Take a fresh look at your lifestyle.

Tuhan Selamatkan Negeri Sabaku | Novel Filsafat Part – 5

0 57

Leuxiphos bingung mencari figur yang dapat menghibur keresahan bathinnya. Apalagi yang dapat mengajaknya ke alam ketuhanan. Leuxiphos sepenuhnya sadar, bahwa dalam ruang theologis yang dianutnya itu, Mandataris Tuhan sudah berakhir bersama dengan berakhirnya kerasulan Muhammad. Leuxiphos yakin, seyakin-yakinnya, bahwa tidak akan ada lagi yang dapat menjadi mandataris Tuhan setelah kenabian dan kerasulan Muhammad.

Itulah keyakinan teologisku. Leuxiphos berulang-ulang menyatakan hal itu di bathin terdalamnya. “Aku tidak mungkin mengubahnya, sekalipun secara sosiologis, kondisi ini sejatinya memusingkan. Tuhan seperti tidak sayang kepadaku dan kepada jenis makhluk sepertiku. Mengapa Tuhan tidak memberi otoritas baru, siapa yang Dia sayangi, yang Dia cintai dan Dia percayai untuk kemudian menurunkan mandataris-Nya yang baru. Mandataris itu, diberi tugas khusus menyelesaiankan setiap masalah sosial yang semakin hari semakin kompleks.

Leuxiphos terus mengadu kepada dirinya sendiri dan berharap Tuhan memberi ilham kepadanya. Ia tidak meratapi semua fenomena kemanusiaannya di Masjid, di Gereja, di Sinagog atau di Pure. Ia malah mengimaginasinya di sebuah tempat yang cenderung belantara. Imanku kata Leuxiphos adalah keimanan substansial. Keyakinananku bukan alami, bukan rasional, bukan superanatural. Aku, kata Leuxiphos, membawanya ke alam supra rasional. Tuhan berada di alam supera rasional. Dan hanya dengan cara itulah, Tuhan menurutnya dapat “ditemukan” dengan utuh.

Berakhirnya kerasulan Muhammad, telah mengakhiri seluruh titah ketuhanan. Sementara para penerus mandataris Tuhan itu, kini diam dan terbungkam. Mereka banyak bahkan yang ingin merubah statusnya menjadi “demagog-demagog” ulung, dan tak lagi peduli atas titah Tuhan yang dibawa para mandaris-Nya itu ke bumi. Jikapun ada yang masih konsisten menjadi penerus para mandataris itu, kini mereka seperti sedang mendapatkan tekanan dari para froxy yang secara sengaja, menghinakan dan melecehkan ke dalam posisi yang sangat terhinakan.

Tuhan Selamatkanlah Negeri Sabaku’

Tuhan, aku tahu Engkau tahu. Aku tahu Engkau kuat. Aku tahu Engkau Maha Kuasa. Engkau kuyakin tahu bahkan terhadap para penerus mandaris-Mu yang kni seperti sedang meralat perjalanan masa lalunya. Termasuk Kau tahu bagaimana para penerus mandatarismu yang ada di negeri Saba’.

Mereka, dahulu kala berdiri di balik semua penjaga gawang Wealthy. Wealthy yang demikian, sedikit banyak melakukan langkah-langkahnya dengan memperhatikan dan mempertimbangkan para pembisiknya yang mewakili kelompok penjaga Tuhan. Kini mereka terkesan malah berdiri di suatu barisan yang sejajar dengan mereka yang berhasyrat “menghapusMu” dan seperti berhasyrat melemahkan seluruh titah-Mu.

Surat-surat-Mu yang Kau kirim melalui MandatarisMu yang terdiri dari ratusan Surat dengan puluhan Sub Pokok Bahasan itu-pun, kini seperti terpanggang dalam lautan penafsiran yang sangat kompleks. Apalagi terhadap surat-suratMu yang Kau kirimkan ribuan tahun sebelum kirimanMu yang terakhir. Sepuluh perintahMu dan nyanyian indah-Mu yang Kau kirimkan jauh hari sebelum suratMu yang terakhir, malah hanya terlukis dalam wall-wall aneh dengan muatan penuh nuansa politik dan gegap gempita pengumpulan kapital yang berlebihan.

Tuhan …. Damaikanlah hatiku. Aku hanya takut Kau laknat negeri indah ini seperti pernah Kau lakukan di puluhan ribu tahun yang lalu. Aku ingin Kau tetap merawat negeriMu yang Kau hadiahkan untukku dan semua makhluk yang ada didalamnya. Menjaga-Nya dengan memberi segenap rahmat dan ampunan atas semua kecongkakan kami.

Jauhkanlah kami dari segenap prasangka buruk terhadap hasyratMu akan negeriku. Jagalah kami dalam lumpuran kehidupan, yang semakin hari terasa semakin menyesakkan. Berlinanglah air mata Leuxiphos di sudut suatu hutan dengan linangan air mata yang hampir sulit dibendung. Prof. Cecep Sumarna –bersambung–

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar