Timbulnya Pertentangan Akibat Terbatasnya Pendidikan Modern Pada Wilayah Produksi-Konsumtif

0 29

Di antara akibat terbatasnya pendidikan modern pada wilayah produksi-konsumtif adalah munculnya sejumlah pertentangan dalam kehidupan manusia, dan pertentangan-pertentangan tersebut adalah sebagai berikut:

Pertentangan Antara Watak Manusia dan Idealisme

Pertama, pertentangan antara watak manusia dan idealisme yang diarahkan oleh pendidikan modern. Karena studi watak dan konstitusi manusia sebagaimana berpengaruh kepada perilaku sosial, kejiwaan dan rasionalnya. Ia mengungkapkan bahwa idealisme -atau model kehidupan- yang menyenangkan dan membahagiakan manusia. Juga mencurahkan apa yang bisa dilakukan untuk merealisasikannya adalah sesuai dengan model idealisme yang ditawarkan oleh hubungan ibadah dan konsepnya yang Islami. Walaupun berbenturan dengan model idealisme yang diajukan oleh pendidikan modern.

Idealisme yang sesuai dengan watak dan konstitusi manusia tersusun dari dua unsur pokok; tujuan kehidupan dan sarana untuk merealisasikan tujuan tersebut. Manusia merasakan kenikmatan dan kebahagiaan ketika terintegrasi antara tujuan dan sarana dalam eksistensinya. Akan tetapi kebahagiaan hilang dan merasakan penderitaan jika hanya berhasil mencapai sarana sementara tujuan tidak tercapai. Ia akan berakhir pada kehancuran jika sarana dan tujuan sama-sama hilang.

Misalnya keluarga, pelestarian keturunan dan hubungan kerabat. Sebagaimana ditetapkan oleh aspek sosial ibadah merupakan sebagian komponen tujuan. Sarana untuk mencapai tujuan ini adalah perkawinan dan hal-hal yang terkait dengannya berupa proses hubungan seksual.

Akan tetapi jika suami dan istri berhenti pada hubungan seksual maka keduanya tidak akan bahagia. Dan terjadinya penderitaan dan ganjalan dalam jiwa keduanya. Juga mungkin menghancurkan hubungan suami istri itu sendiri. Demikian juga halnya dalam semua bidang kehidupan dan aktivitas yang berlaku dalam bidang-bidang ini.

Akan tetapi idealisme yang diajukan oleh pendidikan modern terbatas pada sarana dan menempati posisi tujuan. Maka ia misalnya menjadikan hubungan seksual sebagai tujuan, makanan menjadi tujuan dan bukannya sebagai sarana dan temuan-temuan terkait keduanya berupa penggerak syahwat dan pengembangan sarana dan menjustifikasi semua cara untuk mencapai keduanya.

Dengan demikian idealisme yang ditawarkan oleh pendidikan modern adalah seperti mengisi kebutuhan-kebutuhan dan dorongan-dorongan manusia, dan tidak sesuai dengan watak dan konstitusinya.

Bertentangan Dengan Perkembangan Fisik, Jiwa dan Akal Manusia

Kedua, nilai yang diajukan oleh pendidikan modern bertentangan dengan perkembangan fisik, jiwa dan akal manusia. Ketika perubahan-perubahan fisik, jiwa dan akal mulai dalam pintu-pintu tahapan kedewasaan dan persiapan untuk bertanggungjawab secara sosial maka nilai pendidikan modern dan aplikasi sosialnya yang didirikan atas nilai harta, kemewahan dan kelas berjalan tidak membuat remaja masuk ke alam kedewasaan dan pengembangan tanggungjawab dan menjalankan tugas-tugas yang dihadapinya dan selanjutnya melakukan interaksi sosial seperti anak ketika tumbuh setelah tahapan anak-anak, atau mengalihkannya kepada bidang aktivitas yang tidak memuaskan kebutuhan tahapan yang dilaluinya sehingga lebih dekat kepada watak kekanak-kanakan yang ia tinggalkan daripada kedewasan yang ia masuki.

Tidak Adanya Keseimbangan Antara Proses Lembaga Pendidikan Langsung dan Tidak Langsung

Ketiga, tidak adanya keseimbangan antara proses lembaga pendidikan langsung seperti sekolah dan universitas, dan proses pendidikan tidak langsung seperti sinema, televisi dan pers. Ketika yang pertama berusaha mengangkat kemampuan-kemampuan produktif individu, maka yang kedua berusaha meningkatkan syahwat konsumtifnya.

Hanya saja nilai pendidikan modern dan aplikasi sosialnya lebih banyak mengambil kemampuan produktif manusia daripada apa yang ia berikan untuk memenuhi kebutuhan konsumtifnya sehingga membawanya kepada kegelisahan, kekacaua dan tidak adanya keseimbangan.

Pertentangan-pertentangan ini menyebabkan dampak negatif dalam kehidupan remaja dan selain remaja di antaranya adalah dekadensi moral dan kegelisahan agama, dan runtuhnya nilai yang penjelasannya telah diuraikan di muka. Di antaranya juga adalah dampak yang oleh para psikolog yang mendedikasikan pada pendidikan modern disebut dengan al murahaqah (kedewasaan).

Kedewasaan dengan konsepnya yang komprehensif dalam pendidikan modern adalah fatwa yang keliru dan menyesatkan yang keluar sebagai justifikasi terhadap politik yang ada yang dihasilkan oleh nilai pendidikan modern mengenai masyarakat, ekonomi dan pekerjaan.

Kedewasaan -dengan konsepnya yang diberikan- bukanlah fenomena yang pasti dalam perkembangan umur zaman manusia. Ia adalah masalah yang bisa dihindarkan dari kehidupan individu dan bisa dijauhkan dari dampak negatifnya yang destruktif. Ia termasuk akibat-akibat lingkungan sosial industri yang diajukan oleh pendidikan modern dan penyakit di antara penyakit-penyakit lingkungan ini.***Dr. Majid Irsani Al Kailani

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.