Inspirasi Tanpa Batas

Ternyata Tinggi Rendah Suara Istri Memengaruhi Kinerja Suami

0 40

“Di balik kesuksesan suami, ada doa istri di belakangnya. Di balik kehebatan suami, ada istri yang dengan teliti merawat dan memanjakannya”

Ungkapan-ungkapan di atas sering kita temui dalam beberapa wacana tentang rumah tangga. Banyak pula yang mengisahkan tentang realitas rumah tangga berkaitan dengan kesuksesan suami yang dipengaruhi oleh peran serta istri. Peran serta istri yang dimaksud adalah segala tindakan dan perlakuan yang menjadikan suami nyaman secara perasaan dan terbuka secara pemikiran sehingga sang suami dapat mengembangkan potensinya melalui inspirasi-inspirasi brilian sang istri.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kesuksesan suami memiliki korelasi dengan besar kecilnya perhatian sang istri. Perhatian istri dalam hal ini adalah pemahaman istri tentang posisi suami. Baik sebagai kepala rumah tangga yang sekadar bercerita tema-tema kehidupan di rumah atau suami sebagai tulang punggung ekonomi keluarga dalam mencari kebutuhan hidup. Pemahaman istri tentang posisi suami dalam kondisi apapun akan menentukan masa depan rumah tangga yang harmonis, sedang-sedang saja, bersitegang terus atau berantakan.

Dalam tulisan ini, penulis ingin mengutaakan satu kajian khusus tentang perlakuan istri dalam melayani suami dalam konteks komunikasi di rumah. Dipahami secara umum bahwa karakter psikologis suami adalah egois sementara istri perasa. Dua karakter yang memiliki diferensiasi diametral ini sangat sulit dipertemukan jika keduanya tidak memiliki jembatan baik dalam pola komunikasi. Dalam beberapa kasus tentang karir suami, baik di perusahaan, lembaga atau di tempat kerja, peran istri sangat dominan dalam memengaruhi sikap suami. Sehebat apapun kondisi psikologis seorang suami, ia tidak akan terus bertahan dalam kondisi stabil di tempat kerja jika perlakuan istri di rumahnya tidak nyaman. Sehingga, perlakuan istri di rumah sangat memberi dampak terhadap keberlangsungan karir suami.

Komunikasi suami istri yang terjadi di rumah semestinya dapat terjadi dalam suasana hangat. Kepulangan suami dari tempat kerja harus disambut dengan intonasi hangat; tidak terlalu rendah dan tidak terlalu tinggi. Komunikasi hangat ini harus selalu diwarnai dengan senyuman sebagai penguat kemesraan hubungan suami istri. Dalam kondisi penat di tempat kerja dan lelah dengan seabreg tugas, terlebih masalah yang berhubungan dengan rekan kerja, tentu akan memberikan dampak negatif terhadap kondisi psikologis suami. Bila kondisi ini diterima dengan komunikasi dingin bahkan temperamen dari sang istri, tentu komunikasi akan berubah menjadi sebuah kekacauan besar. Tinggi rendah suara istri dimaksudkan adalah bagaimana seorang istri dapat memahami kondisi suami yang baru saja tiba selepas bekerja diberi sapaan yang hangat dan tidak memperkeruh suasana hati suami.

Tindak tutur (speach act) dan kesopanan (politeness) dalam berucap antara suami istri tetap harus dikedepankan. Teori-teori kebahasaan yang baik dan benar tidak dibatasi dalam ranah formal saja. Namun, lebih dari itu bahwa pola komunikasi dalam keluarga harus senantiasa mengedepankan nilai-nilai pragmatis positif yang dapat berdampak pada penguatan hubungan suami istri dalam sesi berikutnya.

Perlakuan Istri yang Hangat

Nampaknya hal ini sepele dan kurang banyak perhatian bagi para ibu rumah tangga. Perlakuan suami oleh sang istri diposisikan senyaman mungkin ketika di rumah akan berimplikasi positif terhadap kinerja kantor. Perlakuan istri yang hangat ini dapat dicerminkan dalam bentuk ungkapan-ungkapan genit istri. Baik ungkapan sanjungan kepada suami, ungkapan penghargaan atau terima kasih akan memberikan daya magis luar biasa dalam membangkitkan daya ungkit kerja di kantor pada hari-hari berikutnya.

Kehangatan dalam komunikasi dapat terwujud ketika suami istri telah saling berterima tentang sebuah pola komunikasi yang mesra. Komunikasi mesra dalam rumah tangga harus senantiasa diperbarui. Pola komunikasi yang monoton akan mengakibatkan kejenuhan dan ketidakbermaknaan obrolan. Komunikasi mesra itu muncul dari proses modifikasi cerita dan tema-tema dalam beberapa obrolan. Memang terkesan mengada-ada namun untuk menimbulkan kesan hangat dalam pola komunikasi suami istri maka tema-tema baru dalam obrolan harus dinamis tercipta. Obrolan tentang tetangga yang cerewet, anak yang terus mengacak-acak rumah, tidak cukup waktu untuk memasak, lupa untuk bersolek diri dan tema rumahan lainnya yang sering diungkapkan dan terlihat setiap hari harus dihindari sebagai antisipasi kebosanan tema. Perlakuan istri yang hangat berawal dari komunikasi yang seksi.

Mulailah dengan memilih ungkapan-ungkapan yang menggairahkan suami, menggembirakan dan memberi harapan masa depan agar kerja esok hari lebih produktif. Ungkapkanlah kata-kata yang baik dan penuh penghormatan agar suasana rumah selalu dalam harmoni nyata. Pelajarilah bagaimana pola komunikasi pasangan kekasih yang sering muncul di sinetron dan drama-drama cinta. Siapa tahu dari tontonan itu dapat kita adaptasikan pola kehangatan komunikasinya dan kemesraan pilihan kata untuk diungkapakan kepada pasangan anda. Hanya dengan bahasa yang hangat seorang istri, maka suami mendapatkan energi positif untuk berkarir dan berprestasi hebat di tempat kerjanya.***Nanan Abdul Manan


foto-nanan-abdul-mannan

Tentang Penulis

Nanan Abdul Manan, lahir di Kuningan tanggal 11 Februari 1982. Penulis adalah Dosen STKIP Muhammadiyah Kuningan. Untuk mengetahui lebih lengkap Lihat Biografi Lengkapnya

Komentar
Memuat...