Inspirasi Tanpa Batas

Thawaf Ifadah dalam Segenap Kenangan | Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 23

Thawaf Ifadah dalam Segenap Kenangan | Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 23
0 108

Thawaf Ifadah dalam Segenap Kenangan. Selesai sudah, Shofi dan keluarga beserta seluruh jama’ah, melakukan mabit di Mina. Karena mengikut nafar ula, maka, menginap di Mina hanya dilangsungkan selama tiga malam. Selepas menginap di Mina, rombongan berangkat menuju Ka’bah untuk melaksanakan thawaf ifadahah.

Perjalanan menuju Ka’bah dilakukan dengan mengendarai bus yang sudah sangat kumel dengan debu-debu yang sangat kuat menempel. Perjalanan dari Mina menuju Ka’bah kali ini, dilakukan guna melaksanakan Thawaf Ifadah. Inilah satu rangkaian haji yang harus diikuti. Thawaf ifadhah termasuk rukun Haji. Haji seseorang tidak syah tanpa melakukan thawaf. Pelaksanaan rukun haji ini, dimulai tanggal 10 dzulhijjah sampai dalam batas waktu yang tidak ditentukan. Al Qur’an surat al Hajj []: 29 menyatakan: “… dan hendaklah mereka melakukan thawaf dalam bentuk mengelilingi rumah tua [Ka’bah] … “.

Inilah kegiatan yang segera dilakukan Shofi bersama keluarganya. Namun, sebelum ke luar dari tenda di Mina,  Shofi menarik tangan Crhonos dan berkata:

“Hai anakku … Bersihkanlah dirimu dan pakaianmu dari hadats besar dan hadats kecil. Hal ini dicontohkan Nabi melalui suatu Hadits yang bersumber dari Aisyah dengan periwayatan Bukhari-Muslim. Aisyah mengatakan: “Sesungguhnya, hal pertama yang dilakukan Rasulullah ketika berada di Mekkah adalah berwudhu kemudian thawaf di baitullah. Dalam periwayatan Ibnu Abbas, masih menurut Shofi, melalui hadits riwayat Tirmidzi dan Daruqutni, Rasul bersabda: “Thawaf adalah seperti shalat. Hanya saja Allah memperbolehkan berbicara di dalamnya. Tetapi, upayakan agar kamu tidak berbicara kecuali dengan pembicaraan yang baik.

Jangan lupa untuk menutup aurat kita. Hal ini sesuai dengan hadits rasul yang bersumber dari Abu Hurairah dalam periwayatan Bukhari Muslim: “Rasul pernah mengutusnya pada waktu haji yang telah diperintahkan sebelum haji wada’. Pada hari Nahar (tanggal 10 Dzhul Hijjah) bersama sejumlah sahabat untuk menyampaikan kepada masyarakat luas larangan dari beliau. Agar tidak boleh ada orang musyrik yang menunaikan ibadah haji dan tidak boleh (pula) melakukan thawaf dengan telanjang bulat.

Crhonos hanya menggelengkan kepala. Ia tidak tahu apakah yang disampaikan Shofi tadi, benar atau tidak. Berdasarkan hadits yang shahih atau tidak. Ia kembali membayangkan, bagaimana sosok laki-laki yang sudah demikian lemah, tetapi, ia masih tetap memiliki pikiran yang sangat kuat dalam mengingat berbagai rangkaian hadits dan ayat al Qur’an tentang pelaksanaan haji.

Suasana Ka’bah Saat Thawaf Ifadhah

Oke pak … mari kita mulai. Jama’ah lain sudah siap untuk berangkat. Khawatir, mereka menunggu kedatangan kita. Konon mobil yang dipersiapkan untuk mengangkut sudah menunggu di jalan. Jangan khawatir, kayaknya, tidak akan terlalu lama menunggu bus. Kejadian yang teralami saat akan berangkat ke sini, tidak diulang mereka. Dengan sangat lemah … Shofi bangun dan berjalan ke luar dari tenda.

