Tugas Utama adalah Pembentukan Kemanusiaan | Eksistensi Pendidikan Islam Part – 6

0 93

Narasi dan deskripsi di makalah-makalah sebelumnya, tersimpulkan bahwa Pendidikan Islam seharusnya membantu tercapainya fungsi kemanusiaan. Fungsi kemanusiaan itu, setidaknya dapat dilihat dari kepentingannya untuk membentuk manusia agar menjadi abdullah dan sekaligus khalifah Allah. Dua fungsi tadi, secara langsung memaksa Lembaga Pendidikan Islam [LPI] untuk secara langsung mengharuskan adanya akomodasi pada seluruh basis keilmuan. Basis yang memadukan antara kepentingan agama [ukhrawy] dan dunia [provan].

Upaya akomodasi dua kepentingan di atas, harus diakui memang sulit dilakukan. Mengapa? Karena pencapaian dua fungsi tadi akan berhadapan dengan berbagai dimensi yang tersedia. Meski demikian, upaya untuk mewujudkan tujuan tadi, bukan berarti harus terhenti. Justru dalam banyak kasus, LPI dituntut harus bekerja keras untuk mewujudkannya. Upaya tersebut dilakukan agar secara ontologis dan aksiologis, ilmu yang berkembang saat ini dapat dituntun oleh dimensi kewahyuan.

Karena itu, citra keilmuan, jika mengutif Mehdi Golashani (2004: 54-55) dan Syed M. Naquib al-Attas (2003:112-115), pasti akan mendorong pencapaian sifat dasar manusia. Ilmu jika dikonstruk dalam berbagai pendekatan tadi, dapat didorong untuk mengembangkan sifat dasar manusia yang hidup secara benar berdasarkan hukum sunatullah yang ada.

Kesanggupan LPI adalah sebuah Tantangan

Kesanggupan LPI dalam menyajikan berbagai rumpun keilmuan sebagaimana dijelaskan tadi, akan semakna dengan upaya memanusiakan manusia. Dalam bahasa yang sering saya gunakan, langkah-langkah  LPI, jika dilakukan dengan benar, dapat mendorong manusia tetap menjadi manusia. Jiwa kemaniusiaan yang tulus seperti pada saat manusia masih berada di alam rahim. Di suatu alam di mana manusia melakukan perjanjian dengan Tuhan. Perjanjian itu telah “ditandatangani” manusia di zaman azali (time of the preseparation) yang mengakui bahwa Allah Ada dan Esa.

Penandatangan perjanjian dimaksud, terekam dalam ayat al Qur’an surat al A’raf ayat 7. Di ayat dimaksud, disebut bahwa ada Tuhan di balik semua realitas [fisik dan un fisik]. Dari semangat ini, ilmu secara ontologis diupayakan untuk dikembalikan kepada makna metafisiknya bukan pada dimensi fisiknya. Sebab jika deminsi terakhir yang digunakan, maka sifat-sifat kasar manusia terkait erat dengan aspek jasad (berdimensi kebinatangan [al-hayawaniyah]) menjadi lebih dominan dibandingkan dengan dimensi keruhanian (an- nathiqiyah). Prof. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.