Tipikal Politik Orang Sunda itu Unik

0 151

Tipikal Politik Orang Sunda itu Unik. Berdiri tegak lima orang santri di sebuah Mushala kecil, saat mereka beristirahat di sebuah perjalanan menuju tempat tertentu yang ditunjuk kyai pesantren. Lima orang santri ini terdiri dari satu orang Sulawesi Selatan, satu orang dari Jawa Tengah, satu orang dari Jawa Timur dan dua orang dari Jawa Barat. Orang Sumatera Utara segera mengambil posisi untuk menjadi muadzin sekaligus melaksanakan iqamat agar pelaksaaan ibadah shalat itu dapat segera dilakukan. Tibalah saatnya mereka melaksanakan shalat berjamaah.

Kebetulan di antara lima orang santri itu, terdapat seorang santri senior berasal dari Jawa Barat. Orang Jawa Tengah dan Jawa Timur –tentu takdzim kepadanya—dengan mempersilahkan santri senior dari Jawa Barat itu untuk memimpin shalat berjama’ah. Di luar dugaan, santri senior itu malah mempersilahkan keduanya untuk memimpin shalat. Jadilah orang Jawa Timur dan Jawa Tengah maju keduanya ke mimbar, sampai kemudian salah satu di antara keduanya berhenti dan kembali mundur dari posisinya sebagai imam. Inilah ilustrasi kecil dan sangat sederhana. Ilustrasi yang mengasumsikan bahwa hanya untuk sekedar menjadi imam shalat-pun, orang Jawa Barat memiliki tipikal evaluasi diri cukup tinggi.

Tipikal Politik Orang Sunda itu Unik pengalah dan kadang terlalu toleran

Itulah tipikal masyarakat Sunda. Secara umum mereka menampilkan diri sebagai sosok pengalah dan kadang terlalu toleran terhadap orang lain. Mereka lebih sering memilih untuk mempertanyakan kepada dirinya sendiri akan kepantasan untuk menduduki tempat sesuatu dibandingkan dengan segera mengambil posisi akan sesuatu. Sepanjang dalam nalarnya mereka menganggap tidak cocok dan tidak pantas, sekalipun banyak di antara manusia lain mendorongnya, ia akan tetap pada pendiriannya untuk tidak mau menerima amanah.

Karena itu, dalam analisa saya, masyarakat Sunda adalah komunitas yang dalam kode-kode tertentu, secara genetic, seperti sulit dipaksa menjadi pemimpin, sekalipun hanya sekedar memimpin shalat berjama’ah. Bukan karena mereka tidak ada yang memerintah dan tidak memberi kepercayaan kepadanya, tetapi, kekhawatiran dan resiko yang ditanggung sebagai imam dianggap jauh lebih berat dibandingkan dengan hanya menjadi pengikut atau menjadi makmum.

Karena itu, saya tidak heran ketika misalnya, tidak ada satu partai politik yang secara nasional dipimpin orang Jawa Barat yang memiliki tipikal kesundaan. Sekalipun ia mendiami suatu wilayah yang mendiami daerah yang menjadi penyangga Ibu Kota Indonesia, dan menjadi tempat penentu akan keberhasilan pilihan politik nasional, fakta hampir tidak mungkin, pada akhirnya hari ini, mereka menjadi pemimpin politik pada tarap nasional. Mengapa? Karena, pintu menjadi pemimpin nasional, “mengharuskan” dari Partai Politik. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.