Inspirasi Tanpa Batas

Tuhan Kemanusiaan | Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 29

Tuhan Kemanusiaan | Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 29
0 84

Tangisan Kebahagiaan. Bandara Internasional King of Abdul Aziz, terasa sesak. Jutaan manusia antri saat itu. Hal ini telah membuat banyak jama’ah mengalami kelelahan akut. Perjalanan dari Mekkah ke Bandara, memang relatif sebentar. Tetapi, begitu masuk Bandara, penantian itu terasa menjadi beban yang jauh lebih rumit dibandingkan dengan situasi perjalanan. Semua jama’ah dari berbagai negara di seluruh dunia, tumplek seperti mau pada pulang saat itu juga.

Jangankan mereka yang sakit, tentu seperti Shofi didalamnya. Yang sehatpun, rasa sakit itu akan terasa. Terlebih berbagai tas baik yang baggage atau yang hand carry masih dibawa masing-masing jama’ah. Jama’ah, minimal membawa tiga sampai empat tas. Isi tasnya, tentu bukan hanya pakaian gaya Arab. Tetapi, yang terasa berat itu, karena rata-rata membawa air zam-zam didalam tas mereka.

Air zam-zam yang disediakan dan diperkenankan dibawa pulang, jumlahnya sangat terbatas. Karena itu, dengan cara mencuri-curi peluang, jama’ah mengikat dengan kuat air zam-zam itu dan dimasukkan ke dalam tas besar. Jika diketahui bahwa jama’ah membawa air ke dalam tas mereka, pastilah petugas bandara akan melarangnya dengan keras. Bahkan mungkin akan meninggalkan tas yang dibawa jama’ah itu.

Setelah perjalanan dari Mekkah ke Jeddah yang ditempuh selama delapan jam, jama’ah harus juga bertahan kurang lebih 11 jam di Bandara. Mereka yang kebanyakan orang-orang pedesaan, mulai menunjukkan karakter keluguan ala masyarakat desa yang sesungguhnya. Kegelisahan dengan harap-harap cemas, hampir ditampilkan seluruh jama’ah. Makanan juga mulai sangat dibutuhkan. Tubuh mereka mulai pada lemas karena asupan makanan mulai berkurang.

Karena itu, banyak Jama’ hanya memakan kurma dan kacang-kacangan yang dibawa mereka untuk membantali perutnya yang mulai pada lapar. Mereka tidak sanggup untuk membeli makanan yang tersedia di sekitar Bandara. Tidak sedikit yang akhirnya justru ketiduran di emper-emper Bandara. Persis seperti para musaffir jalanan dengan pakaian mulai pada kusut dan lusuh.

Setelah sekian jam dalam proses penantian, akhirnya pesawat yang akan membawa penumpang di mana Shofi dan keluarganya berada, diberitakan datang juga. Betapa bahagianya mereka saat antrian demi antrian mulai merayap. Tampaknya, tidak kurang dari hampir 2000 meter, panjangnya antrian itu mengular. Ini bagian dari beban lain yang dirasa jama’ah saat berada di Bandara. Sekalipun kelelahan dan kelemahan itu terasa, akhirnya sampai juga mereka ke ruang tunggu, yang relatif bersih dan nyaman. Tentu tanpa debu didalamnya.

Deru Pesawat Membawa Jama’ah Sampai di Jakarta

Kursi pesawat dua lantai itu, satu persatu dipenuhi jama’ah. Gesekan jama’ah dengan keluguannya masing-masing, mencari kursi tempat di mana mereka duduk, sering terdengar agak kencang.  Terlebih tentu gang kecil pesawat banyak dipenuhi tas-tas besar yang terpaksa dibawa naik ke dalam. Petugas pesawat baik pramugara maupun pramugari, begitu cekatan membereskan jama’ah.

Pesawat-pun akhirnya mulai menderukan mesinnya. Pelan-pelan mulai berjalan. Sabuk pengaman sudah terikat di masing-masing kursi. Setelah beberapa saat, pesawat menancap gasnya, lalu mengambil posisi terbang. Akhirnya pesawat Boeing 737 mengudara menuju Bandara Soekarno Hatta.

Seperti biasa, Shofi tetap duduk di samping jendela pesawat. Remang cahaya jelang malam, menambah nuansa romantik. Terlebih saat pesawat benar-benar terbang. Shofi melihat dengan jelas bagaimana awan dengan warna yang beraneka ragam terlihat dari atas. Perlahan namun pasti, bergantilah warna-warna cahaya itu, dengan kerlap-kerlip bintang malam, memantulkan cahaya yang sangat indah.

