Take a fresh look at your lifestyle.

Tiga Puisi Setengah Dewa | Kumpulan Puisi Prof Dr H Cecep Sumarna Part – 2

0 161

Tiga puisi Prof. Dr. Cecep Sumarna, kembali lyceum hadirkan. Tema Puisi kali ini diberi judul Setengah Dewa. Dikasih judul puisi seperti itu. karena puisi kali ini berisi harapan hadirnya kebenaran dan kejujuran yang sulit diimplementasikan. Puisi-puisi yang ditulis Prof. Cecep Sumarna, seperti biasa selalu tak pernah mampu dibaca untuk siapa dan mengapa ia menulisnya.

Team editor lyceum kali ini, memilih tiga puisi untuk diupload. Menurut kami, puisi tersebut menyentuh arasy dasar kemanusiaan. Berikut puisi yang kami tayangkan:

Membaca Takdir

Aku sedang membaca takdirku
Dalam sejumlah lembaran buku Tuhan
Kukhidmati semua tulisan Tuhan tentangku
Meski ternyata sangat sulit kumaknai

Aku sedang menanti impian
Yang kupercaya dititipkan Tuhan untukku
Impian besar yang dicatat-Nya di perpustakaan rahasi-Nya
Meski rumit dibaca tetapu kupastikan itu nyata

Aku kini sedang berjalan di sebuah titian
Titian yang mengajak-ku pada segenap kebenaran
Yang didalamnya terlampau banyak persimpangan
Yang membuat aku hampir terjatuh

Aku tak lelah untuk menerjang badai
Dan tak kuminta bantuan selain kepada Tuhan
Kupercaya Tuhan telah menyiapkan jiwa raga
dalam segenap tulang yang kokoh

Jika pada akhirnya
Segalanya hanya mampu kujalani
Tanpa kemampuanku tuk membacanya
Maka semoga Kau berkenan memaafkannya

Jika ujung setiap penantian
Tak mampu membuat mimpi yang Kau titipkan
Menjelma dalam suatu kenyataan
Semoga Kau berkenan mengampuniku

Dalam Sepi

Tak banyak yang tahu kalau aku kesepian
Sepi dalam menggapai segala impian
Tak banyak yang tahu kalau aku berpeluh rindu
Rindu akan suasana yang tak mampu kutuliskan

Kerinduanku kini beradu dengan segenap kekalutan
Kalut Kehilangan harapan
Kalut kehilangan impian
Kalut segala hal yang tak mungkin kuutaskan

Tak banyak yang tahu kalau aku sedang berbuat sesuatu
Sesuatu yang tak biasa dilakukan banyak orang
Tak banyak yang tahu kalau aku sedang merajut impian
impian yang hanya kutulis dalam daging kenyal tubuhku

Jika saatnya semua datang
Menghampiriku dengan segenap kenyataan
Maka betapa aku bahagia
Dan betapa aku dibuat manja

Itu Badaimu bukan Badaiku

Kau datang dengan sejumlah badai
Badai yang mungkin sulit kau hindari
Kau datang menyampaikan pesan samar
Tapi sayang tak mungkin kuberikan bantuan

Badaimu bukan badaiku
Aku tak pernah menabur angin
Aku tak pernah menabur benih keburukan
Meski aku juga tak asyik menyaksikan

Kau goreskan tinta-tinta keburukan
Dan sulit kuingatkan akan buruknya sebuah tindakan
Kau kunci syaraf senyummu
Saat semua orang butuh senyuman

Kau tutup pintu semua orang yang datang
Kecuali mereka yang membawa berita keburukan
Kuingatkan itu berbahaya
Tetapi kau tetap tak percaya

Kini ketika semua pintu terkunci
Kini ketika semua syaraf senyum orang terbuka
Kau tetap dipaksa berhenti dalam keakuan tanpa senyum
Kau akhirnya diam tanpa sedikitpun kawan

Badaimu bukan badaiku
Tak pantas kau menyindirku
Akan ketidakpedulianku tentangmu
Karena tak mungkin kumampu membantu

Maaf kawan

** Kumpulan Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar