Turki Berkubang di Antara Sekularisme dan Idealitas Politik Islam

0 58

Sekularisme Turki, tak pernah berhenti didiskusikan baik oleh yang pro maupun yang kontra. Bagaimana tidak, negeri yang berada di antara dua benua, yakni Asia dan Eropa ini, menetapkan diri sebagai negeri sekular dengan basis nasionalis. Ia mendeklarasikan diri sebagai negera dan melepas semua sisa-sisa negara Islam untuk merdeka. Deklarasi ini, justru terjadi saat di mana negeri ini masih menjadi kiblat bagi seluruh dunia Islam dalam apa yang disebut dengan khilafah Islamiyah.

Tokoh Penting dan Ide Dasar Sekularisme Turki

Tokoh penting di balik deklarasi sekularisme adalah Mustafa Kemal Attaturk. Ia meruntuhkan system khilafah Islamiyah yang sudah dibangun sejak khalifah Abu Bakar, yakni tahun 632 Masehi dan berakhir pada tanggal 03 Maret 1924, dan meresmikan Turki sebagai negeri secular pada tahun 1936 Masehi.

Mustafa Kemal Attaturk tentu fenomenal. Disebut Attaturk di belakang namanya, karena, oleh sebagian orang atau pendukungnya, dia sosok yang paling berjasa dalam melahirkan negeri Turki. Tanpa kehadirannya, Turki akan hilang sebagai sebuah negara merdeka. Attaurk mengadagiumkan diri sebagai pendiri atau bapak pembangunan Turki.

Mengapa disebut berjasa dan disebut sebagai pendiri Turki? Sebab saat itu, negara-negara yang berada di bawah kekuasaan daulah Islamiyah, khususnya dinasti utsmaniyah II, hampir sebagian besar telah dikuasai Eropa. Karena itu, jika Turki tidak memerdekakan diri, maka, ia akan termasuk dalam wilayah jajahan bangsa Eropa dimaksud. Dan penyebutan dia sebagai bapak pembangunan, karena ia menerapkan prinsip-prinsip dasar pembangunan dalam apa yang disebut dengan sekularisme.

Dalam anggapan Mustafa Kemal Attaturk, tidak mungkin Turki bangkit secara ekonomi tanpa mampu membedakan mana yang menjadi urusan agama dan mana yang menjadi urusan dunia. Ekonomi adalah urusan dunia dan tidak bersangkut paut dengan urusan agama. Agama berada dalam wilayah private sedangkan ekonomi berada dalam wilayah publik.

Faktor lainnya mengapa sekularisme? Karena ia sadar bahwa Eropa pada umumnya adalah non Muslim. Karena itu, jika Turki tetap memaksakan diri menjadi negara Islam dan melakukan sekularisme, maka, ia akan berada dalam kesendiriannya dan tidak mampu beradaftasi dengan negara lain di sekitarnya.

Turki Pasca Sekularisme

Setelah paket sekularisme digulirkan, ekonomi Turki tetap tidak beranjak maju. Ia tetap terbelakang dan Turki tetap tidak memiliki peran apapun dalam konteks regional Eropa. Ekonomi sulit bertumbuh dan pendapatan per kapita penduduk tetap berada dalam lapis peripheral. Karena itu, gerakan anti sekularisme terus menguat beriringan dengan kuatnya cengkraman negara secular Turki terhadap mereka yang masih mengidamkan terbentuknya daulah Islamiyah.

Namun demikian, karena masyarakat Turki adalah mayoritas Muslim. pikiran-pikiran untuk menghidupkan kembali prinsip-prinsip dasar Islamiyah itu, tetap saja hidup di hati masing-masing penduduk. Karena itu, kegagalan Islam politik, tidak serta menggagalkan Islam kultural. Islam kutural inilah kemudian yang melahirkan berbagai ahli secara mandiri dan sangat sedikit yang memiliki keterikatan dengan birokrasi negara. Inilah yang kemudian menjadi cikal anti sekularisme dengan gerakan yang sangat halus, sehingga sekularisme tampaknya akan kembali runtuh di Turki

Partai Islam Kembali Bekuasa

Setelah 91 tahun (1936-2014 Masehi) Turki berada dalam bayang-bayag Eropa yang secular, baru pada tahun 2014, Partai Islam kembali berkuasa. AKP yang menjadi Partai Islam dibawah Recep Tayyip Erdogan ini, sekalipun tidak dideklarasikan sebagai pengusung prinsip khilafah Islamiyah. Tetapi, asas dasar perjuangan politiknya bersandar pada nilai-nilai Islam. Beberapa keberhasilan yang mampu dihimpun kami oleh team lyceum Indonesia, keberhasilan AKP dan Erdogan dalam membangun Turki moderen dapat dilihat berikut ini:

Produk Domestik Nasional, sejak tahun 2013 telah mencapai 100 milyar dolar Amerika, menyamai pendapatan gabungan 3 negara dengan ekonomi terkuat di Timur Tengah; Arab Saudi, Uni Emirat arab, Iran, dan ditambah dengan Yordan, Suriah dan Libanon; mengubah Turki dari dari rangking 111 dunia ke peringkat 16, dengan rata-rata peningkatan 10 % pertahun.

Turki masuk akhirnya ke dalam 20 negara besar terkuat (G-20) di dunia dengan pendapatan per kapita penduduk sebesar 11000 dollar USA. membangun Airport Internasional Istambul — bandara terbesar di Eropa mampu menampung 1260 pesawat setiap hari dan Bandara Shabiha yang menampung 630 pesawat setiap hari dengan menempatkan Turkish Airline meraih peringkat maskapai penerbangan terbaik di dunia dalam 3 tahun berturut-turut; melakukan penghijauan dengan menanam 770 juta pohon Harjia dan berbuah; memproduksi Tank baja, pesawat terbang dan pesawat tempur tanpa awak, serta satelit militer modern pertama yang multi fungsi secara mandiri; mendirikan 125 universitas baru, 189 sekolah baru, 510 rumah sakit baru dan 169.000 kelas baru yang modern. Sehingga rasio siswa perkelas tidak lebih dari 21 orang. Tentu masih banyak keberhasilan lain yang mampu diraih Turki dan pemerintahan Muslimnya saat ini.

Kudetapun Gagal

Dengan asumsi ekonomi seperti itu, menjadi dapat dimengerti mengapa upaya melakukan kudeta gagal dilakukan di Turki. Partai Islam di bawah Erdogan itu, justru berhasil meyakinkan dunia bahwa dengan prinsip-prinsip Islamlah, bukan hanya kedamaian yang diperoleh, tetapi, juga kemapanan ekonomi. Semoga Turki dapat menjadi salah satu contoh bagaimana konsep Islam ini mampu ditransformasi dengan baik ke Publik. **** Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.