Tiga Orang Kaya Cirebon Masa Lalu, Siapakah Mereka?

0 791

PALING tidak ada tiga orang kaya pada awal tahun 1900an, Ki Mardiya (Gegesik), Nyai Hj. Moentoek (Losari) dan Tan Tjin Kie (Cirebon).

Ki Mardiya

Di daerah Cirebon bagian utara, Gegesik seorang tuan tanah kaya raya bernama “Ki Mardiya”. Nama tokoh ini bukan fiktif, seperti yang diceritakan dalam drama Tarling Cerbonan. Ki Mardiya dipastikan ada.

Ki Mardiya dikenal sebagai tuan tanah yang memiliki ratusan hektar tanah sawah maupun kebun yeng tersebar di berbagai tempat di Kecamatan Gegesik. Lantaran hartanya yang berlimpah itulah masyarakat di Cirebon dan sekitarnya mengibaratkan kekayaannya sebagai “kaya bandha kayane Ki Mardiya”. Dalam cerita drama tarling karya H. Abdul Adjib, Ki Mardiya digambarkan sebagai orang kaya raya yang kikir, tak pernah mendermakan hartanya sediki pun. Pada akhir cerita Ki Mardya jatuh miskin dan menjadi pengemis.

Ki Mardiya adalah seorang tokoh masyarakat Desa Gegesik Kidul Kecamatan Gegesik Cirebon. Ayahanda penulis H. Hasyim M. Noer pernah menceritakan keberadaan sosok kaya raya tersebut. Ia diperkirakan hidup pada awal tahun 1900an. Karena limpahan kekayaannya itu setiap hari Jumat Ki Mardiya menyodakohkan kekayaannya dalam bentuk ”berkat” (bungkusan nasi dan lauk pauknya)  serta uang kecil kepada setiap orang yang lewat di perempatan jalan. Pada masa itu tumpukan “berkat” makanan disediakan di pojok perempatan jalan Desa Gegesik.

Sosok Pekerja Keras dan Tangguh

Kekayaan Ki Mardiya ini dibenarkan salah seorang cucunya Haji Suyeni ketika dikonfirmasi penulis tahun 1982 dan konfirmasi ulang dengan buyutnya Suyatno. Suyatno sendiri pernah menjabat sebagai Kuwu Desa Gegesik Lor dan sekarang merupakan PNS (Pegawai Negeri Sipil) di Kantor Kecamatan Gegesik Kabupaten Cirebon.

Menurut Suyatno, Ki Mardiya memiliki seorang anak bernama Ki Sangid (kemungkinan bernama asli Haji Said). “Ki Sangid ini pernah menjabat sebagai Kuwu Desa Gegesik Kidul pada sekira tahun 1930an”. Ki Sangid berputra dua orang, Suyono dan Suyeni. Suyatno sendiri merupakan salah seorang putra dari Suyono. Menurut Suyatno, makam buyutnya terletak di sebelah barat Desa Gegesik Lor di komplek kibuyutan Nyai Emban Lara Panas.

Kekayaan Ki Mardiya tidak didapat begitu saja, tetapi dari hasil kerja keras. Ia seorang perantau dan petani yang tangguh. Hasil keuntungannya berdagang itulah dikumpukan dan diinvestasikan melalui pembelian tanah rakyat di berbagai daerah. Hingga tahun 1980an tanah milik Ki Mardya masih berserak di berbagai tempat.

Putranya Ki Sangid, mewarisi kekayaan ayahnya. Saking kaya rayanya, menurut ayahanda penulis, H. Hasyim M. Noer, pernah pada masa penjajahan Jepang (1942- 1945an),  ratusan ton padinya diangkut puluhan truk militer Jepang.  Tapi tak pernah habis, padahal setiap harinya diambil paksa dari gudang milik Ki Sangid. Hingga kini,  baik  Ki Mardiya maupun Ki Sangid masih menyisakan nama besar dan kekayaan tahanya.

Nyai Hj. Moentoek

Pada masa yang sama, awal 1900an di daerah Losari hidup seorang janda kaya raya bernama Hj. Moentoek. Nama ini memang tak setenar nama Ki Mardiya. Namanya mencuat pada sekira awal 1982an, ketika terjadi kisruh warisan di antara keluarganya. Hj. Moentoek adalah seorang janda tak beranak yang memiliki ratusan hektar sawah dan kebun di daerah Losari.

Pengacaranya saat itu Morlan, SH berusaha mengungkap kekayaannya melalui keterangan para ahli warisnya, namun tak menemui titik temu. Sumber-sumber ahli warisnya pun tak jelas, sehingga kekayaannya terkatung-katung hingga kini.

Tan Tjin Kie

Ia tokoh etnis Tionghoa Cirebon yang diberi anugerah pangkat Majoor (titular)  oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Rumahnya di Jl. Pasuketan (kini ruang pamer mobil) masih menyisakan bangunan-bangunan bercirikan Cina. Di belakang show room tersebut masih terlihat rumah beratap naga dan ukiran-ukiran Cina.

“Tan Tjin Kie telah menjadi legenda masyarakat Tionghoa di Cirebon,” kata sesepuh masyarakat Tionghoa Cirebon, dr. Iwan Satibi (72) yang memiliki nama asli Ie Tiong Bie kepada penulis. “Beliau adalah orang besar yang patut mendapat penghormatan abadi. Kami mengusulkan agar makamnya kembali digali. Demikian pula dengan makam isterinya tercinta dan sisa-sisa jasadnya bisa dikremasikan.”

