Inspirasi Tanpa Batas

The Culture Self Discovery itu Sunda Wiwitan| Catatan atas Syurga dari Timur Part – 2

0 2

Konten Sponsor

Meski banyak sejarawan yang yakin kalau pertumbuhan dan asal usul manusia itu berasal dari Asia Tenggara, namun hal ini sering diabaikan. Stephen Oppenheimer menyebut bangsa Asia Tenggara, “dipinggirkan” secara sengaja oleh masyarakat Barat. Ia merasa yakin bahwa, kajian-kajian sejarawan dunia yang belakangan muncul, kebanyakan  terlalu yakin kalau peradaban berangkat dari Barat menuju Timur. Padahal menurutnya, itu terbalik. Seharusnya dari Timurlah pergerakan budaya itu berjalan menuju Barat.

Menurut Stephen Oppeheimer, Timur dalam hal ini Asia Tenggara, sebenarnya sejak pergerakan budaya 2000 tahun Sebelum Masehi, sudah menunjukkan puncak-puncak peradaba. Di suatu zaman yang dikenal dengan sebutan Dong Son atau Bronze Age [Inggris], Timur justru telah menunjukkan keagungan peradaban yang dimilikinya. Barat dan Eropa pada umumnya, justru belajar dari bangsa ini karena peradaban tadi, secara historis tidak banyak ditemukan di Barat.

Apa itu Dong Son

Dong Son atau Bronze Age [Zaman Perungu] adalah suatu periode perkembangan peradaban yang ditandai dengan penggunaan teknik melebur tembaga dari hasil bumi. Hasil peleburan itu dibuat menjadi perungu. Dari perungulah kemudian produk-produk peradaban dibuat. Secara akademik, zaman ini berada di antara zaman batu dan zaman besi. Inilah bagian dari peradaban manusia pra sejarah yang terjadi setelah periode Neolitikum [zaman Batu Muda].

Produk Neolitikum adalah kebudayaan zaman prasejarah yang mempunyai ciri-ciri berupa unsur yang membuat hampir seluruh produk peradaban terbuat dari batu. Produk dimaksud seperti batu yang diasah, pertanian sudah menetap, peternakan, dan pembuatan tembikar. Ia bersama beberapa arkeolog menyebutkan bahwa sejak 15 ribu sampai 10 Ribu tahun Sebelum Masehi, pertanian di Indonesia misalnya sudah jauh lebih sistematis. Kemampuan masyarakat ini, sudah mampu mengalahkan Peradaban Cina dan Barat.

Jangankan dengan Cina, dengan Thailand yang dalam 200 tahun belakangan, diyakini sebagai titik mulai peletakkan peradaban dunia pertanianpun, ternyata masyarakat Indonesia sudah jauh mengunggulinya. Ia menunjukkan bukti misalnya, pembudidayaan Ketela Rambat dan Talas itu sudah dikerjakan petani Indonesia sejak 15 000 -10000 SM. Ia juga menunjukkan fakta lain bahwa pembudidayaan beras sudah dilakukan di masyarakat ini ribuan tahun sebelum Masehi. Produk beras masyarakat Indonesia bahkan mengalahkan masyarakat Thailand. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar