Ternyata Ada 5 Macam Karakteristik Arsitek, Kamu yang Mana?

0 265

Apakah Anda berprofesi sebagai arsitek, atau tengah menuntut ilmu untuk menjadi seorang arsitek? Ternyata profesi arsitek itu banyak ragamnya. Ada lima macam karakteristik arsitek di Indonesia. Pertama, arsitek berbakat tapi lugu. Kedua, arsitek kurang berbakat dan lugu. Ketiga, arsitek pelayan. Keempat, arsitek kontekstual. Kelima, arsitek katalis.

Jadi, anda termasuk kategori yang mana?

1. Arsitek yang berbakat dan lugu

Jenis arsitek ini adalah mereka yang mahir merancang dan mampu mengembangkan kaidah arsitektural. Namun, arsitek ini tidak peka atau kurang peduli terhadap lingkungan atau konteks tempat karya mereka yang akan dibangun. Mereka mengabaikan -sengaja atau tidak, faktor-faktor yang berdampak negatif bagi keberlanjutan lingkungan.

Arsitek ini cukup banyak di Indonesia terutama yang berkarya pada rentang 1900-an, 2000-an, dan meraih ketenaran pada 2010-an. Dicontohkannya, ada satu karya pemenang Anugerah Ikatan Arsitek Indonesia 1999 yang cukup menyengsarakan penggunanya. Berdasarkan informasi yang diperolehnya, pengguna bangunan mengeluh karena tiap hujan air merembes dan siang hari masih terasa panas walau ada penyejuk ruangan. Sejauh negara ini belum ada Undang-undang Arsitek maka tak ada hukuman bagi mereka yang mengabaikan tugasnya.

2. Arsitek kurang berbakat dan lugu

Golongan ini adalah mereka yang mampu menerapkan cara merancang dengan prinsip-prinsip arsitektural, tapi kurang mampu mengartikulasikan dan membuat terobosan baru. Alhasil arsitek jenis ini kurang peka terhadap citra keruangan yang memperkaya nuansa lingkungan.

Mereka pandai menempatkan diri dan tahu memainkan permainan politik untuk memperoleh pesanan proyek. Kelompok ini menjalin hubungan baik dengan bagian perizinan kantor-kantor pemerintahan daerah serta menjaring orang yang ingin membangun, tapi khawatir dipersulit dalam pengurusan perizinan.

3. Arsitek pelayan

Arsitek ini tidak memiliki inisiatif atau gagasan besar karena cenderung mengikuti kemauan pemberi tugas. Perannya tak lebih dari juru gambar yang siap membuatkan desain sesuai selera pemesan. Mereka sanggup membuat bentuk dengan gaya apa saja sejauh ada acuan yang diberikan pemesan.

Arsitek pelayan ini beralasan kekhasan dan kebanggaan diri itu tak perlu, sebab yang penting proyek berlimpah dan menjadi perpanjangan pemikiran si pemberi tugas. Di Indonesia kelompok ini bergerak di arena pemberi tugas swasta, proyek banyak dan imbal jasanya dapat ditawar.

4. Arsitek kontekstual

Kelompok ini mirip arsitek pada tradisi Vitruvius yang senantiasa dengan kesungguhannya memahami keadaan lingkungan tempat bangunan gedung bakal diletakkan. Marcius Vitruvius Pollio adalah arsitek Romawi yang banyak menulis tentang dasar-dasar arsitektur.

Kelompok arsitek ini merancang bangunan dengan pertimbangan sejarah, budaya, dan lingkungan alami setempat. Mereka taat asas dengan tugas dan peran arsitek sesuai yang diamanahkan etika keprofesian yang bertanggungjawab melayani. Karena itu dalam menjalankan tugasnya mereka sesuai hati nurani dan senantiasa berpihak pada para pegiat politik. Hasil bangunan arsitek ini terhadap keberlanjutan lingkungan hidup dapat dipertanggung jawabkan.

Namun kelompok arsitek ini belum banyak di Indonesia karena pada umumnya mereka merupakan arsitek-arsitek berjiwa dewasa dan berpegang teguh pada etika keprofesiannya. Bahkan mereka tak segan menolak proyek jika tak sesuai nurani, keyakinan, dan reputasi.

5. Arsitek perancang sekaligus pegiat atau katalis

Kelompok ini berjiwa pelopor dan agen perubahan lingkungan ke arah lebih baik. Arsitek jenis ini sering disebut oleh rekan seprofesinya sebagai arsitek radikal yang meminggirkan atau menurunkan citra mereka sebagai perancang.

Bakat kelompok ini adalah pengendalian perancangan beragam. Dari mereka ada yang kurang berminat menekuni perancangan bangunan, tapi ada juga yang secara habis-habisan merancang dan turun ke lapangan membina tukang atau masyarakat. Empatinya terhadap ketimpangan dan mendidik masyarakat soal penyelesaian sampah, memanen serta mendaur ulang air hingga mendayagunakan bahan alami. Di Indonesia kita kenal Romo Mangunwijaya yang mengadvokasi Kali Code. Dia adalah contoh menonjol yang mewakili kelompok ini.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.