Tingkatan Pembacaan Pengetahuan

0 26

Tingkatan Pembacaan Pengetahuan: Qur’an menggunakan pengetahuan dengan istilah Al Qira’ah (pembacaan). Disini memiliki tingkatan dan taraf yang bisa dikategorikan menjadi dua bagian pokok:

Pembacaan Penciptaan

Bagian pertama adalah pembacaan penciptaan, dan ini diwujudkan dalam taraf-taraf sebagai berikut:

  1. Pembacaan kelahiran, kehidupan dan kematin, adalah pembacaan yang dilakukan oleh para Rasul kemudian menyampaikan hasilnya kepada umat. Taraf bacaan ini adalah wacana wahyu bagi para Rasul. Ini adalah pembacaan yang tidak membutuhkan huruf-huruf yang tertulis akan tetapi membutuhkan sebentuk al bashirah (mata hati) yang hanya khusus dimiliki oleh para Rasul dan tidak dimiliki selain mereka.
  2. Pembacaan kitab alam dan menyimpulkan apa yang Allah berikan kepadanya berupa aspek kekuasaan yang terwujud dalam pembentukan unsur-unsur alam ini dan hukum-hukum yang menetapkan dan membentuk wujudnya. Pembacaan ini dilakukan oleh para ahli ilmu alam dan menjelaskannya melalui penemuan dan inovasi.
  3. Pembacaan perjalanan masyarakat manusia dan peristiwa-peristiwanya, dan pergerakan peradaban sepanjang zaman untuk menyimpulkan aspek-aspek perbuatan dan hukum Allah yang membentuk pergerakan masyarakat manusia dan prestasi peradaban. Pembacaan ini dilakukan oleh ahli ilmu kemasyarakatan dengan berbagai macam spesifikasi dan orientasinya.

Isyarat pada kedua taraf (b dan c) diulang dalam 10 ayat Qur’an yang menyeru untuk melihat penciptaan langit dan bumi, berjalan di atas bumi untuk melihat berdirinya peradaban dan akibat orang-orang yang mendustakan orang ahli dengan cara melihat jejak-jejak yang mereka tinggalkan, masyarakat yang mereka tinggalkan dan akibatnya, meneliti, menganalisis dan menyimpulkan hukum-hukum yang menentukan perluasan dan kehancurannya.

Pembacaan Yang Ditulis Oleh Qalam’

Bagian kedua, pembacaan yang ditulis oleh ‘qalam’ (pena) dalam kertas dan kitab yang dibaca manusia tentang penciptaan. Juga yang dicapai oleh para Rasul dan ahli yang ditunjukkan dalam bagian pembacaan yang pertama. Bagian kedua mencakup pembacaan dua taraf sebagai berikut:

  1. Pembacaan makna yang ditunjukkan oleh huruf, kata dan kalimat. Pembacaan ini bisa dilakukan oleh sebagian besar manusia semenjak mulai dewasa.
  2. Pembacaan huruf, kata dan kalimat; dan ini bisa dilakukan oleh manusia sejak masa kanak-kanak dan semua manusia bisa melakukannya.

Jelas sekali bahwa mestilah menyempurnakan semua taraf hirarkhi pembacaan dan bahwa pembacaan –atau pengetahuan- yang telah dikenal tersebut adalah pembacaan taraf bagian pertama, yakni pembacaan kitab penciptaan, alam dan masyarakat manusia. Rasulullah SAW menetapkan perbedaan antara kedua bacaan tersebut menurut sabdanya: قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابَةِ “Ikatlah ilmu dengan tulisan”.

Ilmu Didahului Oleh Tulisan

Ilmu -yang berhak dikatakan ilmu- adalah ilmu yang didahului oleh tulisan. Yakni ia adalah buah dari pengamatan yang sistematis dan yang diikuti dengan langkah-langkah pemikiran ilmiah. Adapun kata-kata yang terkodifikasi adalah tali bagi ilmu dari kelupaan dan kehilangan. Qur’an menjelaskan bahwa berhenti pada taraf pembacaan huruf adalah bentuk dari buta huruf. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh ayat: “Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga” (Qs. Al Baqarah [2]: 78)

Ibnu Taimiyah menafsirkan makna amani adalah hanya membaca huruf semata tanpa memahami makna.