Delapan jam hampir tidak terasa telah berlalu. Dalam lelap tidur jama’ah di dalam peswat, terbangunkan oleh panggilan pramugari yang meminta jama’ah untuk segera memasang sabuk pengaman. Pesawat akan mendarat dalam hitungan menit ke depan. Shofi segera bangun dan melihat ke bawah, dilihatnya alam mulai remang. Hari sudah pagi. Alampun kembali berubah menjadi alam tropik ala Indonesia. Shofi bergumam:

Terima kasih ya Allah …. akhirnya Kau kabulkan do’aku. Kini aku dapat kembali menghirup udara segara ala Nusantara. Terima kasih juga ya Allah … Kau kabulkan do’a kami. Insyaallah kami dapat kembali bertemu dengan keluarga kami. Kami sadar, tanpa-Mu, tak mungkin rasanya sampai kembali lagi ke sini. Kuatkanlah kami agar tetap menjaga ruh kemanusiaan kami, sebagaimana Kau berikan saat kami berada di Mekkah

Shofi bergegas dan menggesekkan matanya dengan tajam. Ia melihat Siti juga sudah bangun. Vetra dan Crhonos juga sama. Mereka sudah bangun. Pesawat memutar-mutar tubuhnya, lalu mendatar dan tiba-tiba prek sampai juga di bandara. Semua jama’ah mengatakan al hamdulillahi rabb  al alamien …

Dinanti dalam Derai Tangisan

Sesampainya di Bandara, jama’ah tetap mengantri. Mengantri untuk menggambil barang-barang di baggage dan menunggu jemputan dari bus yang disediakan KBIH. Tidak kurang dari enam jam jama’ah asal Indonesia, bulak balik di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Tetapi, sekalipun tampak sangat lelah, mereka bahagia. Mereka umumnya merasa bahwa sesungguhnya cuplikan syurga itu ada di Indonesia. Bukan di tempat yang secara natur berbeda dengan tubuh mereka. Termasuk tentu negeri seperti Arab Saudi.

Setelah sekian jam berada di Bandara, akhirnya mereka naik bus menuju tempat asal mereka berangkat. Berbagai kebahagiaan tersirat di wajah seluruh jama’ah. Bus melaju dengan kencang. Sampailah mereka di KBIH pada hari menjelang sore. Dilihatnya, keluarga jama’ah yang mendekati angka ratusa orang sudah berkumpul. Termasuk tentu keluarga Shofi. Mereka yang menanti keluarganya itu, tentu semuanya, ya hampir semuanya berlinangkan air mata.

Shofi dan keluarganya turun dari bus dan dipekuk seluruh anak dan menantunya yang tidak ikut berangkat. Mereka menangis dan mengira kalau Shofi tidak akan bisa kembali lagi ke Indonesia. Mereka memuji Tuhan karena hanya karena Dia-lah, Shofi dianggapnya dapat kembali. Mereka tahu dan sadar, betapa berat beban yang harus ditanggung Shofi saat menjalani ibadah haji.

Mobil pribadi dan keluarga Shofi akhirnya membawa mereka pulang. Dilihat dirumahnya tamu sangat banyak dan membuat rumah kecil itu menjadi padat. Tamu-tamu dan keluarga Shofi menanti kepulangan mereka dalam waktu yang relatif lama. Mereka juga rutin membacakan surat Yasin dan berbagai surat lain dalam al Qur’an atas kesehatan dan kesempurnaan ibadah haji Shofi sekeluarga. Hampir setiap malam, mereka membaca ayat-ayat suci al Qur’an.

Sampai di rumah, Shofi kembali anfal. Ia didera penyakit asma akut yang membuat dia sangat sulit untuk bernafas. Crhonos memanggil dokter keluarga. Ia kembali dirawat di rumah milik Crhonos. Hampir dua hari, ia dirawat intensif sehingga pada akhirnya, ia memilih pulang ke kampung halamannya bernama TURTLE.

Pesan Shofi kepada Keluarga dan Sahabat Dekatnya

Setiap tamu atau keluarganya yang datang, Shofi hanya bisa berkata dan berdo’a. semoga anda semua dapat menunaikan ibadah haji. Syukur kalau hal itu dapat dilakukan sewaktu tubuh masih sangat sehat. Jika tidak, maka, anda semua harus yakin, bahwa di bumi ini, hajji sesungguhnya dapat anda lakukan melalui segenap kebaikan dalam hidup.

Temukanlah Tuhan anda semua di sini. Di tempat di mana Ka’bah menjadi saksi bisu akan kebesaran Tuhan, sesungguhnya tidak akan pernah menemukan Tuhanmu, jika jiwa kemanusiaan tidak mampu anda tunaikan. Tuhan yang sesungguhnya Tuhan, kata Shofi, ternyata melekat dalam jiwa kita yang ramah terhadap sesama manusia.

Shofi melarang Siti, termasuk tentu anak dan menantunya untuk bercerita sesuatu yang aneh. Dia mengatakan: “Biarkanlah pengalaman personal haji, hanya menjadi milik kita pribadi masing-masing. Namun dengan keberangkatan hajjiku, aku justru meyakinkan diri bahwa Tuhan yang sesungguhnya Tuhan, ternyata melekat dengan diri dan jiwa kita. By. Charly Siera –bersambung

Komentar
Memuat...