Tinjauan Tentang Supervisi Pendidikan

0 71

Arikunto (2004), menyebut bahwa supervisi merupakan istilah yang masih serumpun dengan pengawasan tetapi sifatnya lebih human (manusiawi). Dalam implementasinya, kegiatan supervisi bukanlah mencari- cari kesalahan tetapi lebih banyak mengandung unsur pembinaan, agar segala kondisi pekerjaan dapat diketahui kekurangannya kemudian untuk dapat diberitahukan bagian mana yang perlu segera diperbaiki.

Jika mengacu kepada apa yang dikemukakan Arikunto di atas, dapat diketahui beberapa hal mengenai supervisi, yaitu :

  1. Di dalam supervisi terdapat berbagai aktivitas seperti: melihat, pemeriksaan, inspeksi, dan pengawasan
  2. Kegiatan supervisi dilakukan oleh orang yang berposisi lebih tinggi, yaitu pimpinan terhadap bawahannya
  3. Supervisi menekankan pada aspek perbaikan dan pembinaan.

Isyarat mengenai kegiatan supervisi, di dalam Al Qur’an dapat diidentifikasi dari (salah satunya) ayat berikut :

قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَيَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya : Katakanlah: “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah Mengetahui”. Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (Q.S. Ali Imran (3): 29).

Berdasarkan ayat di atas, secara implisit mengungkapkan tentang luasnya cakupan pengetahuan Allah SWT tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan makhluk ciptaan-Nya. Dalam ayat tersebut juga mengisyaratkan posisi Allah SWT sebagai pencipta merupakan pemilik otoritas tertinggi yang membawahi semua makhluk ciptaan-Nya. Bila dikaitkan kedalam konteks supervisi, maka tentu hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan diatas.

Supervisi merupakan salah satu tugas kepala sekolah (madrasah). Tujuannya adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan pengelolaan dari aspek segala sesuatu yang disupervisi. Aspek yang disupervisi dimaksud, dapat berupa administrasi dan edukasi. Supervisi edukasi adalah supervisi yang tujuannya diarahkan pada kurikulum pembelajaran, proses belajar mengajar, serta pelaksanaan bimbingan dan konseling.  Supervisi bisa dilakukan oleh pengawas, kepala madrasah, maupun guru senior yang pernah menjadi  instruktur mata pelajaran.

Teknik Supervisi

Mengacu kepada Ditjen Ditmenum (1994), pelaksanaan supervisi tersebut dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

  1. Wawancara
  2. Observasi

Selain wawancara, pengawas dan/ atau kepala madrasah dapat melaksanakan observasi kepada guru dalam proses belajar mengajar. Mereka juga dapat melaksanakan supervisi dimaksud dalam kegiatan bimbingan dan konseling. Pengawas atau kepala madrasah dalam melaksanakan observasi dapat memilih satu atau beberapa kelas serta mengamati kegiatan guru dan layanan bimbingan. Menurut Ditjen Ditmenum (1994), observasi tersebut bisa berupa:

  1. Observasi kegiatan belajar mengajar, meliputi:
  2. Persiapan mengajar
  3. Pelaksanaan satuan pengajaran di dalam kelas, dan
  4. Pelaksanaan penilaian,
  5. Observasi kegiatan bimbingan dan konseling, meliputi:
  6. Program kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah;
  7. Pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah.
  8. Kelengkapan administrasi/perlengkapan bimbingan dan konseling
  9. Penilaian dan laporan

Supervisor juga harus melakukan observasi dan wawancara sekaligus yang berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar di kelas. Menurut Ditjen Ditmenum (1994) yang termasuk PBM yaitu:

  1. Persiapan mengajar yang terdiri atas:
  2. Membuat program tahunan
  3. Membuat program semester
  4. Membuat Rencana Paksanaan Pembelajaran (RPP)
  5. Melaksanakan PBM yang terdiri atas:
  6. Pendahuluan;
  7. Pengembangan;
  8. Penyerapan;
  9. Penutup
  10. Penilaian yang didalamnya:
  11. Memiliki kumpulan soal dan
  12. Analisis hasil belajar

Bidang- Bidang yang Disupervisi

Supervisi pendidikan, umumnya mencakup hal- hal yang berfungsi menciptakan kondisi keprofesionalan guru. Pokok sasaran yang ingin dicapai dari kegiatan supervisi guru ialah terjadinya perubahan sikap/ perilaku dan kemampuan serta keterampilan guru. Maka, dengan supervise dimaksud, diharapkan terjadi pula perubahan pada penampilan guru di dalam kelas, tentu  ke arah yang lebih produktif. Guru diupayakan mempunyai berbagai kemampuan dalam mempersiapkan materi pengajarannya. Guru dapat mengelola kelasnya dengan berorientasi pada peserta didik.

Peningkatan kemampuan guru dalam KBM merupakan hal yang kiranya perlu mendapat perhatian dari para pemangku kebijakan. Perhatian terhadap upaya peningkatan profesional guru sangat diperlukan. Mengapa? sebab ternyata mesti kita akui bahwa para pendidik kita masih memiliki kualifikasi keprofesionalan yang rendah (Oteng Sutisna, 1983).

Implementasi Supervisi

Beberapa kegiatan pelayanan supervisi masih belum dilaksanakan sebagaimana mestinya. Kebanyakan masih bersifat administratif dan belum ada orang khusus untuk melaksanakan supervisi. Fungsi supervisi pada sistem pendidikan kita rupanya masih dibebankan pada pengawas pendidikan dan administrator sekolah. Tugas rangkap ini akan membawa implikasi yang sulit dalam pelaksanaan supervisi secara sistematis dan intensif. Kesulitan ini, akan lebih terasa lagi bagi kepala madrasah, sebab ia selain bertugas sebagai administratif dan supervisior, mereka juga betugas sebagai guru.

Kepala madrasah, dalam melaksanakan tugasnya sebagai supervisior, harus mempergunakan berbagai teknik yang dipandang sesuai dengan kegiatan supervisi. Teknik supervisi pendidikan dapat dibagi kedalam dua macam, yaitu cara langsung dan tidak langsung. Cara langsung yaitu supervisior secara langsung berhadapan dengan orang- orang yang disupervisi. Pertemuan ini dapat berlangsung secara individual dan dapat pula berbentuk kelompok. Teknik supervisi tidak langsung adalah pelaksanaan supervisi yang dilakukan melalui media seperti: majalah, radio, televisi, brosur, dan alat- alat lainnya.

Sebetulnya, banyak sekali teknik supervisi yang telah dikemukakan oleh para ahli. Namun tidak dapat dipastikan teknik mana yang paling tepat dalam memberikan hasil yang paling baik. Hal ini berdasarkan kenyataan, bahwa keberhasilan supervisi tidak semata- mata ditentukan oleh teknik yang dipergunakan, tetapi ia tergantung pada pengetahuan dan keterampilan supervisior. Oleh sebab itu, seorang supervisior akan dituntut untuk bisa mempergunakan berbagai teknik supervisi sesuai dengan prosedur penggunaannya. ***Suherman

Bahan Bacaan:

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Rineka Cipta. Jakarta.

Damsar. 2011. Pengantar Sosiologi Pendidikan. PT. Kencana Prenada Media Group. Jakarta.

Daryanto, 2011, Kepala Sekolah sebagai Pemimpin Pembelajaran. Yogyakarta: Gava Media

Hamdani. 2011. Dasar- dasar Kependidikan. CV Pustaka Setia. Bandung.

Hidayati, Ara dan Imam Machali, 2010, Pengelolaan Pendidikan, Bandung: Pustaka Educa

Poerwanto, Ngalim, 2003, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, Bandung: Rosdakarya

Wahyudi, 2009, Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Organisasi Pembelajar (Learning Organization), Bandung, Alfabeta

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.