Posisi individu dan umat ditentukan sesuai dengan urutan mereka dalam sulam mustawiyat al qira’at (hierarki taraf pembacaan) yang telah ditunjukkan. Orang-orang yang bisa membaca kitab penciptaan tentang tahapan-tahapan perkembangannya bisa menundukkan kemampuan alam, manusia dan penciptaan untuk menjaga kelestarian umat manusia, kemuliaan dan keabadiannya. Oleh karena itu, mereka menempati hierarkhi hegemoni peradaban dan memberikan taraf kematangan manusia.

Orang yang membaca kitab alam dan tidak melampaui kitab penciptaan mencapai tingkatan “kedewasaan peradaban” yakni bahwa mereka menempati penundukan alam dan menempati hierarkhi hegemoni teknologi dan memproduksi tuntutan pemeliharaan umat manusia akan tetapi mereka tidak memberikan kemuliaan, kebagiaan dan keabadian manusia. Taraf pertama adalah kondisi peradaban Islam, dan taraf kedua adalah keadaan peradaban Barat.

Orang-orang yang berhenti pada pembacaan huruf, kata dan pengetahuan yang terkodifikasi dalam mushaf berarti berada dalam tahapan kekanakan peradaban dan hidup bergantung pada produksi pihak lain yang berada dalam taraf yang lebih tinggi, dan sisanya tetap bergantung kepada tangan yang berada di atasnya.

Hierarkhi Taraf Pembacaan

Adapun yang tidak baik dalam pembacaan yakni taraf dalam “hierarki taraf pembacaan”. Mereka tetap berada di luar masyarakat manusia dan hidup dalam tahapan permulaan. Mereka lebih dekat kepada masyarakat binatang daripada masyarakat manusia yang menjelajah dalam hutan dan gurun. Mereka menempati gua dan tenda. Kadang mereka menyingkirkan bintang dan kadang sebaliknya bintang menyingkirkan mereka. Mereka ditundukkan oleh alam alih-alih mereka menundukkannya.

Taraf Kelahiran, Kehidupan Dan Kematian

Pembacaan taraf yang lebih tinggi dalam hierarkhi pembacaan –taraf kelahiran, kehidupan dan kematian- sempurna dengan pembekalan dari Tuhan kepada para Rasul dan Nabi.

Adapun pembacaan taraf berikutnya –taraf perjalanan alam, dan taraf perjalanan masyarakat manusia- menuntut tingkatan pertama melakukan pembebasan akal dari penawanan segala sesuatu yang ada dalam alam. Pembebasan dari penawanan manusia dan krisis yang ada dalam masyarakat manusia.

Penawanan ini merupakan penghalang dari pembacaan perjalanan alam dan perjalanan masyarakat manusia dan mengarah kepada penyerahan kepada kedua penawanan dan ketergantungan mereka yang mutlak kepada kedua penawanan agar membacakan kepada mereka.

Oleh karena itu, Islam memerangi semua bentuk penawanan berhala, syahwat dan semua bentuk dominasi pemikiran, peramalan, politik, nasionalisme dan masyarakat. Karena semuanya membutakan akal dan bergeser kepada bukan pembacaan terhadap ayat-ayat Allah dalam kitab dan ayatnya dalam ufuq (alam materi) dan anfus (alam jiwa).

Oleh: Dr. Majid Irsani Al Kailani

Bahan Bacaan

Musnad ad-Darami, Muqaddimah.

Majid Irsan al-Kailani, Al Fikr At-Tarbawi ‘Inda Ibni Taimiyah, hal. 190.

Komentar
Memuat...