Tingkatan Tanggungjawab Manusia Terhadap Kehidupan Akhirat

0 192

Tingkatan tanggungjawab berjajar dengan taraf hubungan cobaan dan tingkatan yang telah dijelaskan sebelumnya. Tingkatan-tingkatan tersebut adalah:

Tingkatan Para Rasul Dalam Melaksanakan Risalahnya

Tingkatan pertama, tingkatan para Rasul dalam melaksanakan risalahnya. Tentang tanggungjawab ini Qur`an Surat Al Maidah ayat 109 memberikan penjelasan:

“(Ingatlah), hari di waktu Allah mengumpulkan para rasul, lalu Allah bertanya (kepada mereka): “Apa jawaban kaummu terhadap (seruan) mu?” Para rasul menjawab: “Tidak ada pengetahuan kami (tentang itu); sesungguhnya Engkau-lah yang mengetahui perkara yang ghaib” (Qs. Al Maa`idah [5]: 109)

Rincian tentang tanggungjawab para Rasul adalah seperti pertanggungan jawab Isa as yang termaktub dalam Surat Al Maidah ayat 116:

“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai `Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?” `Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib” (Qs. Al Maa`idah [5]: 116).

Muhammad SAW diminta pertanggungan jawab sebagaimana di tuliskan dalam QS. Az Zukhruf ayat 44:

“Dan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab” (Qs. Az-Zukhruf [43]: 44)

Nabi SAW bersabda:

“Ingatlah bahwa Tuhanku menyeru kepadaku dan Dia bertanya: “apakah kamu telah menyampaikan kepada umat-Ku?” aku berkata kepada-Nya: “Wahai Tuhanku aku telah menyapaikan kepada mereka, ingatlah hendaknya orang yang menyaksikan menyampaikan kepada orang yang tidak menyaksikan.”

Tanggungjawab Tokoh Agama, Pemikiran, Politik, Ekonomi, Pendidikan Dan Lain-Lain

Tingkatan kedua, tanggungjawab tokoh agama, pemikiran, politik, ekonomi, pendidikan dan lain-lain.

Dalam hadits terdapat penjelasan yang rinci tentang contoh tanggungjawab ini, di antaranya adalah sabda Nabi SAW:

“Pada hari kiamat Allah SWT berfirman kepada para Nabi dan ulama: Kalian adalah pemimpin bagi makhluk, maka apa yang kalian lakukan kepada mereka?, Dia berfirman kepada para raja dan orang-orang kaya: Kalian adalah tempat menyimpan harta-Ku, apakah kalian menyampaikannya kepada para fakir miskin dan kalian memelihara anak yatim dan kalian mengeluarkan hak-Ku darinya yang telah Aku tetapkan kepadanya?”

Dalam hadits lain, Nabi SAW bersabda:

“Allah SWT tidak meminta kepada seorang hamba untuk memelihara sebuah amanat baik sedikit ataupun banyak kecuali Allah akan meminta pertanggungan jawab tentangnya pada hari kiamat di mana ia menjalankan perintah Allah atau ia menyia-nyiakan sehingga Dia meminta pertanggungjawaban tentang keluarganya secara khusus”.

“Ingatlah bahwa stiap kalian adalah pemimpin dan kalian akan diminta pertanggungan jawab, seorang pemimpin umat maka akan diminta pertanggungan jawab tentang umatnya. Laki-laki adalah pemimpin keluarga dan akan diminta pertanggungan jawab. Wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan terhadap anaknya dan ia akan diminta pertanggungan jawab. Budak adalah pemimpin atas harta tuannya dan akan dimintai pertanggungan jawab. Ingatlah bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungan jawab”.

Tanggungjawab Umat Tentang Sikapnya Terhadap Risalah Yang Sampai Kepadanya

Tingkatan ketiga, tanggungjawab umat tentang sikapnya terhadap risalah yang sampai kepadanya.

 “Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) rasul-rasul (Kami),” (Qs. Al A’raaf [7]: 6)

“Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri” (Qs. Al An’aam [6]: 130)

Demikian juga umat akan diminta pertanggungan jawab tentang sejauh mana berpegang pada kebebasannya dan menolak tunduk kepada selain Allah.

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?” Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah),” (Qs. An-Nisaa [4]: 97).

Demikian juga umat ditanya tentang hubungannya dengan pemimpinnya dan realisasi ikatan ketaatannya kepada pemimpin dengan taat kepada Allah. Oleh karena itu Qur`an menghinakan kaum Fir’aun karena mereka membiarkan Fir’aun mempengaruhi mereka dan mempermainkan nasib mereka.

“Maka Fir`aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik” (Qs. Az-Zukhruf [43]: 54)

Umat juga diminta tanggungjawab atas stagnasi, keterbelakangan dan taklid buta kepada nenek moyang.

“Allah berfirman: “Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu. Setiap suatu umat masuk (kedalam neraka), dia mengutuk kawannya (yang menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu: “Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka”. Allah berfirman: “Masing-masing mendapat (siksaan), yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui” (Qs. Al A’raaf [7]: 38)

Demikian juga umat diminta pertanggungan jawab tentang sumber-sumber dan karunia yang dinikmatinya bagaimana mengumpulkannya dan kemana membelanjakannya.

Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)” (At-Takatsur [102]: 8)

Nabi SAW bersabda:

“Sesungguhnya yang mula-mula diminta pertanggungan jawab dari seorang hamba pada hari kiamat tentang nikmat adalah dikatakan kepadanya: “Bukankah Kami telah menyempurnakan jasadmu dan memberimu minum dari air yang dingin?”

Dari Ali bin Abi Thalib tentang firman Allah swt:

Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)” (At-Takatsur [102]: 8), ia berkata: “Barangsiapa memakan roti gandum dan meminum dari sungai Efrat sebagai penyejuk, dan ia memiliki rumah untuk tempat tinggal, maka itu termasuk nikmat yang akan dimintai tanggungjawab”.

Umat Islam juga akan dimintai tanggungjawab tentang janji yang telah dibuat.

“Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah: “Mereka tidak akan berbalik ke belakang (mundur)”. Dan adalah perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya” (Qs. Al Ahzaab [33]: 15)

“Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya” (Qs. Al Israa` [17]: 34).

Tanggungjawab Pribadi Atas Dirinya Sendiri

Tingkatan keempat, tanggungjawab pribadi atas dirinya sendiri. Hadits Nabi memberikan penjelasan tentang tingkatan tanggungjawab ini. Di antaranya adalah sabda Nabi SAW yang berbunyi:

“Dua kaki seorang hamba tidak akan turun sampai diminta pertanggungjawaban dari empat hal. Tentang masa mudanya untuk apa digunakan, tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang hartanya bagaimana mendapatkannya dan bagiamana menggunakannya, dan tentang ilmunya, untuk apa ia gunakan.”

Dan hadits-hadits yang menjelaskan kedudukan di mana seseorang akan dimintai pertanggungan jawab tentang cobaan yang diberikan kepadanya dalam kehidupan di dunia banyak sekali jumlahnya, dan juga mencakup pertanggungan jawab tentang nikmat, kedudukan sosial dan semua bentuk perilaku, kemampuan akal, fisik dan psikis, bentuk-bentuk hubungan sosial dan lain-lain.

Qur`an menjelaskan secara gamblang bahwa seseorang akan diminta pertanggungan jawab tentang bagaimana ia menggunakan kemampuan pendengaran, penglihatan dan akalnya.

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Qs. Al Israa` [17]: 36).

Oleh: Dr. Majid Irsani Al Kailani

Bahan Bacaan

Musnad Ahmad, Tashnif as-Sa’ati, jilid 23, no. 17.

Shahih Muslim, bab keutamaan pemimpin yang adil

Kanz al Ummal, jilid 3

 

Komentar
Memuat...