Inspirasi Tanpa Batas

Mengenang Kerusuhan 26 Desember 1996 di Tasikmalaya

Mengenang Kerusuhan 26 Desember 1996 di Tasikmalaya
0 309

Dua puluh satu tahun telah berlalu, tetapi kenangan atasnya, belum juga selesai. Waktu itu, 26 Desember 1996, aktivis Tasikmalaya melakukan gerakan massif. Suatu model gerakan yang mungkin menjadi inspirasi munculnya berbagai demonstrasi nasional mulai tahun 1997-1998 di tingkat nasional. Banyak aktivis sebagai dampak dari kejadian 26 Desember itu, yang kemudian dijebloskan ke dalam penjara.

Mengenang 26 Desember 1996, selalu rutin dilakukan setiap tahun. Para aktivis yang tergabung dalam gerakan itu, setiap tahun melakukan pertemuan pada tanggal 26 Desember juga. Aparat setempat juga tidak mengabaikan situasi itu dan mengawasinya dengan penuh kaca. Mereka terus melakukan pengawasan extra ketat. Mereka tampaknya trauma jika situasi 1996 kembali terulang.

Dapat difahami memang jika trauma atas kejadian itu terulang. Di sinilah sebenarnya suatu skenario besar terencana yang bermuara di Jakarta (Semanggi 98 ) yang berhasyrat melengserkan Suharto dimulai. Para aktivis Tasikmalaya, mengawali atas semua dan segalanya. Semua dilakukan justru saat kekuatan rezim Soeharto begitu massif di berbagai daerah

Sebut misalnya, rentetan Situbondo, dan insiden kecil lainya di berbagai kota, termasuk di Majalengka. Hanya Semanggi dan Tasikmalaya merupakan gerakan terbesar , yang menyumbang energi lengsernya presiden Suharto.

Simbol Agama Penyulut Gerakan Massa

Para aktivis 1996 Tasikmalaya, menganggap sikap yang ditempuh pihak Aparat terlalu berlebihan. Mereka menganggap apa yang terjadi di tahun 1996, sangat sulit terjadi. Kecuali memang jika ada faktor penyulutnya. Mereka juga sadar bahwa Kasus pemanggilan dan penyiksaan terhadap santri, Ustadz dan Kyai adalah arogansi pribadi oknum dan bukan merupakan kebijakan institusi. Secara institusional, yang menjadi penyebab utama terjadinya kerusuhan 1996, sama sekali jauh dari apa yang disebut dengan institusional.

Pelajaran berharga atas kasus 1996 di Tasikmalaya, sesungguhnya masih menunjukkan bahwa ulama, ustad Ai??dan kyai, adalah sosok yang menjadi panutan ummat. Mereka bukan hanya menjadi menjadi guru spritual yang tulus dan penuh kesehajaan. Karena itu, jika mereka dianggap dizalimi atau dianiaya oleh oknum aparat, maka, rakyat dengan sendirinya akan kembali membuncah. Di letak ini, dorongan massa sesungguhnya bukan soal ada atau tidak ada yang menggerakkan, yang kemudian melahirkan kambing hitam, tetapi munculnya kesadaran kolektif yang pasti massif. Saya merasa bahwa puluhan ribu massa yang membludak itu, bersumber dari energi dan perasaan panggilan nurani dan panggilan jiwa kemanusiaan yang hadir secara bersama.

Kalau kondisinya seperti ini, maka, secanggih apapun senjata, takkan pernah mampu membendung kekuatan jiwa yang bosan melihat kezaliman dan ketidakadilan. Sehebat apapun pasukan di balik senjata itu, tidak pernah dapat menghentikan panggilan nurani.

Simbol Panutan Umat

Di sinilah, pesantren, kyai atau ulama adalah simbol panutan ummat. Betapa besarnya pengaruh ulama dihati umatnya. Seorang pemuda kecil, kerempeng penuh tato ditangan hingga dadanya, sambil sempoyongan (mabuk… Aku sendiri mencium bau alkohol dari mulutnya ) sambil mengeluarkan clurit dari bajunya. Ia mengejar aparat yang berseragam polisi dan berujar:Ai?? “Aing mah tukang mabok, tapi Mun kyai di siksa, aing wani paeh” [Saya pemabuk, kalau kyai disakiti, maka, saya siap mati]

Dari aspek itu perlu di sadari bahwa penyulut tindakan kesewenangan terhadap simbol tokoh agama ini sangat-sangat sensitif. Jadi sebenarnya penyulutnya bukan ada orang yang menggerakkan atau siapa provokatornya. Intinya menuntut keadilan dan keberpihakan pada nilai kebenaran.

Ada dua hal yang menyebabkan aku tidak yakin, jika acara doa bersama ini tidak ada yang menunggangi. Yaitu:Ai??Saat massa keluar mesjid tiba tiba ada Isyu merebak, bahwa kiyai pesantren Condong meninggal dunia. Pada saat itu situasi semakin panas, berangsur angsur ribuan massa memenuhi jalan Yudanegara, HZ Mustofa dan hampir di semua ruas jalan dalam kota dipenuhi lautan massa.

Pada saat kami masih berorasi di atas tugu Harimau depan Mapolres, aku sempat tertegun bahwa ini ada yang menunggangi. Kepulan asap dari arah Timur dan Barat Daya dalam waktu hampir bersamaan, menyentuhku nuraniku untuk menyatakan, gerakan tidak lagi murni. Dan ternyata, kepulan itu berasal dari rumah ibadah [non Muslim]. Banyak juga akhirnya tokok yang habis terbakar. Marsidi Nadam –Aktivis tak pernah Pensiun–

Komentar
Memuat...