Take a fresh look at your lifestyle.

Tingkatan dan Kelas dalam Filsafat Pendidikan Modern

1 105

Tingkatan dan Kelas: Filsafat pendidikan modern bejalan dengan orientasi yang bertentangan dengan hubungan cobaan dan menjadikan hubungan manusia dengan kehidupan –hubungan kesenangan dan konflik karena kesenangan. Pemahaman yan keliru ini disertai dengan kekeliruan lain terhadap fenomena tingkatan, sehingga menyebabkan filsafat tersebut menjadi kelas yang sewenang-wenang.

Akibatnya adalah dominannya hubungan iri, dengki dan keraguan antar orang di berbagai tingkatan yang berbeda-beda, dan menaburkan benih-benih kemaksiatan dan fitnah, satu sama lain menebarkan teror, menyebarluasnya konflik antar kelas yang berkuasa dan antar bangsa dan pada berbagai macam era yang menyebabkann munculnya pertumpahan darah dan penghancuran masyarakat dan peradaban. Fenomena revolusi, peperangan internal, regional dan internasional hanyalah contoh dari ledakan-ledakan yang destruktif ini.

Filsafat-filsafat pendidikan yang menempatkan manusia pada kedudukan yang utama –kedudukan raja absolut bukan kedudukan yang bertanggungjawab yang sedang dicoba- berusaha mencegah dampak dan munculnya ledakan yang destruktif ini dan berusaha membantu manusia –melalui jalur pendidikan- dengan imunitas yang diperlukan untuk melawan penyakit kelas dan penyimpangan, dan melalui jalur sistem dan aturan ditetapkan aturan yang menentukan munculnya kelas pekerja, dan membolehkan revolusi yang disebabkan oleh terkoyaknya rakyat dan eksploitasi kaum pekerja dan orang miskin.

Misalnya setelah keberhasilan revolusi sosialisme dalam meruntuhkan pemerintahan dan meminimalisir berlakunya kapitalisme yang berkuasa dalam masyarakat sosialis, muncul masalah-masalah mendasar dalam bentuk munculnya kelas berkuasa baru yang memonopoli superioritas dan keuntungan dan mengontrol kehidupan dan kebebasan manusia seperti terjadi di Uni Soviet, Jerman Timur, Polandia dan lain-lain.

Meskipun adanya revolusi budaya yang dipelopori oleh Washington yang bertujuan mengadakan tradisi politik, sosial dan budaya yang mencegah berdirinya kelas seperti ini akan tetapi yang terjadi setelah kematiannya adalah berjalan ke arah berdirinya kelas tersebut.

Cobaan dan Bencana

Konsep cobaan berkaitan dengan konsep lain yakni –fitnah. Para ahli bahasa memberikan definisi fitnah (bencana) dengan berbagai cara yang intinya adalah bahwa ia merupakan ujian dan cobaan yang diberikan kepada akal atau harta atau yang menyesatkan dari kebenaran. Telah berulang-ulang penjelasan tentang fitnah dalam Qur`an dalam 54 tema yang seluruhnya bisa disimpulkan bahwa fitnah adalah kegagalan dalam posisi cobaan yang mengarah kepada kejathuan pada maksiat, kesalahan atau penyimpangan, dan bahwa pengaruhnya tidak berhenti pada orang tersebut akan tetapi juga mencakup, meluas dan berpengaruh pada kehidupan orang-orang yang tidak berdosa, dan dalam hal ini Qur`an memberikan isyarat:

“Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya” (Qs. Al Anfaal [8]: 25).

Asas yang dijadikan dasar konsep fitnah adalah bahwa manusia tanpa pembelajaran dan pendidikan- tidak bisa memahami hubungan cobaan, hikmah dan aturan cobaan dan hal-hal yang berkaitan dengannya yaitu perbedaan dan tingkatan.

Oleh karena itu, aturannya menjadi kacau dan tidak berinteraksi secara baik dengan aspek-aspek cobaan dengan posisinya yang berbeda-beda. Yakni menyebut cobaan dengan “kebaikan”, kemuliaan dan kemajuan. Dan menyebut cobaan dengan “keburukan”, kehinaan dan keterbelakangan. “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Tuhanku telah memuliakanku” (15) “Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku” (Qs. Al Fajr [89]: 15-16).

Cobaan Kebaikan Meremehkan Masalah keangkuhan dan kesombongan

Manusia dalam posisi cobaan dengan kabaikan menganggap remeh masalah keangkuhan dan kesombongan, mengagungkan penipuan, memberikan klaim yang merusak dan melupakan tanggungjawabnya terhadap nikmat Allah dan kewajibannya untuk memuji, bersyukur dan taat dan menganggap kebaikan sebagai pengetahuan dan hasil usahanya sendiri. Dan ketika berada dalam posisi cobaan dengan keburukan merasa kerdil, hina dan tertimpa keputusasaan. Kedua keadaan ini berakhir pada tertimpa bencana.

Qur`an mensifatkan fluktuasi dalam jiwa dan perilaku manusia yang terkena fitnah dalam beberapa ayat, di antaranya adalah:

“Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa sesuatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa” (Qs. Ar-Ruum [30]: 36)

“Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan” (49) “Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata: “Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari kiamat itu akan datang. Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisi-Nya”. Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras” (50) “Dan apabila Kami memberikan ni`mat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdo`a” (51) (Qs. Fushshilat [41]: 49-51)

Akibat Destruktif Ketidaktahuan Memahami Cobaan

Ambiguitas dan ketidaktahuan memahami hubungan cobaan menyebabkan ledakan yang destruktif dalam bidang akidah, akhlak dan sosial seperti ledakan yang terjadi pada perlengkapan dan alat ketika dipakai untuk hal-hal yang bertentangan dengan aturan yang dibuat. Ledakan destruktif dalam bidang hubungan cobaan ini menyebabkan akibat-akibat yang signifikan.

Di antaranya adalah ketika manusia menggambarkan cobaan dengan kebaikan sebagai bentuk pemuliaan dari Allah dan menunjukkan keridhaan-Nya maka ia lupa untuk melaksanakan hak Allah dalam kebaikan ini, dan menjadi lemah dalam menjalankan kewajibannya menggunakan kebaikan untuk menolak keburukan, rela terhadap semua tindakan dan prakteknya, lupa mengawasi perilakunya dan meluruskan kesalahan-kesalahannya.

Sehingga kealpaan ini cenderung membantu keburukan, mengingkari kemungkaran dan melampaui batas-batas Allah. Inilah keadaan kebanyakan individu dan kelompok yang dicoba dengan kekayaan, kewibawaan, kekuasaan, kesehatan, kemampuan, bantuan dan lain-lain.

Di antaranya juga adalah ketika manusia menggambarkan cobaan dengan keburukan sebagai kehinaan dari Allah dan indikasi kebencian-Nya. Maka terjatuh dalam petaka kehinaan dan kekerdilan. Lemah untuk melakukan upaya menghadapi keburukan. Terjadi petaka kelemahan, kelumpuhan, negativisme dan berdiam diri dari bekerja dan bekerja keras. Semua ini termasuk dampak fitnah yang dibenci Allah dan disiksa karenanya. Ini adalah keadaan kebanyakan kelas umum dan kelompok pengikut dan taklid, miskin, lemah, tertekan dan aspek-aspek keburukan lainnya.

Aspek-aspek fitnah berbeda-beda sesuai dengan posisi dan sarananya. Terdapat fitnah akidah dan pemikiran. Ini mencakup aspek kegagalan dalam menginternalisasikan akidah dan pemikiran yang benar, atau kegagalan dalam membawa akidah ini dan menjalankan tanggungjawabnya dan tuntutan jihad untuk merealisasikannya. Sebagian besar penjelasan yang ada dalam Qur`an tentang fitnah berada di bawah fitnah akidah dan aplikasinya.

Terdapat fitnah harta, anak dan kemuliaan yang muncul dari buruknya hubungan dengan semuanya. Terdapat fitnah wanita dan anak. Terdapat fitnah perbedaan dan perselisihan akal. Terdapat juga fitnah akhlak dan sosial.

Fitnah Sejajar Dengan Cobaan

Secara global wilayah fitnah sejajar dengan bidang cobaan dalam hal sama-sama memiliki dua aspek, yakni kebaikan dan keburukan.

Hadits-hadits Nabi memberikan penjelasan yang menunjukkan aspek-aspek fitnah dan bidangnya secara  rinci yang para ahli hadits membahasnya secara khusus –seperti Bukhari dan Muslim- dengan bab-bab khusus yang dikenal dengan judul –Bab Fitnah dan Tanda-tanda Kiamat.

Hadits-hadits yang ada mengenai bab ini mengindikasikan adanya posisi pemahaman negatif dan aplikasi negatif yang bertentangan dengan aturan cobaan yang akan dilalui oleh generasi-generasi Muslim setelah masa Nabi dalam bidang akidah, pemikiran, sosial, politik, ekonomi, militer dan etika pada umumnya. Juga hal-hal yang secara khusus ditimbulkan oleh negativisme dalam memahami dan aplikasi berupa ledakan fitnah dalam segala bidang kehidupan. Hal-hal yang akan timbul darinya berupa dampak percerai beraian, perpecahan dan keruntuhan di dalam masyarakat Islam, kehinaan dan kelemahan dalam menghadapi ancaman dari luar.

Di sini perlu diberikan perhatian tentang hal yang sangat penting. Yakni bahwa penjelasan yang diberikan hadits-hadits Nabi sekitar fitnah tidaklah mengindikasikan –sebagaimana umum di pikiran orang banyak- bahwa fitnah ini adalah masalah yang sudah final. Dan kepastian dari Allah dan menyerukan kepada negativisme sosial dan menyerah kepada peristiwa.

Bahkan hadits-hadits tersebut menunjukkan fitnah yang bertalian kuat dengan runtuhnya pendidikan yang sehat. Menyebarnya kebodohan dan melawan aturan cobaan. Baik dalam perilaku pribadi atau politik sosial. Berlindung kepada kekejaman dan kekuatan dalam menyelesaikan masalah dan kesulitan internal alih-alih pengetahuan, ilmu, hikmah dan akal… di antara petunjuk Rasul dalam bidang ini adalah sabdanya:

“Ilmu dicabut sehingga muncul kebodohan dan fitnah, dan terjadi banyak al haraj, rasul ditanya: Wahai Rasulllah apakah al haraj itu? Maka beliau menjawab: Begini, beliau memiringkan seakan-akan maksudnya adalah al qatl”

Dan dalam riwayat Ahmad terdapat jawaban bahwa al haraj  adalah al qatl (peperangan).

Hilangnya Pendidikan Yang Sehat Dan Meluasnya Pendidikan Yang Salah

Dengan demikian, masalah yang menyebabkan kekacauan dalam hubungan manusia dengan kehidupan, yakni hubungan cobaan- adalah hilangnya pendidikan yang sehat dan meluasnya pendidikan yang salah.

Oleh karena itu, hadits-hadits Nabi mengarahkan kepada dua bentuk perilaku yang harus diikuti di tengah-tengah munculnya fitnah ini. Pertama, penyelesaian yang segera dan prioritas untuk menghindari bahaya yang ditimbulkan. Yakni dari menyebarnya fitnah ini dalam kehidupan individual dan kolektif. Penyelesaian dimaksud dipusatkan pada tidak adanya kerjasama untuk menyelesaikan fitnah yang menyebar luas. Jika masalah tersebut mengarah kepada penggunaan senjata. Ditutupnya pintu dan bersembunyi di baliknya. Jika pintu didobrak maka jadilah hamba Allah yang terbunuh dan bukan hamba Allah yang membunuh.

Perilaku kedua yang harus diikuti ketika munculnya fitnah. Yakni penyelesaian secara mendasar. Adalah kesadaran yang sempurna akan sebab-sebab fitnah, arah dan dampak negatifnya. Kemudian merujuk -atau taubat secara menyeluruh, meminjam istilah Islam- dengan tujuan penyembuhan yang mendasar dalam bidang pemikiran dan nilai dengan pertimbangan. Bahwa bidang ini adalah awal praktek-praktek fitnah yang keliru.

Oleh karena itu, di antara tugas-tugas pendidikan adalah memperlengkapi manusia dengan pemahaman tentang hubungan cobaan dan hidup. Sesuai dengan fenomena dan aturan-aturannya. Juga menginternalisasikan itu semua dalam perasaan setiap pelajar. Serta merealisasikannya dalam perilaku mereka dalam semua posisi dan orientasi.

Oleh: Dr. Majid Irsani Al Kailani

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

  1. sunaryo idris berkata

    makasih dah ikut donlod