Tidak Ada Alasan Untuk Menangis (PASKIBRA PEMANTANG SIANTAR)

0 3

Di hari kemerdekaan Negara Republik Indonesia Yang ke 71 semua rakyat Indonesia bebahagia, dan bersuka cita. Dari kalangan anak-anak sampai orang dewasa ramai bertumpah ruah dijalan dan ikut dalam upacara HUT RI ini. Sepertinya semua kalangan masyarakat hanyut dalam suka cita ini. Yang paling bangga dan bahagia tentunya tim pengibar bendera di masing-masing upacara diadakan. Namun kesedihan dan haru terjadi pada tanggal 17 Agustus 2016 di Pematang Siantar, tim paskibra Pematang Siantar gagal mengibarkan bendera merah putih yang diadakan di alun-alun Pematang Siantar.

Berita ini begitu menggeparkan, bagaimana tidak semua pasukan paskibra menagis setelah insiden itu. Banyak alasan yang beredar menjadi penyebab insiden tidak naiknya bendera merah putih meski lagu Indonesia Raya sudah selesai dikumandangkan dalam perayaan Hari Ulang Tahun RI di Kota Pematangsiantar yang berlangsung di Lapangan Adam Malik, Rabu (17/8/2016)

Kenapa Harus menangis?

Hal ini adalah kejadian biasa yang tak perlu di tanggapi secara serius. Apa yang menjadi alasan untuk menangisi kejadian seperti itu? Rasanya tidak ada.

Bangsa ini nyaris kehilangan identitasnya. Sudah tak mengerti bagaimana menghormati secarca hakiki. Perayaan hanya sebatas pelampiasan kesengsaraan. Esensi seperti apa yang tereflekasikan setelahnya. Penghormatan terhadap lambang negara adalah sakral. Bukan hanya kedok dan kamuflase yang diadakan. Mayoritas masyarakat bangsa kurang memahami kesakralannya. Ukuran kecintaan memang sulit untuk diutarakan dan tak bisa dibicarakan. Menangis bukan berarti mencinta, tertawa bukan berarti mencela, bergerak bukan berarti memperbaiki, dan diam pun bukan berarti tidak berstrategi.  Menangis bukan ukuran dasar kecintaan, bukan pula berarti sebagai penyesalan. Tak ada alasan menangis bagi mereka yang tak berhati nurani.

Cinta akan negara adalah rasa. Menambah dan memperdalam pengetahuan tentang cinta adalah kuncinya. Seberapa jauh kita mengenal bangsa, memperdalam ideologi, menghayati konstitusi, dan meluhurkan budi? Mereka tak akan mengerti kalian menangis, mereka tak akan peduli kesedihan yang dialami, karena mereka sungguh-sungguh tidak mengerti. Sekali lagi mereka sungguh tidak mengerti.

Tangisan kalian di pandangi kain. Kain berwarna merah dan putih, rasa kalian di kelilingi berani dan suci. Kalian putra-putri bangsa yang mengerti, mengerti arti menghormati. Jangan keluarkan alasan tangisan kalian, biarkan terkubur dalam, terkubur di sanubari. Biarkan itu mendarah daging sampai nanti, sampai kalian mengetahui mana orang yang mengerti negeri dan orang yang menjadi bajingan dalam negeri. Memakan bangkai bangsa sendiri. Menangislah karena ibu pertiwi pun menangis. Bersedihlah karena merah-putih pun kini menangis. ***al(i)    

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.