Dan seperti biasanya, perjalanan menuju Ka’bah dengan naik kendaraan yang sebenarnya hanya berjarak beberapa kilo meter itu, dilalui dengan sangat lambat. Hampir empat jam perjalanan dari Mina menuju Ka’bah. Jubelan jama’ah yang berjalan kaki atau naik kendaraan, begitu kuat menekan laju kendaraan. Deru kendaraan dengan suara klakson yang seperti tidak berhenti, mengalahkan suara dzikir jama’ah di dalam bis.

Begitu sampai di Ka’bah, Crhonos, Vetra dan Siti, tentu berdiam diri dulu. Ia membiarkan jama’ah lain, melakukan thawaf lebih dulu. Mereka malah mencari suasana yang pas, sambal menunggu penyewaan kursi roda untuk Shofi. Crhonos, akhirnya  kembali bertemu dengan laki-laki bertubuh tinggi besar dengan warna kulit yang sangat hitam. Ia melakukan tawar menawar harga, jatuhlah pada angka 400 riyal dengan dirinya pula yang mendorong Shofi. Ia memintanya bukan hanya sekedar melakukan thawaf, tetapi juga sa’i.

Namun sebelum Crhonos, Vetra dan Siti turun ke Altar Ka’bah, Shofi menarik tangan anaknya dan berkata. Anakku mari kita berdo’a dulu. Idzinkan aku yang memimpin do’a di sini.  Mereka diam dan mempersilahkan Shofi untuk memimpin do’a. Do’a itu dilangsungkan dalam jubelan jutaan jama’ah di sekitar mereka. Do’a itu persis dilakukan di titik di mana mereka akan mulai melakukan thawaf. Lurus dengan hajar aswad. Inilah do’a Shofi:

“Wahai Ka’bah? Adakah yang mengalahkan keagungan dan kemulianmu. Shofi menjawab sendiri, tidak ada! Kami beriman atas berbagai hal terkait dengan keagunganmu. Jika kami melecehkanmu, maka, kami pasti mati di sini. Namun, kemulianmu, tidak sebanding dengan keharusanku untuk menghormati manusia lain di seluruh muka bumi. Karena itu, dengan melihat keagungan dan kemulianmu di sini, idzinkan dan kabulkanlah do’a kami, agar kami menjadi lebih manusiawi dalam menjalani hidup ini. Berilah kami kekuatan ya Allah, sebagaimana Kau telah memberi kekuatan kepada Adam, Ibrahim, Ismail dan Muhammad dalam membangun jiwa kemanusiaannya di sini. Jadikanlah keluarga kami, keluarga nubuwah yang dapat menghidupkan agama tauhid sebagaimana Kau telah memberikannya kepada Nabi-nabi pilihan-Mu.

Dengan tetesan air mata yang mengalir deras, Shofi membalutkan tangan ke mukanya dan mengucapkan amiin. Ia lantas menyuruh anak, istri dan menantunya untuk berjalan dan mempersilahkannya melakukan thawaf. Ia menitipkan agar keluarganya tidak lupa melakukan thawaf ini, dengan cara tetap menempatkan Ka’bah berada di sebelah kiri mereka.

Shofi juga menyarankan agar tidak melewati di atas Syadhrawan (pondasi ka’bah) dan Hijir lsma’il. Syadhrawan dan Hijir lsma’il, menurut Shofi adalah bagian dari ka’bah. Hal ini, didasarkan atas pernyataan Jabir yang menyebutkan bahwa:  Tatkala Rasulullah saw. tiba di Mekkah, masuk ke masjid lalu beliau mendatangi Hajar Aswad. Ia menyalaminya. Kemudian ia berjalan di sebelah kanannya. Setelah itu, ia lari-lari kecil tiga kali putaran dan berjalan biasa empat kali putaran.” Crhonos tolong jangan lupa dan bombing keluargamu. Hadits itu shahih diriwayatkan Bukhari dan Muslim

