Tujuan Pendidikan Pondok Pesantren

0 635

Dewasa ini pondok pesantren telah berkembang dan merupakan lembaga gabungan antara sistem pondok dan sekolah yang memberikan pendidikan agama Islam dan umum dengan sistem klasikal (schooling) yang lazim disebut madrasah. Sebagai lembaga pendidikan Islam yang dikelola seutuhnya oleh kyai dan santri keberadaan pesantren pada dasarnya berbeda diberbagai tempat baik kegiatan maupun bentuknya. Meski demikian, secara umum dapat dilihat adanya pola yang sama pada pesantren. Persamaan pola tersebut dapat dibedakan dari dua segi. Pertama, segi fisik yang terdiri dari empat komponen pokok yang selalu ada pada setiap pesantren, yaitu:

(1) Kyai sebagai pemimpin, pendidik, guru dan panutan,

(2) Santri sebagai peserta didik atau siswa,

(3) Masjid sebagai tempat penyelenggaraan pendidikan, pengajaran, dan peribadatan,

(4) Pondok sebagai asrama untuk mukim santri.

Sedang segi kedua adalah komponen non fisik yaitu Pengajian (pengajaran agama) yang disampaikan dengan berbagai metode yang secara umum memiliki keseragaman, yakni standarisasi tentang kerangka system nilai baik dan buruk yang menjadi dasar kehidupan dan perkembangan pondok nilai baik dan buruk yang menjadi dasar kehidupan dan perkembangan pondok pesantren.

Tujuan Pendidikan Di Pondok Pesantren

Pondok pesantren salaf pada umumnya tidak merumuskan secara eksplisit dasar dan tujuan pendidikannya. Hal ini terbawa oleh sifat kesederhanan pesantren yang sesuai dengan dorongan berdirinya dimana Kiyai mengajar dan santri belajar, semata-mata adalah untuk “ibadah” dan tidak pernah dihubungan dengan tujuan tertentu dalam lapangan penghidupan. Untuk mengetahui tujuan pendidikan yang di selenggarakan pesantren, melalui pamahaman fungsi-fungsi yang dilaksanakan dan dikembangkan oleh pesantren itu sendiri baik dalam hubungannya dengan para santri maupun dengan masyarakat di sekitarnya.

Sebagai lembaga penyebaran agama, tujuan pendidikan pesantren yang didirikan di suatu tempat bertujuan agar penduduk di sekitarnya dapat dipengaruhi sedemikian rupa. Sehingga yang sebelumnya tidak atau belum menerima agama Islam dapat berubah menjadi menerimanya bahkan akhirnya menjadi pemeluk-pemeluk Islam yang teguh. Sedangkan tempat mempelajari agama Islam adalah karena aktifitas yang pertama dan utama dari sebuah pesantren adalah sebagai tempat mempelajari dan memperdalam ilmu pengetahuan agama Islam. Dalam hal ini pola pertumbuhan hampir setiap pesantren menunjukan kemampuan melakukan perubahan total terhadap masyarakat sekitarnya sehingga masyarakat yang belum muslim, berubah menjadi masyarakat Islam yang teguh.

Nilai Nilai Pondok Pesantren

Nilai Nilai Pondok Pesantren

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, kata nilai  memiliki banyak arti. Di antara arti dasar dari kata tersebut  adalah harga. Namun secara filosofi kata nilai memiliki dua arti; pertama sifat sifat atau hal hal yang penting atau berguna bagi kemanusiaan. Kedua, sesuatu yang menyempurnakan manusia sesuai dengan hakikatnya. Dalam dunia pondok pesantren, nilai merupakan filsafat, pegangan dan pedoman kehidupan dan keberlangsungan pendidikan pondok pesantren. Nilai ini mendasari dan mewarnai seluruh kehidupan yang ada di pondok. Mulai dari kiyai, santri dan seluruh yang berhubungan dengan pondok. Ada lima nilai yang menjadi ruh dan spirit keberlangsungan pondok pesantren:

  1. Keikhlasan, yang merupakan nilai yang membentuk jiwa manusia yang tidak mengorientasikan segala gerak dan lakunya hanya diukur dengan materi. Di atas usaha manusia harus diorientasikan untuk sesuatu yang maslahah demi mencari keridlaan ilahi yang dikenal dengan ibadah. Ketika nilai keikhlasan menjiwai seluruh elemen pondok, maka yang ada adalah iklim kompetisi untuk mempersembahkan yang terbaik dalam nafas kehidupan.
  2. Kesederhanaan. Kesederhanaan bukan berarti minus dan kering dari kecukupan materi. Akan tetapi lebih dititikberatkan pada efektivitas dan efesiensi dalam menggunakan dan memanfaatkan sebuah materi. Dalam posisi ini, materi bukan segalanya, melainkan hanya berfungsi sebagai alat dan perantara. Oleh karenanya, penggunaan materi disesuaikan dengan keadan dan kebutuhan dengan prinsip menghindarkan dari sikap inefisiensi dan inefektifitas, yang dalam bahasa agamanya disebut dengan sikap tabdzîr dan isyrâf.
  3. Kemandirian. Prinsip kemandirian bagi pondok pesantren sangat penting, agar pondok mampu menentukan prinsip, jati diri dan cita cita mulianya dengan tidak mudah terpengaruh pada donatur dan siapa pun yang ingin bergabung dan berpartisipasi dengan pondok. Sehingga semua yang ada berjalan di atas prinsip ketulusan dan tanpa pamrih.
  4. Ukhuwah Islamiyyah. Didasari tiga prinsip di atas, akan memunculkan rasa seperasaan dan sepenanggungan dalam hidup di pondok. Akhirnya muncul rasa solidaritas dan persaudaraan yang kuat yang didasarkan pada nilai nilai agama yang disebut dengan Ukhuwah Islamiyyah, yang tidak saja terjadi di pondok, melainkan akan berlanjut setelah selesainya nanti di luar pondok.
  5. Kebebasan.  Bebas disini bukan berarti sikap yang tak terkendalikan. Akan tetapi muncul kearifan jiwa  yaitu rasa damai, tenang dan kepuasan. Tanpa adanya sebuah tekanan dan paksaan. Karena segala sesuatunya didasarkan pada prinsip ketulusan dan keikhlasan, kesahajaan, keharmonian dan lain laian, akhirnya merasakan suatu kenyamaan dan bebas dari perasaan tertekan. (Tujuan Pendidikan)

Baca Juga : Pesantren dan Metode Pembelajarannya

Komentar
Memuat...