Tuhan dalam Hukum Alam| Relasi Sains dan Dzikir Part – 2

Tuhan dalam Hukum Alam| Relasi Sains dan Dzikir Part - 2
0 77

Tuhan dalam Hukum Alam – Teori-teori ilmu yang dibangun di atas prinsip materialisme, diketahui selalu berfokus pada paradigma positivistik. Jenis pengetahuan ini akan berlandas pada sumber, metode dan sarana serta alat ilmu (epistemologi) yang mengandalkan kekuatan dunia empiris dan dunia logika. Paradigma ini telah mendorong manusia untuk merasa mampu membuat apapun yang dikehendakinya.

Dalam capaian terakhir, sekalipun kontroversial, ilmuan dianggap berhasil membuat bayi tabung dan kemungkinan menerapkan proses kloning pada dirinya sendiri. Capaian pengetahuan seperti ini, seharusnya [idealisme] berujung pada pengakuan bahwa Tuhan selalu dan pasti menjadi primacausa atas segala yang ada. Jadi, dengan ditemukannya teori kloning [bioteknologi] moderen dengan prinsip evolusi dan vegetasi, harus berakhir dengan kenyataan historis, bahwa ternyata manusia adalah bagian terkecil dari eksistensi dan kekuasaan Tuhan.

Mengungkap Sedikit Teori Sel

Bioteknologi yang diproduk ilmuan sehingga mampu membuat bayi tabung dan bahkan kloning, awalnya berakar dari filsafat positivistik. Suatu faham yang menganggap bahwa di balik yang fisik, selalu tersedia, sesuatu yang bersipat materialistik. Dari landasan ini, ilmuan kemudian positivistik akhirnya mampu menunjukkan bahwa secara empiris, ternyata setiap satu kilogram tubuh manusia, terdapat paling tidak satu trilyun sel. Jadi yang mempengaruhi seseorang apakah akan tampak tua atau tampak muda, berakar pada bagaimana sel dalam tubuh manusia melakukan dinamika.

Muncul pertanyaan dari kalangan idealistik. Di balik sel apa? Kaum positivisme menganggap bahwa di balik sela ada unsur yang juga material. Mereka menyebut bahwa di tengah-tengah setiap sel tubuh, terdapat sebuah nukleus. Manusia, pada awal keberadaannya, dianggap berasal dari sebuah sel yang dibuahi yang kemudian terbagi menjadi dua, dua menjadi empat, empat menjadi delapan, delapan menjadi enam belas dan seterusnya.

Sel-sel dimaksud, menurut ilmuan positivistik, berdiferensiasi dan terspesialisasi. Diferensiasi dan spesialisasi ini kemudian mewujud dalam bentuk kaki, tangan, jari-jari, otak, hati, dan seterusnya. Perkembangan berikutnya, semua dinamika tadi, akhirnya tumbuh dan besar dalam janin seorang ibu. Dalam waktu tertentu, bayi dalam kandungan itu kemudian dilahirkan.

Ketika pertanyaan tadi bergerak lebih jauh, misalnya di balik nukleus sel itu apa? Kaum positivistik menganggap bahwa nukleus setidaknya mengandung asam deoksiribonukleat atau deoxyribonucleic acid (DNA). DNA kemudian lebih populer disebut dengan istilah gen.

Zat ini terdiri dari dua buah untai berbentuk spiral, yang menjadi permukaan tempat terdapatnya molekul-molekul yang kemudian dirumuskan saintis dengan basa Adenin berpasangan dengan Timin, Guanin berpasangan Sitosin (cytosine). Rumusan tadi biasanya disingkat menjadi A, T, G dan C. Nukleus dari sebuah sel manusia, berdasarkan perhitungan para saintis, kurang lebih mengandung tiga milyar huruf-huruf ini. Rumus ini pula yang memungkinkan manusia, dapat mengkonstruk dirinya sendiri dalam apa yang dinamakan dengan kloning. Suatu duplikat fisik diri manusia sendiri dengan berbagai kepentingan yang mengitarinya (Kazuo Murakami, 2006:12).

Makna di Balik Realitas

Apa makna di balik peta empiris semacam ini? Bagi Penulis, seharusnya saintis mampu merumuskan pertanyaan dan ini jarang dilakukan mereka yang sampai pada pertanyaan akhir. Misalnya, dari mana sesungguhnya asal inti sel itu berada? Bukankah peran dimensi metafisik sangat kuat mempengaruhi? Pengaruh dimaksud bukan hanya karena kita memiliki suatu keyakinan, tetapi juga nalar ilmiah.

Apa nalar ilmiahnya? Yaitu bahwa dunia selalu mencari keseimbangan. Bahwa kenyataan bahwa setiap siang pasti mengandung makna malam, kemarau dan hujan, gelap dan terang, pria dan wanita, maka, seharusnya secara teoretik, ketika ada yang materil, mestinya menyisakan sesuatu yang immateril. Yang immateril inilah yang dalam bahasa agama sering disebut dengan Allah.

Perkembangan ilmu pengetahuan, dengan demikian, semestinya tidak bebas pertaliannya dengan dimensi Tuhan. Betul bahwa takdir bagi ilmu pengetahuan adalah untuk berevolusi. Tetapi, apakah perkembangannya tanpa awal? Tanpa disadari bahwa rumus pengetahuan yang menganggap hampir tidak ada titik awal-nol dalam ilmu, telah mendorong rumus baru, bahwa setiap pertumbuhan dan perkembangan apapun dalam dunia ini, termasuk pada pertumbuhan dan perkembangan manusia, didorong atas prinsip-prinsip evolutif dan vegetatif semata tanpa campur tangan Tuhan. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...