Take a fresh look at your lifestyle.

Tinjauan Tentang Kemampuan Kognitif

0 348

Kemampuan kognitif adalah suatu kemampuan yang berhubungan dengan atau melibatkan kognisi. Sedangkan kognisi merupakan suatu kegiatan atau proses memperoleh pengetahuan (termasuk didalamnya kesadaran, perasaan, dan sebagainya). Dalam pengertian lain, kemampuan kognisi merupakan suatu usaha mengenali sesuatu melalui pengalaman sendiri. Sehingga secara singkat dapat dikatakan bahwa kemampuan kognitif berkaitan dengan penampilan- penampilan yang dapat diamati sebagai hasil- hasil dari sebuah kegiatan atau proses memperoleh suatu pengetahuan melalui pengalaman sendiri. Anas Sudijono (2001) mengatakan bahwa ranah kognitif merupakan ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Robert M. Gagne dalam W.S.Winkel (1996) juga menyebutkan bahwa ruang gerak pengaturan kegiatan kognitif adalah berada pada aktivitas mentalnya sendiri. Lebih lanjut, Gagne menyatakan bahwa pengaturan segala kegiatan kognitif mencakup penggunaan konsep- konsep dan kaidah yang telah dimiliki, terutama bila sedang menghadapi suatu masalah. Ciri khas belajar kognitif adalah terletak dalam belajar memperoleh dan menggunakan bentuk- bentuk representasi yang mewakili obyek- obyek yang dihadapi. Obyek dimaksud dapat berupa orang, benda atau kejadian/ peristiwa. Obyek- obyek itu direpresentasikan atau dihadirkan dalam diri seseorang melalui gagasan, lambing atau tanggapan, yang semuanya merupakan sesuatu yang bersifat mental.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan kognitif adalah segala penampilan yang dapat diamati melalui aktivitas mental (otak) guna memperoleh pengetahuan melalui pengalaman sendiri. Pengaturan aktivitas mental dengan menggunakan kaidah dan konsep yang telah dimiliki yang kemudian konsep dimaksud direpresentasikan melalui tanggapan, gagasan, atau lambang.

Jenjang Ranah Kognitif

Benjamin S. Bloom dkk (1956) menyatakan bahwa taksonomi tujuan dari ranah kognitif meliputi enam jenjang proses berpikir. Keenam jenjang dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. Pengetahuan (knowledge); Pengetahuan merupakan kemampuan seseorang untuk mengingat- ingat kembali (recall) atau mengenali kembali tentang istilah, ide, nama, gejala, rumus- rumus dan sebagainya. Proses dimaksud terjadi tanpa mengharapkan kemampuan untuk menggunakannya. Pengetahuan atau ingatan ini termasuk kedalam proses berpikir yang paling rendah.
  2. Pemahaman (comprehension); Pemahaman ialah suatu kemampuan dari seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat. Hal ini berarti, memahami adalah mengetahui tentang sesuatu dan dapat melihat sesuatu tersebut dari berbagai segi. Seorang peserta didik dikatakan memahami sesuatu bila ia mampu memberikan penjelasan atau memberi uraian yang lebih rinci tentang sesuatu hal dengan menggunakan kata- katanya sendiri. Pemahaman ini termasuk kedalam jenjang kemampuan berpikir yang setingkat lebih tinggi dari ingatan atau hafalan.
  3. Penerapan (application); Penerapan adalah kesanggupan dari seseorang untuk menerapkan atau menggunakan ide- ide umum. Bisa juga berupa tata cara ataupun metode- metode, prinsip- prinsip, rumus- rumus, teori- teori dan sebagainya. Hal ini bisa dilakukan dalam situasi yang baru dan konkret. Dalam implementasinya, hal ini merupakan proses berpikir setingkat lebih tinggi dari pemahaman.
  4. Analisis (analysis); Analisis mencakup kemampuan untuk merinci sesuatu kedalam bagian- bagian sehingga struktur keseluruhan atau organisasinya dapat dipahami dengan baik.
  5. Sintesis (synthesis); Sintesis merupakan sebuah kemampuan seseorang untuk merinci atau menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian- bagian yang lebih kecil. Ia juga dituntut mampu memahami hubungan di antara bagian- bagian atau faktor- faktor yang satu dengan yang lainnya. Sintesis merupakan suatu proses yang dalam penerapannya memadukan bagian- bagian atau unsur- unsur secara logis, sehingga menjelma menjadi suatu pola yang berstruktur atau berbentuk pola baru. Jenjang ini kedudukannya akan lebih tinggi setingkat dari analisis.
  6. Evaluasi (evaluation); Evaluasi merupakan jenjang proses berpikir paling tinggi dalam ranah kognitif. Penilaian atau evaluasi merupakan kemampuan dari seseorang untuk membuat berbagai pertimbangan terhadap suatu situasi, nilai, atau ide. Misalnya, jika seseorang dihadapkan pada beberapa pilihan, maka ia akan mampu memilih satu pilihan yang terbaik. Pilihan dimaksud tentu sesuai dengan patokan atau kriteria yang ada. (Anas Sudijono, 2001)

