Inspirasi Tanpa Batas

Menerima Segala Keadaan| Belajar Menjadi Kekasih Allah Part-4

Belajar Menjadi Kekasih Allah Part -4
0 37

Menerima Segala Keadaan. Di bagian kedua dalam serial ini, penulis menyebut bahwa selain Tuhan, semuanya adalah kosong. Semuanya adalah tidak ada. Karena semua kosong dan tidak ada, maka, keberadaan manusia –termasuk kehidupan kita di dunia– pada hakikatnya tidak ada. Keberadaan kita bukan hanya sekedar bayang-bayang dari Sang Pengada, tetapi, selalu bersipat sementara karena pada akhirnya semua yang ada itu akan sirna.

Sebut dalam makna positif, kebaikan. Apa yang disebut baik, sejatinya sementara. Ia tidak bakal berada dalam makna eksak untuk tetap disebut baik. Selain mungkin karena penilai kebaikan bersipat relatif, juga karena apa yang disebut baik, hanya ketika kita benar-benar layak untuk disebut baik oleh mereka yang menilainya.

Di sisi lain harus diingat bahwa, mereka yang menyimpulkan kita baik, memiliki sipat sementara. Sama sementaranya seperti kita. Yang Maha Baik [Tuhan], belum tentu memberi penilaian yang sama atas apa yang kita sebut baik.

Dalam perspektif sebaliknya, sama! Apa yang disebut dengan buruk, sejatinya hanya sementara. Ia persis seperti kabut tebal di siang hari yang menghalangi sinar matahari. Dalam posisi awan yang tebal dimaksud, sebetapapun dahsyatnya sinar matahari, ia tidak akan mampu menembus bumi.

Dalam posisi awan yang menyelimuti matahari dimaksud, bukan berarti matahari atau sinarnya tidak ada. Matahari dan sinarnya, ternyata tetap ada. Buktinya, ketika awan secara perlahan meninggalkan matahari, sinar dan wujud fisik matahari kembali tampak secara jelas.

Kemampuan Menerima

Nalar yang penulis gambarkan di atas, akan menyimpulkan bahwa pada akhirnya, kita harus memiliki kerelaan untuk menerima berbagai keadaan yang menimpa kita. Mengapa? Karena setiap keadaan adalah wujud dari seluruh ekspresi sipat Tuhan atas cerminnya yang paling hakiki, yakni manusia. Untuk menunjukkan bahwa hanya Tuhan yang tidak berubah, maka, seluruh makhluknya, termasuk tentu manusia, selalu berubah juga.

Melalui perspesi semacam ini, kita juga akhirnya akan menyimpulkan bahwa, kebaikan akan terlihat karena ada keburukan. Begitupun sebaliknya! Keburukan akan terlihat karena ada kebaikan dan keburukan adalah dua sisi mata uang sulit dipisahkan, meski sangat mungkin dibedakan.

Karena kebaikan diketahui melalui eksistensi keburukan, maka, apa yang disebut keburukan haruslah juga disyukuri, sebagai bagian dari cara mengekspresikan wujud kita sebagai manusia. Ia memancarkan segenap cahaya, seperti pernah penulis unggah di Face Book yang menyebut bahwa pertemuan antara arus fositif dan negatif, akan mampu membuat dunia menjadi terang. Jika dalam realitas faktual, sisi dimaksud tidak bertemu, maka, berarti sesungguhnya ada something wrong di alam realitas kita.

Filosofi ini, mungkin akan terwujud jika kita pandai menerima segenap realitas. Mereka yang memiliki kepandaian menerima realitas,  inilah yang bakal dicintai Tuhan. Yang dicintai Tuhan, itulah yang bakal sukses. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...