang diajukan oleh pendakwa;
  8. Kepekaan terhadap upaya yang menuju kepada ishlâh;
  9. Jika tawaran ishlâh ditolak, maka berlaku hukum yang ada;
  10. Kewajiban pemimpin  untuk meng-Ishlâh-kan masyarakat.

Oleh Dr. Ahmad Munir, M.Ag [Dosen Ushuludin STAIN Ponorogo]

Bahan Bacaan
  • Abi Muhammad Mahmud Ibnu Ahmad Al-Ainainy, Al-Binâyah Fi Syarhi Al-Hidâyah, Beirut: Dâr al-Fikr, Juz. 9
  • Al-Râghib al-Asfahâny, Mu’jam Mufradât Alfâd Al-Qur’an, Beirut: Dâr al-Fikr, tt
  • Ibrahim Madkur, Al-Mu’jam Al-Wajîz, tp, tt
  • Al-Allamah Abi Al-Fadlal Jamaluddin Muhammad bin Mukarram Ibnu Mandzur, Lisân al-Arab, Beirut: Dâr al-Fikr, tt
  • Muhammad bin Ismâil al-Bukhary, Shahîh al-Bukhâry, Jilid 4, Kairo: Dâr Ihyâ’ al-Arabiyyah, tt
  • Abi Ja’far Muhammad bin Jarir Al-Thabary, Jâmi’ Al-Bayân ‘An Ta’wili Ayi Al-Qur’an, Beirut: Dâr Al-Fikr, 1988,J.1
  • M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbâh, Ciputat: Lentera Hati, Vol. 2, 2000

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.