Tidak di Sadari Padahal 3 Hal ini Membuat Hidup Susah

0 333

Hidup bahagia tentu menjadi harapan semua orang. Sementara hidup sengsara tentu tidak ada yang memimpikannya. Kebahagiaan hidup tentu harus digapai oleh niat yang tulus. Niat itu memiliki makna tidak sekedar mengucapkan di mulut saja, namun segera dibarengi dengan tindakan yang merupakan rangkaian yang tak terpisahkan dari ucapan sebelumnya. Kekeliruan yang terjadi dalam persepsi adalah bahwa niat hanya bermakna mengucapkan saja. Padahal, niat merupakan intergrasi antara ucapan dan tindakan yang menyelaraskan ucapan sebelumnya. Oleh karena itu, tidak ada satu orangpun yang sudah memiliki niat tapi dia tidak bertindak. Seseorang yang mengatakan bahwa dia sudah niat namun belum melaksanakan dalam bentuk tindakan berarti ia sebenarnya memahami niat sebagai ucapan atau rencana semata. Ini pemahaman yang sangat keliru.

Berbicara masalah kebahagiaan, tentu banyak penopang yang dapat mendukung kebahagiaan itu. namun, dalam tulisan ini, penulis ingin mengemukakan masalah atau penyebab mengapa kebahagiaan itu tidak juga hadir dalam kehidupan kita. Setidaknya, sesuai dengan pengalaman penulis yang menemukan beberapa kasus di lapangan bahawa penyebab kesengsaraan hidup seseorang ada tiga, yaitu durhaka kepada orang tua, mendzalimi orang lain dan tidak berterima kasih kepada kebaikan orang lain.

Durhaka Kepada Orang Tua

Durhaka merupakan satu terma religius. Kata ini menjelaskan bagaimana seseorang akan mendapatkan satu hukuman jika tidak melakukan instruksi Allah swt. Durhaka merupakan hubungan atas seseorang yang membangkang atau mengabaikan perintah-perintah Tuhan. Salah satu perintah Tuhan adalah seorang anak harus patuh pada orang tuanya selama orang tuanya berjalan atas dasar ajaran-ajaran agama. Anak yang durhaka dapat dicerminkan dengan keengganannya untuk menuruti apa kata orang tua. Secara sederhana, ketidakpatuhan anak kepada orang tua dapat dilihat dengan cara mereka memperlakukan orang tua; tidak menghargai, tidak menyayangi, tidak memberikan kebahagiaan yang orang tua inginkan, dan meninggalkan kehidupannya tanpa rasa menyesal dan bersalah.

Kejadian tentang anak durhaka kepada orang tua ini sudah banyak dicontohkan dalam tema-tema kehidupan. Kesengsaraan yang melanda anak durhaka kepada orang tua ini diakibatkan pada ketidakpercayaan seorang anak bahwa kekuatan magis atas doa-doa orang tua itu sungguh luar biasa. Dalam konteks ini, kesengsaraan yang melanda anak durhaka kepada orang tua terlihat ketika kehidupannya penuh kegelisahan dan serba kekurangan. Kegelisahan dan merasa kekurangan bukan berarti bahwa ia tidak memiliki harta, bukan karena tidak memiliki karir yang hebat di sebuah perusahaan atau sukses dalam usahanya. Namun, mereka cenderung merasakan ketidaknyamanan hati dan tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Dalam istilah agama, kehidupan ini disebut tidak barokah. Kehidupan yang barokah dicerminkan dengan kondisi kehidupan yang damai terlihat orang lain dan tenang secara pribadi. Ketenangan itu ada di hati. Ketika hati sudah tenang pasti tidak akan merasa serba kekurangan dan merasa tidak cukup. Inilah inti kehidupan tanpa durhaka kepada orang tua.

Mendzalimi Orang lain

Penyebab hidup sengsara yang kedua adalah mendzalimi orang lain. Dengan kata lain mendzalimi adalah berbuat tidak baik. Kehidupan merupakan hubungan sebab akibat. Tidak ada kejadian apapun yang tidak diawali dengan sebab. Begitu pula ketika kesengsaraan dan ketidaknyamanan hati pada diri kita karena kita pernah berbuat jelek kepada orang lain. Kita sering tidak menyadari bahwa ketika kita menganggap sederhana perlakuan jelek kepada orang lain padahal memberikan efek kekecewaan luar biasa dan selalu diingat. Sehingga, kekecewaan orang lain itu bisa jadi awal untuk mendoakan jelek pula kepada kita. Karena kita tidak pernah tahu doa siapakah yang dapat dikabulkan oleh Tuhan. Sekecil apapun doa jelek dari orang lain akan menjadi kerikil tajam penghalang kebahagiaan seseorang dalam hidup.

Berhentilah untuk menyakiti orang lain dan sadarilah bahwa apa yang kita lakukan kepada orang lain apakah nyaman atau tidak. Kita harus senantiasa berusaha bagaimana perbuatan yang kita lakukan untuk orang lain semata-mata untuk diri kita. Tidak ada tindakan sedikitpun yang kita lakukan tidak akan ada akibatnya. Tidak akan sia-sia atas apa yang kita lakukan hari ini. Semuanya akan berpulang kepada kehidupan kita di masa mendatang, kebahagiaan atau kesengsaraan.

 Tidak Berterima Kasih Kepada Orang Lain

Aspek ketiga penyebab kesengsaraan hidup adalah tidak berterima kasih kepada orang lain. Terima kasih adalah perkara sederhana, bisa menjelma dalam bentuk ungkapan atau bentuk lain seperti perlakuan baik atau pemberian sesuatu. Berterima kasih kepada orang lain yang telah berbuat baik kepada kita tentu menjadi satu siklus hidup kita yang terjadi untuk saling menguatkan. Bagaimana kekeluargaan, persahabatan kita akan terjaga bila diantara kita mampu saling menjaga perasaan. Menjaga perasaan itu dapat muncul dengan sederhana yaitu ungkapan terima kasih.

Hakikat manusia adalah menginginkan sebuah pengakuan. Bertindak sesuatu yang mencerminkan ‘rasa terima kasih’ adalah satu simbol bagaimana seseorang memberikan pengakuan kepada orang lain. Pengakuan itu akan semakin menguatkan tali persaudaraan kita. Lupa memberi terima kasih kepada orang lain sama halnya dengan memutus mata rantai kebaikan yang hendak dibuat jembatan oleh orang lain. Sebagai efek kehidupan yang realistis dan faktual adalah ketika seseorang tidak sekedar siap untuk menerima namun siap juga untuk memberi. Memberi terima kasih kepada orang lain adalah tanda seseorang siap menjaga kebaikan yang telah diberikan kepada orang lain. Sejauh seseorang mampu mempertahankan kebaikan kepada siapapun adalah pertanda bahwa ia adalah seseorang yang terhindar dari kesengsaraan dalam hidupnya. Semakin sulit kita melakukan terima kasih kepada orang lain maka semakin sulit pula kebaikan itu akan hadir kembali dalam hidup kita. Dan ketika kebaikan dalam hidup itu telah terkunci maka kebahagiaan tidak akan dialami oleh siapapun. Terima kasih adalah perkara sederhana namun terkadang sulit untuk dilakukan.***Nanan Abdul Manan

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.