Inspirasi Tanpa Batas

Tunduk pada Sunat al Allah| Belajar Menjadi Kekasih Allah Part – 6

0 1

Konten Sponsor

Tunduk pada Sunat al Allah. Dalam konteks ketundukkan kepada hukum Tuhan [sunnatullah], manusia, ternyata kalah oleh makhluk lain. Hanya manusia, yang kadang membantah dan menolak hukum Tuhan. Karena itu, wajar jika hanya di kalangan manusialah, berbagai “pertempuran dan peperangan” terjadi. Mengapa? Karena di alam manusialah, ketidak seimbangan [penolakan terhadap sunatullah]  itu terbukti.

Berikut beberapa ayat al Qur’an yang menerangkan tentang ketundukan alam dan makhluk lain, selain manusia yang selalu tunduk pada hukum-Nya. Di antara ayat dimaksud adalah sebagai berikut:

“Surat al Baqarah [2]: 116 Allah menyatakan: “…. bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepadaNya. “Surat Ali Imran [3]: 83 Allah menyatakan: “…. Padahal kepadaNya-lah berserah diri segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa.  Ayat ini, sejalan juga dengan firman-Nya dalam. Surat al Nahl [16]: 49 “…. Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk melata yang ada di bumi dan (juga) para malaikat. Sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri.

Semakna dengan ayat tadi, dalam surat al Hajj [22]: 18 Allah juga menyatakan:  “…. Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang melata dan sebagian besar daripada manusia? Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari.” Dalam surat Al-Isra’ [17]:  44 Allah mengatakan: “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya ber-tasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memujiNya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.”

Nalar Filosofis

Berlandas kepada beberapa ayat al Qur’an di atas, maka, pemaknaan terhadap hukum Tuhan, adalah kemenerimaan kita pada hukum kausalitas yang dicipta Tuhan. Misalnya, Matahari selalu terbit dari Timur dan tenggelam di sebelah Barat. Matahari tidak pernah mau berputar dari arah yang berbeda atau berlawanan. Ia juga tidak mau menggunakan poros Bulan atau poros lain di galaksi Bima Sakti. Karena itu, mereka tidak pernah bertabrakan dengan benda lain yang berbeda atau sejenis.

Inilah makna lain dari al Qur’an surat Yasin [36]: 38 yang menyatakan bahwa matahari selalu berputar di porosnya. Dan itulah ketentuan yang ditetapkan Dzat yang Maha Mulia dan Maha Mengetahui. Contoh selain matahari tentu banyak dan mudah didapatkan. Inilah teleleologis.

Jika manusia mengikuti nalar sebagaimana makhluk Tuhan yang lain, tunduk pada semua ketentuan Tuhan, maka, kekacauan [chaos] itu tidak akan pernah ada. Misalnya, coba kita bayangkan, bagaimana kita akan tumbuh menjadi manusia yang pintar kalau tidak biasa membaca, menulis, berdiskusi dan menulis. Tidak mungkin kita disebut lulus. Di sisi lain, banyak orang yang ingin lulus, meski takdir menjadi manusia yang pintar tidak dia lakukan.

Dalam konteks karier juga sama. Seharusnya mereka yang tampil yang menjadi pemimpin itu, adalah mereka yang terbaik menurut ukuran kelas dan tempatnya. Tetapi, pasti akan selalu ada manusia yang mencoba melawan takdir [sunatullah] padahal dia jauh dari persyaratan untuk disebut able.

Bagi saya, sekalipun akan sangat sedikit jumlahnya, “menyerah” pada hukum Tuhan [sunatullah/takdir], adalah bagian dari mereka yang patut atau layak untuk disebut sebagai wujud yang sedang berupaya untuk menjadi kekasih Allah. By. Prof. Cecep Sumarna

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar