Inspirasi Tanpa Batas

Thawaf Wada’ Menyempurnakan Kemanusiaan| Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 28

Thawaf Wada' Menyempurnakan Kemanusiaan| Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 28
1 161

Thawaf Wada’ Menyempurnakan Kemanusiaan. Malam terakhir tinggal di Kota Mekkah, membuat jama’ah tampak sangat bergairah. Wajah-wajah mereka yang sebelumnya kusut karena rindu kampung halaman, saat itu, justru seperti rindu ingin tetap berada di Ka’bah. Karena itu, tidak sedikit di antara jama’ah yang justru mengakhiri jam-jam terakhirnya di Kota Mekkah dengan melaksanakan sunnah umrah. Tidak sedikit pula yang melaksanakan i’tikaf di Ka’bah dengan cara membaca ayat-ayat suci al Qur’an.

Mereka yang melakukan kegiatan dimaksud, umumnya berpikir bahwa kalau umrah atau beribadah di Ka’bah disengajakan berangkat dari Indonesia, biayanya dianggap cukup mahal. Padahal ibadah di tempat-tempat mustajabah, sangat banyak tersedia di Kota suci ini. Karena itu, mumpung masih berada di Mekkah, mereka seperti ingin melumatkan waktunya di sisi syi’ar-syi’ar Tuhan yang diagungkan.

Waktu-waktu terakhir, jama’ah di mana Crhonos berada dalam rombongan tersebut, akan melaksanakan thawaf wada’.  Ini adalah penghormatan terakhir jama’ah haji kepada Masjid al Haram dalam pelaksanaan ibadah haji. Thawaf wada’  sekaligus menjadi wajib haji yang harus dilaksanakan setiap jama’ah. Penghormatan ini, dilakukan sebelum meninggalkan Kota Mekkah.

seperti diketahui, setelah thawaf wada‘, jama’ah tidak diperkenankan melakukan amalan lain. Thawaf wada mengakhiri seluruh prosesi haji’. Hal ini didasarkan atas hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari sanad Ibnu Abbas yang menyatakan: “Manusia diperintahkan menjadikan akhir amalan hajinya di Baitullah yakni [thawaf wada’] kecuali bagi wanita yang sedang haidh.” Inilah landasan utama, mengapa jama’ah diharuskan melaksanakan thawaf wada’. Hadits ini pula yang menyebabkan salah satunya, mengapa thawaf wada’ masuk ke dalam wajib haji. Jika tidak, maka, jama’ah diharuskan untuk menggantinya dengan dzam dalam bentuk penyembelihan satu kambing.

Shofi tentu saja tidak mengikuti amalan tambahan. Ia justru banyak menghabiskan waktunya di kasur. Ia terbujur dengan nafas yang kadang sulit dikendalikan. Selain itu, ia beranggapan bahwa kalau dirinya mengikuti kegiatan jama’ah lain, maka, ia khawatir tidak dapat melaksanakan thawaf wada.

Thawaf  Wada’ Mengakhiri Semuanya

Apakah semua jama’ah menghabiskan waktu-waktu terakhirnya dengan ibadah? Tentu saja tidak! Rombongan di mana Shofi berada didalamnya, tentu tidak sedikit yang tidak mengikuti kegiatan di atas. Sekalipun Tan’im yang menjadi salah satu miqat [titik awal keberangkatan] kegiatan ihram, sangat dekat dengan tempat di mana mereka tinggal, tetapi tetap saja, ada di antara mereka yang tidak memanfaatkan momen itu.

Kelompok kedua ini, sekali lagi tidak berupaya untuk banyak menghabiskan waktunya di Ka’bah. Mereka umumnya menggunakan kesempatan untuk melaksan belanja. Pemandangan menariknya adalah, betapa jama’ah dalam terminologi yang kedua ini, begitu sibuknya di malam hari terakhir, untuk mengantongi bawaannya.

Sampailah akhirnya, waktu melaksanakan thawaf wada’ datang. Shofi dan istrinya, Siti, serta Crhonos dan istrinya Vetra, bersama seluruh jama’ah rombongannya, bergerak menuju Ka’bah. Wajah-wajah polos tanpa dosa, bergerak mengikuti irama kaki ketuhanan. Peraduan suara kaki manusia dengan altar-altar Ka’bah terasa begitu merdu. Ia menghipnotis nuansa ketuhanan yang tiada tara.

Mekkah kembali mengambil posisinya sebagai Bakkah. Tempat di mana jutaan manusia terpaksa atau dipaksa harus mencucurkan air mata kesyahduan di tempat tersuci dalam perpesktif masyarakat Muslim. Syahdu karena alam primordial manusia kedua akan ditinggalkan. Mereka akan segera kembali ke alam primordial pertama [kampung halamannya] dan berharap dapat kembali ke alam primordial ketiga [akhirat] dengan segenap kesucian.

Saat thawaf, seperti biasa, Shofi kembali naik kursi roda. Si tubuh gempal yang tinggi dengan jenggot melingkari seluruh tubuhnya, selalu setia menanti Crhonos untuk memutarkan Shofi mengelilingi Ka’bah. Tanpa basa-basi, baik Crhonos maupun Shofi langsung saja melakukan titah yang sama seperti pelaksanaan umrah pertama dan thawaf ifadhah.

