Inspirasi Tanpa Batas

Tiga Golongan Manusia Pada Hari Kiamat

0 129

Konten Sponsor

Golongan Manusia: Ayat-ayat yang Allah perlihatkan kepada semisal Samples dalam diri kemanusiaan jika dibandingkan dengan yang muncul dalam ayat-ayat Allah dalam kitab yang diturunkan kepada Muhammad SAW –dan akan jelas kebenaran yang membagi manusia dan membagi tempat kembalinya di akhirat. Manusia –berdasarkan pembagian qur`an- membagi manusia pada hari kiamat ke dalam tiga golongan:

Golongan pertama, yang disebut ashab al yamin yang masing-masing diberi kitab dengan tangan kanan dan mendapat ridha dan pahala Allah yang abadi di surga.

Golongan kedua, yang disebut ashab asy-syimal yang masing-masing diberi kitab dengan tangan kirinya dan mendapatkan murka dan siksa Allah yang abadi di neraka.

Golongan ketiga, yang disebut al muqarrabun dan as-sabbiqun as-sabiqun yang didekati Allah di surga dan menyempurnakan kepada mereka rahmat dan bau harum.

Isyarat kepada kiri dan kanan di sini bukan kepada tangan kiri dan tangan kanan sebagaimana dikemukakan oleh para penafsir. Dan tidak penting kitab itu adalah kitab yang terbuat dari kertas bertulis akan tetapi tempat penyimpanan kepercayaan dan pemikiran yang merupakan lingkaran pertama dalam perilaku dan perbuatan. Tidak diragukan lagi bahwa otak adalah tempat penyimpanan pikiran atau awal perbuatan.

Golongan Ashab Al Yamin

Golongan pertama yang disebut dengan ashab al yamin adalah mereka yang mengembangkan pendidikan iman “otak kanan” dan menghubungkannya dengan yang ghaib yang diberitahukan oleh wahyu atau agama sebagaimana dikatakan Samples kemudian berjalan dalam perilaku mereka yang sesuai dengan instruksi wahyu dan nampak buah dari roientasi ini dalam perbuatan, kehidupan dan kebiasaan mereka.

Golongan Ashab Asy Syimal

Golongan kedua yang Qur’an sebut dengan yang mengembangkan pendidikan tidak beriman “otak kiri” bukan otak kanan. Sehingga mereka sibuk dengan alam materi sehingga kosong dari petunjuk “otak kanan”. Mereka terputus dari yang ghaib, ruh dan kehendak yang mulia yang memusatkan kepada petunjuk wahyu. Selanjutnya perilaku mereka tidak menjalankan petunjuk atau instruksi dari “sumber-sumber” yang menjadi rujukan “otak kanan” dan berakibat pada tidak adanya petunjuk ini dalam perbuatan dan perilaku individual dan politik sosialnya.

Golongan Al Muqarrabun

Golongan ketiga yang Qur’an sebut dengan al muqarrabun. Richard van Skotter membayangkan agar pendidikan menghasilkannya melalui pertemuan antara otak kiri dan otak kanan. Mereka adalah yang dalam dirinya terdapat dua otak dan saling menyempurnakan perbuatannya dan mengarahkan aktivitas dan praktek mereka sehingga nampak buah dari orientasi ini dalam perbuatan dan praktek individual mereka dan politik individual mereka.

Ayat-ayat Qur’an memberikan isyarat kepada bentuk manusia yang memusatkan pada keanekaragaman manusia ini. Manusia yang dididik langsung oleh tangan para Rasul yang Allah utus untuk mengikat antara aktivitas wahyu, akal dan indera. Isyarat Qur’an menjelaskan bahwa mereka adalah segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu. Dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian (rujuk surah Al Waqi’ah 27-56 dan ayat 91).

Masalah Yang Diderita Dunia Modern

Masalah yang diderita dunia modern tergambar dari dua aspek:

Aspek pertama, Logical Mind mendapatkan perhatian pendidikan yang pengaruhnya nampak dalam temuan ilmiah dan kemajuan teknologi. Sementara Metaphoric Mind tidak mendapatkan perhatian yang semestinya. Atau mencitrakan buruk aktivitas dan penggunaannya.

Pengaruh ketertinggalan pendidikan ini nampak dalam wujud krisis moral dan sosial yang berbahaya yang diderita oleh manusia modern dalam taraf individu dan kolektif dan dalam taraf hubungan kenegaraan di seluruh dunia. Ini adalah kondisi metode pengetahuan alam di lembaga-lembaga pendidikan yang ada di dunia modern dan yang diikuti oleh dunia ketiga.

Aspek kedua adalah ketika taklid, stagnasi, endapan patriarkhi yang bersifat rasis menahan “otak kanan” yang menghubungkan dengan alam wahyu. Sehingga menghalanginya untuk berbuat dan berhubungan secara langsung dengan ayat-ayat Allah dalam kitab. Dan memenjarakannya dalam tembok “nenek moyang” dan mazhabisme. Ia meninggikan pemahaman terhadap kitab dan sunah sampai ke taraf kitab dan sunnah itu sendiri.

Kemudian ia mengambaikan “otak kiri” yang sampai kepada alam dan memberikan petunjuk kepada ayat-ayat Allah di afaq dan anfus dan menyingkap hukum-hukum yang menjalankan alam ini dan yang Allah jadikan sebagai “laboratorium” di mana manusia memasukinya untuk membuktikan kebenaran berita wahyu dan mendalami dengan keyakinan yang sesungguhnya.

Aspek kedua adalah kondisi metode pengetahuan yang ada di wialayah-wilayah Arab dan Islam dan kondisi lembaga-lembaga pendidikan yang lahir darinya. Masalah yang diderita oleh metode pengetahuan modern adalah dikhotomi antara wahyu, akal dan indera. Orang-orang Barat berpegangan kepada akal dan indera tanpa wahyu. Seperti orang yang memiliki penglihatan yang sehat yang dengan kesehatan penglihatannya tidak memerlukan matahari atau lampu.

Sementara yang ada di dunia Islam berpegangan kepada wahyu dan mengabaikan  pengembangan akal dan indera. Sehingga perumpamaannya adalah seperti yang berpegang pada cahaya matahari atau cahaya lampu. Sementara kebutaan menimpa penglihatan mereka.

Oleh: Dr. Majid Irsani Al Kailani

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar