Titik Balik Peran Kaum Perempuan

Titik Balik Peran Kaum Perempuan
0 91

Jika kita membaca perspektif sejarah, dunia dan wanita selalu menjadi terminologi unik. Perempuan selalu diperjuangkan meski perjuangan atasnya, selalu dirasa tetap kurang. Perempuan selalu merasa berada di bawah sub ordinasi laki-laki dan harus mengalah sepenuhnya kepada kaum laki-laki.

Dalam dunia nyata, fakta selalu menunjukkan sebaliknya. Kadang sebenarnya, wanita jauh lebih menguasai laki-laki. Makanya, muncul istilah Ikatan Suami Takut Istri. Tidak ada istilah yang menyebut misalnya, Ikatan Istri Takut Suami. Karena itu, sebenarnya, secara sosiologis, hampir tidak pernah ada di dunia ini, perbedaan mencolok antara peran kaum perempuan dan peran kaum laki-laki. Misalnya, wanita dan pria selalu dididik dalam momen yang sama dengan pelajaran yang juga relatif sama. Guru dan kesempatan kepada dua jenis makhluk ini juga selalu sama.

Tema ini penting diulas untuk memposisikan perempuan dalam proporsi yang wajar. Termasuk dalam mengkaji posisi wanita dalam relasinya dengan keluarga. Suatu komunitas sosial terkecil dalam lingkup kajian sosiologi.

Dalam terminologi Filsafat Pendidikan Islam, keluarga adalah institusi pertama dan sekaligus utama. Keluarga memiliki posisi penting untuk membangun moral dan pendidikan anak. Pendidikan seorang anak, sebagaimana berbagai tulisan saya sebelumnya, hakikatnya menjadi tanggung jawab orang tua.

Pendidikan bagi anak, bukan tanggungjawab sekolah atau lembaga pendidikan lain. Namun Fakta di lapangan, menunjukkan bahwa fungsi keluarga sebagai institusi pendidikan sedang mengalami carut marut. Pendidikan seolah menjadi tanggungjawab sekolah. Inilah yang keliru

Hari ini, harus dicatatkan bahwa fungsi keluarga sebagai institusi pendidikan terus mengalami goncangan. Kondisi ini, secara sosiologis berbeda secara diametral dengan kondisi masa lalu di mana peran-peran domestik dibagi dengan baik di antara kaum pria dan wanita. Karena itu, keluarga masa lalu mampu menghadirkan sejumlah keluarga besar yang berhasil dan menjadi contoh bagi siapapun yang melihat dan mendengarnya. Hari ini, fungsi keluarga dalam konteks pendidikan tadi, kelihatannya sudah tamat riwayatnya.

Perubahan Budaya Keluarga dari Zaman ke Zaman

Posisi dan komposisi peran kaum wanita dan pria dalam konteks keluarga, sebenarnya berakar dari terminologi ekonomi. Bangunan kultural yang mencoba melihat bagaimana dan harus seperti apa, masing-masing anggota keluarga membangun perannya dalam konteks penataan ekonomi keluarga. Untuk itu, ada baiknya misalnya kita membaca tulisan Alvin Toffler yang membincangkan soal dimaksud.

A. Toffler [1980] dalam buku the third wave telah membagi lima jaman dalam perkembangan manusia. Kelima zaman dimaksud adalah sebagai berikut: Simple Food Gathering Economics [Ekonomi Meramu Sederhana], Simple Agricultural and Pastoralism Economics [cocok tanam dan gemblaan], Advanced Agricultural Economics [pertanian maju], Industrial Economics [ekonomi industri] dan Information Economics [ekonomi informasi].

Di lima jaman ini, secara real kaum ibu juga berada dalam domain-domain domestik penting dan sekaligus publik. Dengan masing-masing skala yang seimbang meski hanya dalam konteks tertentu, tentu saja. Di kelima fase perkembangan budaya tadi, posisi wanita sebenarnya selalu tetap sama dan memiliki peran yang signifikan dalam konteks pembentukan watak pendidikan di keluarga.

Kalaupun ada penyebutan bahwa wanita berada dalam sub ordinate kaum pria, lebih pada kaum wanita elite. Fenomena masyarakat yang selalu menempatkan wanita dalam sub ordinate kaum pria, seperti misalnya dalam dongeng Yunani Kuna yang melahirkan dewa Asmara [bisa dibaca seks] dengan nama dewa Kupid yang lahir sebagai hasil perselingkuhan [hubungan gelap] Avrodet dengan seorang laki-laki bangsawan Yunani. Ini salah satu contoh bagaimana kaum perempuan berada dalam sub ordinate tadi.

Fenomena yang sama terjadi di Romawi dan Persia yang menempatkan wanita di posisi yang sama seperti bangsa Yunani Kuna tadi.¬† Bahkan jika mau jujur melihat fenomena wanita Arab pra Islam, yang membunuh hidup-hidup anak perempuan, itu semua terjadi hanya dalam kelompok keluarga elite. Mereka yang merasa malu dengan indikasi merah mukanya yang istrinya melahirkan seorang putri. Mereka merasa tidak mampu mentransformasikan “kegagahan” nasab mereka karena anggapan sosiologis yang menempatkan pemimpin hanya milik kaum laki-laki.

Hanya saja, memang perlu dicatakan bahwa wacana elite selalu menguasai realitas besar masyarakat. Ia selalu menjdi mainstream yang tumbuh menjadi penerjemah sekaligus pembuat sejarah yang syah. Sulit dibayangkan jika semua anak wanita harus dibunuh. Pasti terjadi lost generation yang sangat panjang. Dan itu ternyata tidak pernah kongkret terjadi secara massif.

Perempuan dan Objeks Seks Komersil

Hal lain yang selalu menjadi sorotan adalah, adanya anggapan bahwa perempuan yang terlibat dalam kasus amoral, selalu lebih tinggi derajat kajiannya jika dibandingkan dengan laki-laki yang melakukan hal yang sama. Artinya, jika kita mencoba misalnya melihat contoh lain untuk kasus Yunani Kuna, jangan-jangan wanita penghibur itu, hanya terletak di wilayah elitis.

Hal yang sama berlaku di Romawi dan Persia. Wanita wanita penghibur malam dan pemuas seks laki-laki itu, adalah mereka yang secara kultural disebut orang kota dan dalam beberapa hal, layak disebut sebagai wanita terdidik.

Di pinggir kota Elea dan Miletos, wanita ternyata tetap dapat hidup berdampingan dengan laki-laki. Mereka tumbuh dan berkembang dengan irama pendidikan yang sama. Sama seperti mereka juga bekerja secara bersama-sama dengan kaum pria di ranah domestik dan publik. Tentu dalam soal ini adalah pola dan relasi pekerjaan yang ada dan berkembang dijamannya untuk masing-masing peran dimaksud. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...