Take a fresh look at your lifestyle.

Theology Kebebasan Beragama Dalam Al Quran

0 18

Konten Sponsor

Beragama adalah hak dasar manusia. Dimanapun, tidak diperkenankan ada komunitas tertentu yang melarang orang lain untuk mengekspresikan sikap keberagamaan atau cara pandang keagamaan yang dianutnya. Inilah tradisi masyarakat Muslim terdahulu yang dipraktekkan Rasulullah bersama para sahabatnya baik di Mekkah maupun di Madinah. Mereka sangat toleran terhadap pandangan masyarakat yang plural dan tampak berbeda satu sama lain.

Salah satu landasan theologis kebebasan ekspresi keagamaan ini, dapat dibaca misalnya ayat al Qur’an khususnya dalam surat  Al- Kahfi [18]: 29 yang artinya: “Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.

Ayat ini, oleh para mufasir sering disebut sebagai landasan utama membangun toleransi. Ini juga menjadi salah satu alat picu mengapa masyarakat Muslim di Meiterrania mampu menjadi kelompok beradab pertama di dunia. Hasil yang dicapai dari cara dan karakter yang plural ini,  telah membentuk masyarakat baru dan sangat moderen. Kemajuan inilah yang kemudian menyilaukan siapapun yang pernah mengkaji Islam akan berbagai peradaban yang dibangun didalamnya.

Karena itu, menjadi mudah difahami mengapa BJ. Habibie bersama timnya di ICMI hendak membangun masyarakat Madani ala Indonesia, atau konsep Civil Society-nya Mahathir Muhammad di Malaysia. Dua pemimpin besar Asia waktu itu, memimpikan bagaimana semangat Islam awal gaya Rasulullah dan sahabatnya mampu dielaborasi ke dalam konteks negaranya masing-masing yang kebetulan mayoritas Muslim namun memiliki tingkat pluralisme yang sangat tinggi.

Sipat inilah dalam anggapan dua tokoh dimaksud, yang menyebabkan suatu bangsa dapat hidup dengan besar dan dikagumi dunia. Tanpa ada satu sikap yang membangun jiwa kebersamaan dalam segenap perbedaan, maka bangsa dimaksud, tidak mungkin tumbuh menjadi bangsa yang disegani dunia.

Toleransi adalah Watak Islami

Toleransi beragama, dengan demikian, adalah Islami. Islam tidak pernah memberi toleransi kepada mereka yang tidak toleran. Rujukan lain tentang toleransi itu, dapat dibaca misalnya dalam surat al Kafirun [109]: 1-6 yang dalam tafsir Ibnu Jarir, disebut bahwa surat dimaksud turun untuk memberikan ketegasan kepada orang kafir Quraisy, akan kebenaran yang dibawa Nabi Muhammad, yang ditentang kafir Quraisy dengan cara yang sangat kasar. Sipat dan sikap mereka yang kasar terhadap nabi dan umatnya itu,  dilawan dengan sikap tegas akan kebebasan beragama salah satunya melalui surat ini.

Selain ayat dimaksud, tentu masih terdapat ayat lain, yang substansinya sama, bagaimana ajaran Islam menghormati perbedaan pandangan dan sikap keberagamaan yang dianut masyarakat. Ayat-ayat dimaksud, terlihat dari Surah al Baqarah [2]:256 yang artinya: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang kuat dan tidak akan putus. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Bagaimana toleransi harus dibangun? Toleransi sejauh yang mampu saya kaji, hanya akan lahir dari dua karakter manusia. Kedua karakter itu adalah ilmiah dan ketercukupan. Namun dibandingkan dengan karakter kedua, karakter pertama harus menjadi jalan utama untuk mendapat sikap toleran. Inilah mengapa Islam mengajarkan bahwa beragama harus didasarkan atas ilmu pengetahuan agar ia sanggup untuk dikritik dan dianalisis kebenaran ajarannya.

Landasan Nash tentang Toleransi

Al Quran sendiri adalah penerang jalan kehidupan manusia. Ia, petunjuk dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Hal ini terlihat dari al Qur’an Surat Ali Imran [3]: 138 yang artinya: “Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar suatu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” Al Qur’an Surat Al Haaqqah [69]: 48 yang artinya:  “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran”.

Di surat lain, misalnya dalam Surat Shaad [38]: 29 Allah berfirman: “Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).

Melengkapi keterangan dimaksud, penulis tambahkan pula Surat Al Baqarah [2]: 269 yang menyatakan:Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.” Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga). ** Cecep Sumarna

[1] Makalah ini dipresentasikan dalam Fokus Group Discussion yang diselenggarakan Yansos Pemda Kabupaten Kuningan, 03 Juni 12016

** Guru Besar Filsaat Ilmu IAIN Syekh Nurjati Cirebon