Pelaksanaan thawaf terakhir dalam pelaksanaan haji, dirasa Shofi sangat berbeda suasananya. Ia seperti menemukan sebuah pencerahan keagamaan. Pencerahan itu, meski bias dan tidak jelas, tetapi, Crhonos mearasa sedang berada dalam titik balik perjuangan. Ia ingin menghabiskan seluruh waktu terakhirya di Ka’bah dengan cara memperbanyak berdo’a di tempat di mana tempat itu, diyakini mustajabah.

Do’a Perpisahan di Thawaf Wada’

Selesai  melaksanakan thawaf, Shofi seperti biasa sudah menunggu kedatangan anak, menantu dan istrinya. Mereka kembali berkumpul, persis di depan maqam Ibrahim …. Shofi dengan pelan meminta anaknya untuk berdo’a dan membiarkan dirinya bersama menantu dan istrinya untuk mengaminkan apa yang dibaca Crhonos. Akhirnya, dengan penuh kesyahduan, anak Shofi itu mengangkat tangan lalu berdo’a. Do’anya adalah sebagai berikut:

“Ya Allah ya rabbi ya kariem … Engkaulah Dzat yang menerima segenap kebajikan. Terimalah ibadah kami dalam segenap ketulusan-Mu sebagai Tuhan Kami. Kami akhirnya tahu dan sadar bahwa Ka’bah ini adalah “rumah”-Mu. Kami, ini adalah hamba-Mu dan anak dari hamba-Mu yang berharap mendapat segenap kebaikan dari-Mu.

Ya Allah … Engkau telah membawa kami dalam hal yang Engkau sendiri memudahkan untuk kami atas segalanya. Engkaulah yang memberangkatkan kami ke negeri-Mu. Engkau juga telah menyampaikan kami dengan nikmat-Mu ke sini. Engkaulah yang menolong kami untuk menunaikan ibadah haji. Jika Engkau rela dan berkenan kepada kami, maka, tambahkanlah keridhaan itu pada kami semua untuk dapat terus menghambakan diri pada-Mu.  Jika tidak, maka tuntaskan sekarang sebelum aku jauh dari rumah-Mu.

Ya Allah aku sangat rindu akan rumah ini. Namun, saat ini sudah waktunya kami pulang. Jika Engkau izinkan aku dengan tidak menukar sesuatu dengan Engkau (Dzat-Mu) ataupun rumah-Mu, dan tidak membuatmu benci kepada kami dan juga benci atas rumah-Mu, berilalah kembali kami segenap kemudahan dalam menjalani hidup.

Ya Allah, berkahilah kami dengan kesehatan dalam segenap jiwa raga kami. Jagalah selalu agama kami. Saat kami kembali ke kampung halaman, kami berharap Kau tetap memberi ketaatan dan kesetiaan kepada-Mu selamanya. Biarkanlah kami tetap hidup di dunia untuk mengumpulkan segenap kebajikan bagi perbekalan kami baik di dunia maupun di akhirat.

Ya Allah … Tak ada Dzat yang Maha Kuasa selain Engkau. Kami tidak berharap saat ini menjadi waktu terakhir kami berada di sini. Janganlah Engkau jadikan waktu ini, sebagai masa terakhir berada di rumah-Mu. Namun jika pada akhirnya, Engkau menjadikan ini sebagai masa terakhir kami, maka, gantikanlah dengan Syurga untuk kami. Kumpulkanlah dan pertemukanlah kami di hawd Muhammad di Alamahsyar, jadikanlah Syurga bagi kami sebagai tempat berkumpul.

Ya Allah dengan rahmat-Mu, yang Maha Pengasih dari segala yang pengasih. Jadikanlah kami kekasih-Mu. Amin …

Kami Saling Memeluk

Shofi tersenyum saat anaknya mengakhiri do’anya. Mereka berempat saling memeluk …. tetesan air mata mengalir deras. Tak terkecuali air mata Crhonos yang bandel. Dalam pelukan penuh keharuan, Shofi menambahkan do’anya dengan pelan:

Ya Allah kini kami berada di Maqam Ibrahim. Jadikanlah aku sebagai makhluk-Mu yang dilaburi kasih sayang sebagaimana Engkau menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Mu. Jadikanlah istriku sebagai Hajar yang mengabdi kepada-Mu dengan tulus dan kepadaku dengan tulus juga. Jadikan juga anakku sebagai Isma’il dan Vetra sebagai istrinya yang selalu setia mendampinginya.

Demi Tuhan …. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Mu. Jadikanlah kami sekumpulan manusia yang selalu berhasyrat untuk betaslim dan bertahsin atas seluruh titah-Mu. Dalam segenap jiwa dan ragaku yang terbatas … berilah kami kekuatan …. Kami selesaikan panggilan-Mu untuk datang ke sini. Terimalah amal ibadah kami …Ya Allah … detik ini, kusempurnakan pakaianku dengan pakaian ketakwaanku. Inilah yang bisa kupersembahkan.

Shofi kembali memeluk anaknya. Ia mengatakan … luluslah kau sebagai anakku. Semoga kau dapat menjadikan anak-anakmu seshalih Isma’il. Kau harus berjanji kepadaku .. untuk tetap datang ke kampung halamanku, saat aku masih ada atau saat aku sudah pergi meninggalkanmu.

Jagalah istrimu dan keluargamu dari api neraka. Jaga tali persaudaraan dan mengabdilah untuk kemanusiaan. Pengabdian kemanusiaan akan mendorong kamu, tetap berada dalam posisi sebagai hujjaj yang tiada akhirnya. By. Charly Siera … Bersambung

Komentar
Memuat...