Crhonos Thawaf dari Hajar Aswad

Crhonos mengawali thawaf dengan melihat lampu hijau sebagai tanda sekaligus titik akhir pelaksanaan thawaf. Inilah hajar aswad. Ia adalah area sempit yang menjadi permulaan sekaligus akhir melakukan thawaf. Ia dan keluarganya hanya mampu memberi salam kepada hajar aswad. Mereka tidak menciumnya saat akan memulai thawaf. Tempat ini diperebutkan jutaan orang dari berbagai penjuru dunia.  Di sinilah ia mengawali thawaf. Ia langsung memimpin ibu [Siti] dan istrinya [Vetra] untuk mengatakan: Labbaik allahumma labaik. Labaika lasyarika laka labbaik. Inna al hamda, wannikmata, laka wa al mulka, la syarika laka labbaik ….

Setelah itu, Crhonos meminta keluarganya untuk membaca rabbana ya rabbana, dhalamna anfunsana, wainlam taghfirlana, watarhamna, lana ku nananna min al khasirin. [Ya Allah ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah lama berbuat dhalim terhadap diri kami. Jika Engkau tidak memberi maaf atas apa yang kami lakukan, tentulah kami akan menjadi manusia yang rugi.]

Ia berbisik kepada istrinya Vetra: Hai istriku … thawaf ini adalah kegiatan Adam. Yang kutahu, do’a Adam yang diabadikan dalam al Qur’an adalah itu. Maka, meski mungkin tidak lazim, kita pilih do’a ini saja. Vetra dan Siti mengangguk, lalu mereka mengikuti apa yang dilafalkan Crhonos.

Namun pada saat mereka bertemu dengan rukun yamani, crhonos meminta untuk berdo’a: “Rabbana atina fi al dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, waqina adabbannar [Ya Tuhan kami, berilah kami kabaikan didunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa api neraka]

Tak Kuasa Mencium Hajar Aswad

Saat putaran terakhir melakukan thawaf, Crhonos diminta Vetra untuk mencium hajar aswad. Karena mereka berjalan dengan cara menyamping, maka, pada putaran ketujuh, posisi hajar aswad itu persis berada di sisi batu sejarah kemanusiaan. Dalam posisi yang seolah tercekik, Crhonos kemudian mengeluarkan pernyataan Umar bin Khatab dalam kalimat berikut ini:

“Vetra, kita mesti ingat apa yang disampaikan Umar bin Khattab ra di saat dia mencium Hajar Aswad. Ini iktibar seorang sahabat yang diriwayatkan Bukhari-Muslim. Ia berkata: “Sesungguhnya aku tahu bahwa kamu adalah batu yang tidak mendatangkan bahaya dan memberi manfaat, kalaulah bukan karena aku pernah melihat Rasullah saw menciummu, nistaya aku tidak akan memciummu”

Posisinya sangat tidak mungkin. Terlebih kita membawa ibu kita yang sudah tua. Biarlah suatu hari nanti, semoga kita dapat menciumnya dengan leluasa. Vetra diam dan menganggukan kepala tanda setuju atas gagasan suaminya. Tetapi, begitu mereka berada di maqam Ibrahiem, maqam yang membuat Crhonos sempat menangis, ia meminta ibu dan istrinya melaksanakan shalat Sunnah.

Ia mengatakan, shalat Sunnah di maqam Ibrahim disunnahkan sehabis melaksanakan thawaf. Mereka bertiga kemudian melakukan shalat dalam suasana yang padat. Crhonos mengatakan sebuah hadits yang bersumber dari Jabir  bahwa kami keluar bersama Rasulallah saw, tidak bertujuan kecuali haji, sampai beliau datang ke Mekkah, lalu thawaf di Baitullah tujuh kali putaran kemudian shalat di belakang maqam Ibrahim ”. By. Charly Siera –bersambung

Komentar
Memuat...