Tipologi Respon Keberagamaan

0 72

Tipologi Respon Keberagamaan: Perspektif realitas dan teoritik, antara ilmu, keyakinan dan perilaku mungkin bisa jadi tidak memiliki hubungan. Tetapi dalam praktik keduanya melarut dalam praktik kehidupan. Dalam perspektif Islam, Islam tidak sekadar agama yang bersifat kognitik dan teoritik, tetapi Islam merupakan doktrin kehidupan itu sendiri.

Ada tiga tipe kecenderungan respon agamawan terhadap ajaran agama:

  1. Tipe mistikal. Respon keberagamaan tipe ini lebih menonjolkan sikap dan respon individu terhadap agama yang lebih menekankan hubungan dan komunikasi individu terhadap kehadiran Tuhan. Dalam tradisi mistik puncak dari pengalaman beragama adalah perasaan kehadiran Tuhan dalam jiwa individu yang sedang mendambakan. Dalam perspektif ini, Tuhan disimbolkan dan digambarkan sebagai kekasih yang selalu ditunggu dan dinanti.
  2. Profetik-Ideologikal. Respon keberagamaan dalam tipe ini ditandai dengan kuatnya misi sosial keagamaan dengan menggalang solidaritas kemanusiaan. Penggalangan solidaritas kemanusiaan dijadikan momentum untuk penyebaran doktrin dan ideologi suatu agama. Kelompok ini berpandangan bahwa keberhasilan sosialisasi agama jika telah terjadi formalisasi aturan yang diatasnamakan aturan agama yang diberlakukan dalam kehidupan social.
  3. Humanis Fungsional. Tipe ini menekankan pada penghayatan nilai nilai kemanusiaan yang dianjurkan dan direkomendasikan oleh ajaran agama yang pegangi. Kelompok tipe ini memandang bahwa kebahagiaan dan keshalihan dalam beragama apabila seseorang telah percaya kepada Tuhan dan ajarannya serta telah mempu menjalankan kebajikan dalam kehidupan sesame ummat. Sikap toleran dan sikap eklektisisme dalam pemikiran keagamaan merupakan salah satu cirri yang menonjol bagi kelompok ini.

Agama dan Artikulasi Nilai Kemanusiaan

Agama diwahyukan oleh Tuhan ke bumi untuk kebaikan, keteraturan dan kesejahteraan manusia. Dengan ajaran agama manusia mendapatkan pedoman dan pegangan yang pasti dan benar. Dalam konteks ini, agama untuk kepentingan manusia, bukan manusia untuk kepentingan agama. Agama berposisi sebagai jalan (manhaj, shirat, thariqah) menuju pada sesuatu yang dicita citakan, bukan tujuan itu sendiri. Ketika ajaran agama telah dibungkus menjadi paket paket informasi ilmiah, sejatinya telah terjadi objektifikasi dan rasionalisasi dalam dunia agama, dan dalam waktu yang sama ruh dan spirit agama akan tergerus oleh formalisasi tersebut. Akan terjadi seorang menjadi professor yang ahli di bidang ilmu agama, tetapi tidak harus religious. Kemudahan informasi dan literatur keagamaan, akan memberikan peluang lebar orang menjadikan agama sebagai objek profesi yang kompetitif.

Orang yang merespon agama dengan menekuni spiritualitasnya, akan cenderung bersikap apresiatif terhadap nilai nilai luhur keagamaan. Meskipun nilai nilai luhur itu berada di dunia lain. Sebaliknya, ia akan merasa terganggu dengan upaya upaya yang bersifat formalitas yang berlebih lebihan. Karena hal itu akan memasung  perkembangan nilai moral dan spiritual  keagamaan. Namun pergeseran makna ini bagi masyarakat memang belum dirasakan secara serius.

Oleh Ahmad Munir

Bahan Bacaan

Agus, Bustanuddin, Agama Dalam Kehidupan Manusia, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006

Geertz, Clifford, Kebudayaan dan Agama, Jakarta: Kanisius, 2003

Hakim, Atang Abdul, Jaih Mubarok, Metodologi Studi Agama, Bandung: Remaja Rosda Karya,  2002

 

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.