Untuk kepentingan perumusan tujuan evaluasi belajar, Benjamin S. Bloom dalam M. Chabib Toha (1991) mengklasifikasikan jenjang proses berpikir kognitif sebagai berikut:

Tingkat/ hasil belajarCiri-cirinya
1. Knowledge1.    Jenjang belajar terendah

2.    Kemampuan mengingat fakta-fakta

3.    Kemampuan menghafalkan rumus, definisi, prinsip, prosedur

4.    Dapat mendeskripsikan

2. Comprehension

 

1.      Mampu menerjemahkan (pemahaman menerjemahkan)

2.      Mampu menafsirkan, mendeskripsikan secara verbal

3.      Pemahaman ekstrapolasi

4.      Mampu membuat estimasi

3. Application1.      Kemampuan menerapkan materi pelajaran dalam situasi baru

2.      Kemampuan menetapkan prinsip atau generalisasi pada situasi baru

3.      Dapat menyusun problema-problema sehingga dapat menetapkan generalisasi

4.      Dapat mengenali hal-hal yang menyimpang dari prinsip dan generalisasi

5.      Dapat mengenali fenomena baru dari prinsip dan generalisasi

6.      Dapat meramalkan sesuatu yang akan terjadi berdasarkan prinsip dan generalisasi

7.      Dapat menentukan tindakan tertentu berdasarkan prinsip dan generalisasi

8.      Dapat menjelaskan alasan penggunaan prinsip dan generalisasi.

4. Analysis

1.      Dapat memisah-misahkan suatu integritas menjadi unsur-unsur, menghubungkan antar unsur, dan

         mengorganisasikan prinsipprinsip

2.      Dapat mengklasifikasikan prinsip-prinsip

3.      Dapat meramalkan sifat-sifat khusus tertentu

4.      Meramalkan kualitas/kondisi

5.      Mengetengahkan pola tata hubungan, atau sebabakibat

6.      Mengenal pola dan prinsip-prinsip organisasi materi yang dihadapi

7.      Meramalkan dasar sudut pandangan atau kerangka acuan dari materi.

5. Synthesis1.      Menyatukan unsur-unsur, atau bagian-bagian menjadi satu keseluruhan

2.      Dapat menemukan hubungan yang unik

3.      Dapat merencanakan langkah yang kongkrit

4.      Dapat mengabstraksikan suatu gejala, hipotesa, hasil penelitian, dan sebagainya

6. Evaluation1.      Dapat menggunakan kriteria internal dan kriteria eksternal

2.      Evaluasi tentang ketetapan suatu karya/dokumen (kriteria internal)

3.      Menentukan nilai/sudut pandang yang dipakai dalam mengambil keputusan (kriteria internal)

4.      Membandingkan karya-karya yang relevan (eksternal)

5.      Mengevaluasi suatu karya dengan kriteria eksternal

6.      Membandingkan sejumlah karya dengan sejunlah kriteria ekternal

Oleh: Kusen

Bahan Bacaan:

Ahmadi, Abu dan Nur Uhbiyanti. 1992. Ilmu Pendidikan. Jakarta : Rhineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi. 2012. Dasar- dasar Evaluasi Pendidikan. PT. Bumi Aksara. Jakarta.

Dalyono, 1997. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Damsar. 2011. Pengantar Sosiologi Pendidikan. PT. Kencana Prenada Media Group. Jakarta.

Danim, Sudarwan. 2010. Pedagogi, Andragogi, dan Heutagogi. Bandung: Alfabeta.

Dimayati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: PT Rineka Cipta

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar