Inspirasi Tanpa Batas

Teroris dan Kekerasan Atas Nama Agama

teror atas nama agama
0 1.614

MANUSIAAi??dari dulu sampai sekarang, selalu tetap menjadi manusia. Makhluk mulia sekaligus makhluk hina. Makhluk pencipta sekaligus perusak. Makhluk pengabdi sekaligus pemberontak. Pemberi kabar gembira sekaligus pecundang. Makhluk pemberi sekaligus pencuri, perampok dan koruptor. Hampir tidak ada satu generasi umat manusia-pun yang terbebas dari dua pilihan ini. Dari dulu sampai sekarang, dua kekuatan ini selalu bertanding untuk saling mengalahkan.

Tidak ada satu generasipun yang mampu menjadi ciri kebaikan murni atau keburukan murni. Orang tua yang menjadi pencipta generasi setelahnya, tidak dapat mengatakan generasinya sebagai yang terbaik. Selalu ada celah di mana di antara mereka tetap mencitrakan dirinya sebagai makhluk yang kompleks.

Sejarah peradaban umat manusia adalah sejarah peperangan dan penaklukan. Bangsa Mongol yang pernah meluluhlantakkan kekuasaan Dinasti Abbasiyah pada abad ke 13 yang terdiri dari suku Borjigins di pedalaman Mongolia berperang sepanjang hidupnya. Perang dan penaklukan yang mereka lakukan berdiri di atas identitas komunal (tribal) mereka. Belakangan perang itu ditujukan untuk mempersatukan Mongolia menjadi satu kesatuan (negara) di bawah seorang Khan.

Adi Prasetyo di laman Agama dan Kekerasan dalam kompasiana.com menyebut bahwa di sudut belahan dunia yang lain, tahun 1798 misalnya, masyarakat Perancis mendarat di pelabuhan Iskandariyah. Niat awalnya seolah heroik, yakni menyelamatkan gereja-gereja ortodoks di Timur Tengah. Padahal diketahui, ekspansi itu sebenarnya ditujukan guna memperluas imperium Eropa dan mencari bahan baku baru bagi industri mereka. Perancis mengalihkan semangat ekonomi dengan menjadikan agama sebagai komoditas.

Teror Atas Nama Agama

Beberapa tahun terakhir, kata terorisme seolah telah menjadi istilah yang paling beken muncul. Istilah terorisme seolah telah menjadikan media cetak dan elektronik memperoleh gizi baru dengan asupan vitam yang lumayan segar. Di Indonesia, kata terorisme semakin populer seiring dengan berbagai rentetan peristiwa peledakan bom di berbagai daerah.

Legian, Kute di Bali sering disebut sebagai titik mula lahirnya kekerasan yang mengatasnamakan agama di Indonesia. Aktor utamanya sering ditahbiskan kepada Imam Samudra yang dalam beberapa tahun telah di eksekusi mati di Nusakambangan. Seolah tidak jera dengan hukuman yang diberikan kepada para teroris Bali, malah setelah itu, berbagai rentetan bom bunuh diri terus menyebar ke ibu Kota Negara Indonesia, Jakarta. Ia seperti virus yang dapat menyebar dengan cepat. Pelaku bom itu sendiri, sering bersembunyi di berbagai daerah yang secara nalar hampir sulit ditemukan logikanya.

Secara historis, jauh sebelum teror bom mengguncang Indonesia, berbagai peristiwa di belahan dunia Barat dan Eropa, teroris yang berlindung di balik institusi agama, (Islam, Kristen, Yahudi, Budha, Hindu dan Shinto) sebenarnya telah lama bermunculan. Kristen ekstrem pernah melakukan pengeboman terhadap klinik aborsi dan Timothy McVeigh di Amerika Serikat.

Di Inggris, pernah terjadi peristiwa peledakan terhadap truk-truk dan bis-bis yang dilakukan tentara Nasionalis Katholik Irlandia. Di Jepang, dunia dikejutkan oleh serangan gas beracun di jalur kereta api bawah tanah oleh anggota sekte Hindu-Budha. Dan tentu yang paling mutakhir dalam konteks masyarakat Barat adalah kasus pengeboman menara kembar WTC 11 September 2001. Isunya dituduhkan kepada jaringan Al-Qaeda di bawah kepemimpinan Usamah bin Ladin.

Terorisme Bukanlah Fenomena Baru

Dengan fenomena semacam itu, menjadi benar apa yang dikatakan Mark Juergensmeyer Direktur Global and International Studies Universitas California di Santa Barbara, Amerika Serikat menyebut bahwa terorisme bukanlah fenomena baru dalam sejarah manusia. Dalam sejarah disebutkan bahwa, kekerasan atas nama agama terjadi sejak dulu.

Fenomena kekerasan atas nama agama, menurut Marks Juergensmeyer persis seperti permainan politik yang memanfaatkan respons keagamaan menjadi perang sekuler. Meski dengan cukup hati-hati ia melihat sisi lain, yakni kemungkinan adanya perlawanan terhadap upaya menentang globalisme dan modernisme. Analisisnya ini didasarkan atas kesamaan dasar lahirnya masalah sosial yang diintroduksi ke dalam perjuangan agama. Sebuah perjuangan kosmik antara kebaikan dan kejahatan, benar dan salah, agama dan sekuler. Singkatnya, mereka ingin menarik perhatian publik.

Agama tidak salah dan tidak layak untuk dipersalahkan. Sebab, agama selalu mengajarkan hal-hal yang baik dan menjungjung tinggi semangat kemanusiaan. Kekerasan merupakan bagian dari respons masyarakat dalam menyikapi masalah politik. Agama dijadikan sebagai jalan ke luar untuk mengkritik dengan memobilisasi kekerasan sebagai alternatif.

Masalahnya dalam konteks ini justru terletak dalam masyarakat (pemeluk agama). Agama memang memiliki aturan dalam memberikan pilihan bagaimana memperbaiki kerusakan moral dalam masyarakat. Tapi, tentu saja ketika dilakukan dengan tingkat ekstrem dalam bentuk tindak kekerasan, hal ini tak sesuai lagi dengan moralitas yang diajarkan agama. Singkatnya, agama telah dihinakan di balik aksi terorisme itu, dan kaum penganutnya wajib bertindak.

Cara Penyelesaian Konflik Agama

Cara menghentikan terorisme atas nama agama, tidak selamanya benar apa yang telah dilakukan Amerika Serikat. Sejak peledakan WTC 11 September 2001, Amerika seolah menjadi negara yang paling paranoid, terutama dengan gerakan-gerakan Islam di seluruh dunia.

Gaya Amerika yang menempatkan diri sebagai panglima dunia persis seperti dalam film Rambo satu sampai dengan empat yang memungkinkan negara itu memainkan politiknya dengan bertindak secara global. Artinya, di mana pun aksi teroris itu terjadi, intelijen Amerika akan menelusurinya.

Kebijakan Amerika untuk menuntaskan terorisme ini berlaku di seluruh dunia, baik di Jerman, Timur Tengah, Inggris, dan lain-lain. Tapi, ingat saat menyerang Afganistan dan Irak, Amerika juga sedang melakukan tindakan teroris. Tanpa disadari Amerika sendiri memanfaatkan peluang politik ini untuk melancarkan agresinya dengan membawa bendera perang melawan terorisme.

Padahal, kita tahu di balik itu terdapat motif-motif ekonomi-politik (neokolonialisme) Amerika serikat untuk menguasai sumber-sumber ekonomi. Penanganan terorisme seperti itu tentu bukan cara terbaik untuk memotong akar terorisme di dunia. Justru, tindakan tersebut telah memantik perlawanan dan dendam berkepanjangan dari jaringan gerakan agams politik radikal. Inilah yang akan melahirkanai???Perang Dingin Baruai???, setelah Uni Soviet runtuh yang kasus Bellinya terjadi saat rumusan Glassnot dan Prestorikanya dilakukan.

Fenomena Menentang Globalisasi

The New Cold War ini terjadi karena westoxifikasi budaya, kebijakan luar negeri dan globalisasi sekulerisme yang dipromosikan Amerika telah melahirkan persepsi penghinaan dan ketertindasan berbagai kelompok agama. Setelah berbicara dengan banyak pelaku teror, Juergensmeyer menemukan tumbuhnya sikap ketidaknyamanan makro akibat globalisasi dan perubahan sosial.

Ada banyak luapan kekecewaan dan kemarahan yang hadir di berbagai belahan dunia, bukan hanya dunia Islam, akan serangan westoksifikasi. Dominasi politik dan ekonomi AS dan Barat, dengan bauran persepsi ini, kemudian juga menjadi sumber kemarahan baru. Ada fenomena menentang globalisasi dan modernisme yang seakan hendak mengendalikan dunia. Akhirnya, reaksi kekerasan pun menjadi pilihan.

Pada muaranya, seperti membangkitkan kenangan perang dingin dulu, di mana tercipta persepsi bahwa pihak yang di seberang itu jahat. Di dunia Islam, banyak tercipta persepsi bahwa Amerika Serikat dan Barat itu jahat dan di Barat juga terdapat persepsi bahwa Islam agama yang penuh dengan kekerasan.

Fenomena ini, turut diperparah pikiran Samuel P. Huntington, yang menyatakan bahwa dunia saat ini sedang bergerak menuju perang peradaban antara Islam di satu pihak dan Barat di pihak lain. Padahal, sesungguhnya yang sedang terjadi adalah perang yang diciptakan oleh persepsi. Ada introduksi konsep perjuangan agama dalam menjawab masalah sosial. Yakni sebuah pertarungan kosmik antara kebaikan dan kejahatan, benar dan salah, agama dan sekulerime.

Penyelesaian Konflik Agama

Menurut Juergensmeyer, ada lima skenario yang dapat dilakukan untuk mengakhiri teror atas nama agama. Kelima skenario itu, yang penulis kutif dari tulisan Adi Prasetyo di laman Agama dan Kekerasan dalam kompasiana.com adalah sebagai berikut:

  • Skenario kekuatan (power). Hal ini dilakukan dengan cara membinasakan atau mengendalikan teroris-teroris itu dengan jalan kekerasan. Cara yang dianggap solusi ini pada kenyataannya bukan solusi yang baik, karena setiap kekerasan yang dihadapi kekerasan akan menimbulkan kekerasan baru. Inilah yang dilakukan oleh Amerika ketika mendeklarasikan perang total melawan terorisme agama dan melaksanakannya selama bertahun-tahun. Penggunaan kekuatan untuk menghancurkan terorisme tidak jarang hanya merupakan manipulasi untuk membenarkan kepentingan di balik itu.
  • Skenario ancaman pembalasan dengan kekerasan atau pemenjaraan untuk menakut-nakuti aktifis-aktifis keagamaan sehingga mereka ragu-ragu untuk melakukan aksinya. Cara ini pun dianggap tidak efektif, karena meski para aktivis itu diancam atau dipenjara, bahkan dibunuh sekalipun tidak akan berpengaruh terhadap para aktivis keagamaan lainnya.
  • Skenario dengan melakukan kompromi atau negosiasi dengan para aktifis yang terlibat dalam terorisme. Cara ini pun seperti dikatakan oleh Marx Juergensmeyer sendiri merupakan penyelasaian yang tidak selalu berhasil. Beberapa aktifis barangkali menjadi lunak, tapi yang lain menjadi marah dikarenakan apa yang mereka sebut sebagai penjualan prinsip. Kasus Arafat dan Hamas merupakan contoh dalam skenario ini. Setiap upaya kompromi yang dilakukan sekelompok aktifis Palestina akan membuat marah kelompok lainnya.
  • Skenario pemisahan agama dari politik dan kembali pada landasan-landasan moral dan metafisikal. Artinya, politisasi agama dapat dipecahkan melalui sekulerisasi. Solusi seperti ini telah dilakukan di beberapa negara di dunia. Namun, cara ini nampaknya belum menunjukkan keberhasilan. Alih-alih dapat melunakkan prinsip mereka, cara ini justru menimbulkan reaksi keras dari aktifis-aktifis keagamaan yang kadarnya semakin tinggi.
  • Skenario yang mengharuskan pihak-pihak yang saling bertikai untuk, paling tidak pada tataran minimal, menyerukan adanya saling percaya dan saling menghormati. Hal ini ditingkatkan dan kemungkinan-kemungkinan ke arah penyelesaian dengan jalan kompromi semakin menguat ketika aktifis-aktifis keagamaan memandang otoritas-otoritas pemerintahan memiliki integritas moral yang sesuai dengan nilai-nilai agama.

Alternatif lain dalam Penyelesaian Konflik Agama

Di luar kelima skenario itu, Juergensmeyer menegaskan bahwa aksi kekerasan atas nama agama akan terus berlangsung, selama kita salah menyikapinya. Kalau kita menyikapinya dengan cara yang salah, maka terorisme justru akan berkembang dengan subur.

Diskursus keagamaan harus mampu melakukan terobosan-terobosan baru guna mendekontekstualisasi kekerasan, seperti doktrin perang suci atau jihad, yang kerap dijadikan justifikasi untuk menghalalkan kekerasan.

Saat ini sangat diperlukan pemahaman keagamaan yang turut mendorong perlawanan terhadap segala bentuk kekerasan, terutama kekerasan yang mengancam terwujudnya masyarakat pluralis. Karena bagaimanapun, agama menghendaki agar setiap umat dapat hidup berdampingan tanpa harus menebarkan kebencian dan kecurigaan pada yang lain. ** (Cecep Sumarna)

Komentar
Memuat...