Siapa Tan Tjin Kie? Kamis Wage, 13 Februari 1919 bertepatan dengan 12 Jumadil Awal 1337 H, Kota Cirebon dikejutkan dengan datangnya ribuan penduduk dari berbagai daerah ke Jl. Pasuketan. Mereka terdiri dari berbagai etnis. Meski diakui etnis paling besar yang datang ke tempat itu adalah Tionghoa.

Jalanan kota tertutup rapat oleh  lautan manusia dari berbagai penjuru. Merayap memasuki Jl. Pasuketan bau asap hio makin menyengat. Makin dekat, makin sesak. Puluhan orang berbaju putih berkerudung terbuat dari kain blacu – sebagai simbol dukacita – nampak bersembahyang di depan peti jenazah. Jenazah yang tengah dibaringkan itu ternyata tak lain adalah Majoor Tan Tjin Kie. Seorang mayor tituler Hindia Belanda keturunan Tionghoa yang kaya raya.

Sosok Tan Tjin Kie

Ia merupakan orang Tionghoa terkaya di Cirebon. Memiliki puluhan rumah mewah dan ribuan hektar tanah serta pabrik gula. Salah satu rumahnya yang paling mewah berada di Desa Luwunggajah – kini masuk Kecamatan Ciledug – diberinama Binarong.

Nama Majoor Tan Tjin Kie memiliki pengaruh luar biasa dalam dunia politik dan militer di Kota Cirebon saat itu. Karena nama besarnya itu, Konsul Jenderal dari Tiongkok pun turut melayat ke Cirebon. Termasuk utusan Gubernur Jenderal Pemerintah Hindia Belanda, Residen Cirebon dan para Sultan Cirebon. Diperkirakan lebih dari 200.000 orang menyaksikan prosesi jenazah tersebut.

Dari catatan yang ditulis putranya, Tan Gin Ho dalam Peringetan dari Wafatnya Majoor Tan Tjin Kie (ditulis pada 15 September 1919), mencatat dalam dialek bahasa Melayu rendah. Saat itu Kota Cirebon benar-benar penuh sesak oleh orang-orang yang datang dari berbagai penjuru.

“Kota Cheribon belon tahoe lihat datengnja orang begitoe banjak seperti di itoe waktoe, jang banjaknja orang ada berlipet-lipet lebih besar dari karamean waktoe moeloed, kaloe pelal pandjang djimat kloear, berlipet-lipet lebih besar dari di keramean pesta Radja, di karamean Tjapgouwme dan di karamean apa djoega. Pendeknya kota Cheribon belon perna kadatengan orang begitoe banjak dari segala bangsa, seperti di waktoe djinazatnja Papa di koeboer.”

Tan Tjin Kie dilahirkan pada Minggu Pon tanggal 25 Dji-gwee It-bauw tahun Kwie-thiu 2404 atau 1853 Masehi. Meninggal dalam usia 66 tahun. Kematiannya dirasakan begitu cepat. Ia seorang anggota militer (titular) merangkap ambtenar yang kaya raya. Tak hanya memiliki puluhan rumah mewah, tetapi juga tanah dan pabrik gula.

Akhir Hayat Seorang Tan Tjin Kie

Dari catatan dan berita-berita yang ditulis Cheribonsche Courant yang dikumpulkan anaknya, Tan Tjin Kie mulai terganggu kesehatannya sejak anak perempuannya Dicky (Gwat Eng) menikah pada awal 1919. Lantaran pesta pernikahan yang dilakukan secara besar-besaran, ia merasa terlalu lelah dan kurang tidur. Meskipun sejak 1917 sang mayor itu sudah mulai merasakan sesak nafas dan memasuki 1918 kakinya mulai bengkak-bengkak. Dari hasil pemeriksaan dokter jantungnya mengalami gangguan serius, karena itu ia dianjurkan banyak istirahat.

Pada Juni 1918 Tan Tjin Kie mengalami sakit yang agak berat, sehingga dokter pribadinya, dr. E. Gotlieb harus mengundang dokter ahli bernama dr. C.D. De Langen dari Batavia. Saat itu kesehatannya berhasil pulih. Sejak 3 November hingga pertengahan Desember 1918 Mayor Tan Tjin Kie terpaksa tetirah di vilanya Kalitanjung.

Vila yang dimiliki Tan Tjin Kie di Kalitanjung sebenarnya memiliki motif yang hampir sama dengan bangunan-bangunan kantor pemerintahan yang mulai diperkenalkan masyarakat Cirebon pada awal 1800an. Mirip keraton Kacirebonan. Memiliki pekarangan luas dan undagan (tangga) serta pada kiri kanan bangunan terdapat pintu gerbang. Di vilanya ini Majoor Tan Tjin Kie beristirahat sekira satu setengah bulan.

Kematian Tan Tjin Kie ditandai dengan gejala-gejala mistis yang unik. Beberapa hari sebelum tahun baru Januari 1919 misalnya, selalu terdengar suara burung dares (burung hantu). Semakin lama semakin nyaring suaranya. Hal itu terjadi pada setiap malam, sehingga sangat mengganggu tidur keluarganya. “Tidak enak sekali ada itoe soewara, setahoe maoe ada apa di kota Cheribon, apa brangkali bakal ada penjakit,” kata Tan Gin Ho. ­ ***

Oleh NURDIN M. NOER

Wartawan Senior, Pemerhati Kebudayaan Lokal

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.