Ternyata Etnis Cina Adalah Pemeluk Islam Pertama di Cirebon

0 133

SIAPAKAH pemeluk Islam pertama kali di Cirebon? Ternyata kalangan etnis Cina-lah yang memeluknya. Simbol pada “Paksinagaliman” cukup menyiratkan, adanya pertemuan antara Islam (paksi/ burung), Naga (Cina) dan Liman India. Tiga komponen masyarakat inilah yang membangun Cirebon pada awal masuknya Islam di daerah itu.

Tersebutlah di kaki Gunung Sembung dan Gunung Amparan Jati telah lama berdiri Dukuh Pasambangan. Setiap hari dikunjungi orang yang jual beli. Sedangkan perhentian perahu Muhara Jati menjadi ramai, sebab perahu senantiasa berhenti di sana. Perahu yang berhenti di sana diantaranya dari Cina, Arab, Parsi, India, Malaka, Tumasik, Pasai, Jawa Timur, Madura, dan Palembang sehingga Dukuh Pasambangan menjadi ramai. Di atas Gunung Amparan Jati berdiri mercusuar yang didirikan oleh panglima perang Cina Wai Ping dan Laksamana Te Ho (Cheng Ho) bersama balatentaranya. (Nagarakretabhumi sargah 4).

Di atas Gunung Amparan Jati berdiri mercusuar yang didirikan oleh panglima perang Cina Wai Ping dan Laksamana Te Ho bersama balatentaranya. Mereka akan menuju Majapahit, untuk sementara berhenti di Muara Jati. Pekerjaan mereka dibayar oleh Mangkubmi Jumajan Jati dengan garam, terasi, beras ketan, tembikar dan kayu jati, kemudian mereka berangkat menuju Jawa Timur. Dahulu pada waktu Ki Gedheng Tapa menjadi juru labuhan, banyaklah sahabatnya yang jual beli di sana, juga guru agama Islam dari Mekah, Bagdad, dan Cempa. Salah seorang di antaranya adalah Syeh Hasanudin putra Syeh Yusup Sidik ulama Islam yang terkenal di Cempa, tiba di Pulau Jawa, kelak mendirikan Pondok Kuro di Karawang. (NKB).

Dalam kitab Pustaka Negara Kretabhumi (Wangsakerta) disebutkan :

“natang ika pasambang[ng]an dukuh dumadyakna akrak  mwang janmapadha / kahanannya subhika / cinaritakna hana ta prasadha tunggang prawata ngamparan jati / yawat ta ratrikala ring kadoh[h]an murub katingalan kadi lintang kang téjamaya / kunang iking prasadha pinaka palingganya pasisir muhara jati ikang mangadeg(ak)na yata baladhika cina wai ping ngaran nira lawan sang laksamana té ho lawan wadyabala nirékang tan kawil(ang) akwéh nya / irika ta ring pasambang[ng]an ing lampah[h]ira umareng majapahit mandeg sawatara ing muhara jati”

“(sejak itu Dukuh Pasambangan menjadi ramai serta masyarakat keadaannya makmur. Diceritakan adalah mercusuar di atas Gunung Amparan Jati, bila waktu malam dari kejauhan terlihat bersinar seperti bintang yang berkilauan. Adapun di sini mercusuar sebagai tandanya pesisir Muara Jati yang mendikannya ialah Panglima Cina Wai Ping namanya dengan sang Laksamana Te Ho serta bala tentaranya yang tidak terhitung banyaknya. Di sanalah di Pasambangan dalam perjalanannya menuju Majapahit berhenti sementara di Muhara Jati)”.

Di ujung muara Kali Pekik ke arah timur, pelabuhan Muara Jati tempat singgahnya Laksamana Cheng Ho masih tersisa puing menara suar.  Menara itu kini dipelihara seadanya oleh masyarakat setempat dan diberi penanda dengan huruf Cina. Ketika penulis bersama awak televisi swasta dari Jakarta mencek menara tersebut, memang menara yang konon dibangun Cheng Ho itu  masih ada. Sementara memandang ke arah selatan nampak Pelabuhan Cirebon modern yang dibangun Pemerintah Belanda pada 1865 dengan latar belakang Gunung Ciremai. Sayang, kawasan cagar budaya itu, seperti Kali Pekik saat ini tak ubahnya seperti dampyang (sungai kecil) yang makin menyempit. Sementara bekas Pelabuhan Muara Jati itu sendiri terus mengalami pendangkalan.

Cheng Ho Membawa Misi Ke-Islaman

Dalam catatan sejarah, baik yang ditulis de Graff H.J. dkk (1998) dan Yuanzhi, Mulyana, menyebutkan antara 1413- 1415 Laksamana Muslim Cheng Ho mendarat di Muara Jati dengan membawa misi ke-Islaman dan membangun masjid di berbagai  kota pelabuhan yang disinggahinya.  Mereka etnis Cina muslim bermazhab Suni (Hanafi). Bahkan di Cirebon, mereka membangun masjid di sebelah barat BAT sekarang, diprakarsai Haji Sam Po Toa Lang. Kini masjid tersebut, menurut sejarawan Tionghoa Iwan Satibi, telah berubah menjadi Klenteng Talang,  sementara untuk peribadatan kaum muslim Cina dialihkan ke masjid Pejlagrahan (sebelah timur Keraton Cirebon).

De Graff selanjutnya melaporkan, menara yang dianggap dibangun oleh Laksamana Cina pada 1415, bangunannya mungkin mirip pagoda bergaya Cina dengan atap bertingkat yang dimaksudkan sembagai monumen di tempat tinggi untuk mengingat keberadaan orang-orang Cina di Jawa.

Gelombang Pendatang dari Cina

Diceritakan selanjutnya, mengenai kejadian yang berlangsung pada waktu seratus tahun sebelum tahun saka. Bahwa terjadi gelombang-gelombang pendatang baru, terutama ke pulau Jawa yang berasal dari kawasan sebelah selatan negeri Cina. Pada permulaan tahun saka terjadi pula gelombang- gelombang pendatang baru dari Sinhanagasari, Salihwahana nagari bumi Bharatawarsa (India Selatan). Dengan menumpang berbagai jenis perahu, mereka tiba di Jawa Barat dan Jawa Timur. Mereka datang ke situ untuk berniaga. Di antara mereka banyak yang kawin dengan anggota masyarakat pendatang  yang telah tiba terlebih dahulu. Mereka bernak, bercucu. Mereka beranggapan bahwa Pulau Jawa adalah Suwarga Loka di muka bumi. Para pendatang dengan tujuan berniaga banyak yang berasal dari Langkasuka, Saimwang, dan Hujung Mendini dan tiba di Jawa Barat serta Swarnabumi (Sumatera) (NKB. I.1 :20).

Cerita tentang tiga masyarakat muslim Cina lama di atau dekat Gunung Jati mungkin berdasarkan pada ceritayang dituturkan secara lisan yang pada tahun- tahun kemudian tidak dipahami dengan baik. Tahun 1415 tampaknya diambil oleh seorang penyunting dari masa yang dianggap sebagai awal kegiatan orang Cina di Semarang tahun 1413.(Graff,  ibid).

Pada 1415 rombongan armada Cheng Ho singgah dan berlabuh di Muara Jati. Hal ini terjadi dalam satu ekspedisinya yang legendaris untuk bersilaturahmi dengan penguasa setempat dan memberikan cindera mata dari negeri Tiongkok. Seperti porselen, guci, kain sutra, keramik  dan lain-lain. Dalam persinggahannya Cheng Ho (Sam Po Kong) juga bertujuan mengisi perbekalan. Seperti air, bahan makanan, sayur mayur, kambing dan sebagainya untuk perjalanan berikutnya (Yuanzhi, 2000).

Setelah era Cheng Ho, barulah pada 14 Kresnapaksa (paro- terang), Cetramasa (Maret- April) 1367 Saka (1445 Masehi), Pangeran Walangsungsang atau Pangeran Cakrabhuwana mulai menebas hutan untuk dijadikan pemukiman. Pada waktu itu yang tinggal di desa Cirebon berjumlah 52 orang. Mata pencaharian mereka, siang malam menangkap ikan di sungai atau di pesisir laut, di sebelah timur rumahnya. Mereka membuat terasi, petis, dan garam  (NKB). Era kerajaan Islam pun dimulai.

Oleh: Nurdin M. NoerWartawan  Senior, Pemerhati Sejarah Lokal.

Sumber Bacaan :

de Graff H.J. dkk (Cina Muslim di Jawa Abad XV dan XVI,  terjemahan, Tiara Wacana, 1998) .

Mulyana, Slamet (Runtuhnya Kerajaan Hindu – Jawa dan Timbulnya Negara- Negara Islam di Nusantara (LKIS).

Wangsakerta, (Nagarakretabhumi sargah 4).

Yuanzhi, Kong, Prof,  Pustaka Populer Obor,  2000

Komentar
Memuat...