Inspirasi Tanpa Batas

Tujuan Pembelajaran Internalisasi Nilai| Interactive Learning Part – 4

Tujuan Pembelajaran Internalisasi Nilai| Interactive Learning Part - 4
0 73

Menurut A. Tafsir, [6]  memiliki tiga tujuan. Ketiga Tujuan dimaksud adalah untuk:

Model Knowing

Agar peserta didik tahu atau mengetahui (knowing). Di sini tugas guru ialah mengupayakan agar peserta didik mengetahui sesuatu konsep. Peserta didik diajar agar mengetahui menghitung luas bidang. Guru mengajarkan bahwa cara yang paling mudah untuk mengetahui luas bidang segi empat ialah dengan mengalikan panjang (p) dengan lebar (1) guru menuliskan rumus: luas = panjang x lebar (l = p x 1). Guru mengajarkan ini dengan cara memperlihatkan beberapa contoh bidang.

Untuk mengetahui apakah peserta didik telah memahami guru sebaiknya memberikan soal-soal latihan, baik dikerjakan disekolah maupun dirumah. Akhirnya guru yakin bahwa peserta didiknya telah mengetahui bahwa cara menentukan luas bidang segi empat. Selesai aspek knowing.

Model Doing

Agar peserta didik mampu melaksanakan atau mengerjakan yang ia ketahui itu (doing). Dalam hal mengetahui luas bidang seharusnya peserta didik dibawa kealam nyata yaitu menyaksikan bidang (bidang-bidang) tertentu, lantas satu persatu peserta didik (dapat juga dibagi menjadi kelompok-kelompok) mengukur secara nyata dan menentukan luas bidang-bidang itu.

Bila semua peserta didik (sekali lagi: semua peserta didik) telah menghitung dengan cara yang benar dan hasil yang benar maka yakinlah guru bahwa peserta didik telah mampu melaksanakan yang ia ketahui itu (dalam hal ini konsep dalam rumus itu tadi). Sampai disini tercapailah tujuan pembelajaran aspek doing.

Model Being

Agar peserta didik menjadi orang seperti yang ia ketahui itu. Konsep itu seharusnya tidak sekedar menjadi miliknya tetapi menjadi satu dengan kepribadiannya. Dalam hal ini setiap ia hendak mengetahui luas, ia selalu menggunakan rumus yang telah diketahuinya itu. Inilah tujuan pengajaran aspek being.

Khusus untuk Proses Nilai

Dalam pengajaran yang tidak mengandung nilai buruk-baik (seperti pengajaran matematika itu) proses dari knowing ke doing, dari doing ke being itu akan berjalan secara otomatis. Artinya, bila peserta didik telah mengetahui konsepnya, terampil melaksanakannya, secara otomatis ia akan melaksanakan konsep itu dalam kehidupannya. Nanti dalam kehidupannya, ia akan selalu mengalikan panjang dengan lebar bila mencari luas.

Jika ia kurang baik akhlaknya, paling jauh ia menipu angka mungkin ia menipu dalam mengukur panjang atau lebar, tetapi rumus itu tidak mungkin di selewengkannya. Karena itu dalam pengajaran yang tidak mengandung nilai (maksudnya: konsepnya bebas nilai) proses pembelajaran untuk mencapai aspek being tidaklah sulit.  Hal itu, menurut A. Tafsir akan sangat berbeda dengan apa yang diajarkan guru dalam bidang sosial, termasuk dalam mata pelajaran agama.[7]

Motif Internalisasi Nilai

Internalisasi nilai dalam proses pembelajaran, pun dalam soal pendidikan agama dan ilmu-ilmu sosial lainnya, impelementasinya setidaknya membutuhkan motivasi dari seluruh elemen pendidikan. Tidak hanya guru, atau dosen, tetapi, juga pemimpin lembaga pendidikan dimaksud.

Secara teoretik, implementasi motivasi untuk melakukan internalisasi nilai itu, setidaknya membutuhkan tiga pendekatan, yaitu; 1) isi (content), 2) proses, 3) dan, pengetahuan. Teori dengan pendekatan isi lebih banyak menekankan pada faktor apa yang membuat individu melakukan suatu tindakan dengan cara tertentu atau nilai tertentu.

Tergolong kedalam kelompok teori ini masuk  misalnya  teori    jenjang kebutuhan dari Maslow, [8] yang sepintas terkesan secular karena menjauhkan dimensi keberagaman. Dr. H. Djono

Komentar
Memuat...