Terminologi Kerja Perspektif Al-Qur’an

0 90

Terminologi Kerja Perspektif al-Qur’an: Ada beberapa istilah yang digunakan oleh al-Qur’an dalam mengungkapkan nilai kerja, di antaranya adalah ‘amal (عَمَل), kasb (كَسْب), juhd (جُهْد), ibtighâ’ (ابْتِغاَء), sa‘yu (سَعْى) dan su’âl (سُؤَال).

  • Amal/عَمَل

Secara bahasa, kata ‘amal berarti pekerjaan yang mempunyai tujuan, target baik dari segi waktu maupun hasil. Kata ini semakna dengan kata mihnah (مِهْنة) dan shun‘ah (صُنْعَة) yaitu pekerjaan yang menghasilkan sesuatu secara professional. Ibn Manzhûr mensinonimkan kata ‘amal dengan kata mihnah dan kata fi‘l. Masing- masing istilah tersebut mengandung unsur sa‘yu (سعى) (usaha). Menurut al-Râghib ‘amal adalah kegiatan manusia yang didasarkan pada tujuan tertentu. Kata ini lebih khusus dari kata fi‘l, karena fi‘l kadang- kadang dinisbahkan kepada hewan yang gerakannya hanya berupa refleksi dari naluri yang tidak dikendalikan oleh akal dan tujuan. Sementara kata ámal hanya dinisbahkan kepada manusia yang  mencakup kualitas baik dan buruk.

Dalam perspektif ekonomi, ‘amal  didefinisikan dengan usaha gigih yang didasarkan pada kesadaran keinginan untuk mencapai yang dicita- citakan dalam memperoleh tambahan nilai, baik yang berasal dari modal maupun  produksi untuk memenuhi kebutuhan hidup.  Dalam hal ini yang membedakan kegiatan manusia dengan makhluk lain adalah target.

Di dalam al-Qur’an, kata ‘amal dengan berbagai derivasinya  diulang 360 kali yang diklasifikasikan menjadi beberapa bentuk.

Bentuk Mashdar (عَمَل\ أَعْمَال)

Bentuk ini diulang 71 kali,  satu kali disebut dalam bentuk definite (ma‘rifah) dan 70 kali dalam bentuk indefinite (nakirah) baik yang disebut secara mandiri maupun yang dikaitkan dengan kata ganti (dlamîr). Yang disebut secara mandiri dalam bentuk tunggal  sebanyak 16 kali dan bentuk jamak sebanyak dua kali. Sementara yang dikaitkan dengan kata ganti (dlamîr), satu kali dengan dlamîr  ka/كَ, tiga belas kali dengan dlamîr kum/كُمْ,  lima kali dengan dlamîr hu/هُ, dua puluh sembilan  kali dengan dlamîr hum/هُمْ, tiga kali dengan dlamîr nâ/ ناَ  dan satu kali dengan dlamîr yâ’/ي.  Dalam konteks ini, kata ‘amal tidak pernah dinisbahkan kepada selain manusia.

Dari data di atas, kata ‘amal yang disebut dalam  bentuk ma’rifah, menunjukkan bahwa perbuatan yang dilakukan telah ternilai kualitasnya. Perbuatan tersebut tidak bebas dan umum. Jika kata tersebut diungkapkan dalam bentuk nakirah, menunjuk pada perbuatan secara umum, yaitu segala usaha yang dilakukan manusia baik berkualitas, maupun yang buruk. Semua perbuatan tersebut akan dinilai dan dihargai oleh Tuhan. Penilaian perbuatan tersebut tanpa memandang bentuk, jenis, asal perbuatan, dan subjeknya.

Dilihat dari penisbahannya, kata ‘amal yang dinisbatkan kepada individu hanya diulang dua kali, yaitu dikaitkan dengan dlamîr  ka/كَ , dan dlamîr yâ’/ي, keduanya menunjukkan perbuatan yang terputus. Hal ini karena kerja merupakan tonggak kehidupan. Manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat hidup secara individu. Oleh karena itu, bekerja secara kolektif  adalah sebuah keniscayaan dalam memenuhi hajat hidup.

Berbentuk Ism Fâ‘il (عاملين\عاملون, عاملة\عامل)

Bentuk ini di dalam al-Qur’an diulang 13 kali, lima kali dalam bentuk tunggal dan delapan kali dalam bentuk jamak. Dalam bentuk ini manusia bebas melakukan sesuatu, tetapi bertanggung jawab atas tindakannya. Tanggung jawab tersebut  baik secara individu maupun kolektif. Dari tanggung jawab inilah diberlakukkan penghargaan maupun hukuman.

Bentuk Perintah (fi‘l al-amr)

Bentuk ini di dalam al-Qur’an diulang 11 kali, dua kali bentuk tunggal dan sembilan kali dalam bentuk jamak. Bentuk ini menegaskan bahwa berbuat sesuai dengan kehendak adalah hak bagi manusia, baik kelompok minor maupun kelompok mayor. Keduanya memiliki hak yang sama untuk berbuat. Kelompok mayor dengan kuantitasnya tidak dapat memaksa kelompok minor baik untuk melakukan maupun meninggalkan sesuatu.

Bentuk Kata Kerja (fi‘l)

Di dalam al-Qur’an, kata ‘amal dalam bentuk kata kerja diulang 276 kali, 11 kali dalam bentuk perintah (fi‘l al-amr), 99 kali berbentuk lampau (mâdli), dan 166 kali berbentuk sedang (mudlâri‘). Dalam bentuk perintah (اعمَل\اعْمَلوا), kata tersebut dikaitkan dengan pemenuhan kebutuhan peralatan, yaitu dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada untuk pemenuhan kebutuhan. Dalam  konteks ini, perintah tersebut hanya merupakan kelaziman bagi orang yang memiliki ketajaman pikiran untuk melihat sumber daya alam yang ada untuk kebutuhan hidupnya.  Dalam bentuk ini, kebebasan manusia merespon perintah merupakan dasar penentuan prestasi perbuatannya.

Ketika kata tersebut  berbentuk kata kerja biasa, baik lampau   maupun sekarang, objeknya sering dikaitkan dengan kebajikan yang bersifat substantif dan evaluatif. Objek kata tersebut diungkapkan dengan kata shâlih/shâlihât dan kata khaîr. Objek kata tersebut ada yang dikaitkan dengan kejahatan di antaranya, Pertama, diungkapkan dengan kata khabâis, yaitu perbuatan jahat yang menghinakan, baik secara fisik maupun psikis, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Kedua, diungkapkan dengan kata sû’ atau sayyiah/sayyiât atau aswa’. Al-Qur’an tidak memberikan balasan ganda terhadap perbuatan jahat yang dilakukan oleh manusia.

Apresiasi Al-Quran terhadap Kerja

Al-Qur’an memandang kerja sebagai semangat positif yang  diberi apresiasi. Salah satu apresiasi al-Qur’an adalah apabila salah dalam berbuat tidak dibalas kecuali setimpa  dengan perbuatan itu sendiri. Terhadap kegiatan yang positif, al-Qur’an menjanjikan kepada pelakunya balasan yang melebihi dari apa yang dikerjakan. Kerja adalah etos yang dibangun di atas semangat etis yang berorientasi pada kemaslahatan, baik individu maupun sosial. Ketika Nabi ditanya tentang pekerjaan (العمل) yang paling mulia, beliau menjawab sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhârî.

أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ. (رواه البخارى)

Pekerjaan apa yang paling dicintai dihadapan Allah? Beliau menjawab; shalat pada waktunya, sahabat bertanya kemudian apa? Rasûlullâh menjawab berbakti kepada kedua orang tua,  sahabat bertanya kemudian apa?  Rasûlullâh  menjawab jihad di jalan Allah. (H.R. Bukhârî).

Hadis di atas mengisyaratkan bahwa mengerjakan shalat pada waktunya bukan berarti harus meninggalkan dan meniadakan kegiatan yang bernilai ekonomis. Berbakti kepada orang tua dengan menanggung seluruh kebutuhan dan kecukupannya, semuanya membutuhkan modal yang diperoleh dari kerja. Oleh karena itu, kerja yang menghasilkan nilai yang dapat menjadikan orang mampu melakukan hal-hal di atas adalah bernilai mulia.

  • Juhd/جُهْدٌ

Ada dua bacaan terhadap huruf jîm-hâ’-dâl/ ج-ه-د,. Pertama, dibaca juhd (جُهْدٌ), kedua, dibaca jahd (جَهْدٌ). Yang pertama, berarti kesempatan, kelapangan, dan kekuatan, sedangkan yang kedua berarti kesulitan, keseriusan, dan tujuan. Dalam konteks yang kedua, kata tersebut menunjukkan sesuatu yang sedikit yang diperebutkan dalam setiap upaya pencarian hidup. Oleh karena itu, kata majhûd juga diartikan dengan makanan yang memiliki aroma lezat yang memikat. Secara umum kata juhd/jahd menunjuk unsur kekuatan yang diluangkan untuk usaha demi mencapai suatu tujuan atau yang dicita-citakan.

Kata tersebut dengan berbagai bentuk derivasinya diulang 41 kali, 27 kali dalam bentuk kata kerja (15 kali berbentuk fi‘l al-mâdlî, lima kali dalam bentuk fi‘l al-mudlâri‘, dan tujuh kali berbentuk fi‘l al-amr), sepuluh  kali dalam bentuk adjektif (mashdar) dan empat kali berbentuk ism al-fâ‘il. Dari bentuk-bentuk tersebut, al-Qur’an hanya menggunakan bentuk jâhada (جاَهَدَ) yang menunjukkan makna partisipatif. Ini mengindikasikan bahwa  usaha yang dilakukan manusia selalu  terkait dengan usaha orang lain. Ia tidak dapat berdiri pada kediriannya dan selalu melengkapi dengan yang lain.

Ketika al-Qur’an memerintahkan manusia berikhtiar terhadap suatu masalah, sering digunakan bentuk partisipatif (مُشَاركة). Karena ikhtiar dan pemanfaatan harta selalu berada di atas jaringan sosial dalam rangka menyempurnakan hajat kehidupan. Bentuk juhd (جُهْدٌ), hanya satu kali digunakan oleh al-Qur’an. Selebihnya menggunakan kata jahd (جَهْدٌ) dan jihâd (جِهَاد). Ini mengindikasikan bahwa usaha manusia nilainya terletak pada besar kecilnya upaya dalam mengatasi problem dan tantangan yang dihadapi serta fungsi sosial yang diperankan dalam kehidupan.

Al-Qur’an memberikan apresiasi yang istimewa bagi orang yang berusaha  membangun jaringan kemaslahatan sosial dalam kehidupan.  Dengan nada interogasi, al-Qur’an menegaskan bahwa Tuhan tidak memberikan penilaian yang sama antara orang yang memiliki progresivitas hidup, dan orang-orang yang menaruhkan kehidupanya di atas kemalasan dan kefrustasian. Usaha yang dilakukan manusia sebagai instrumen untuk menilai baik dan tidaknya kualitas kehidupannya.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.