Ujian Datang untuk Memenuhi Janji | Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 22

Ujian Datang untuk Memenuhi Janji | Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 22
0 90

Ujian Datang untuk Memenuhi Janji. Seluruh jama’ah haji, di mana Shofi dan Crhonos beserta keluarga dan jama’ah bareng bersama, tetap berada di Mina. Sebelumnya, sehabis melaksanakan mabit di Muzdalifah, kami, kata Crhonos, langsung melakukan balang atau jumrah [melempar]. Disinilah batu kami lemparkan. Inilah hari pertama sekaligus berada di tugu pertama. Betapa beratnya perjalanan yang harus ditempuh untuk dapat sampai ke tempat itu. Tenda dengan tempat di mana balang itu dapat dilakukan, sangat jauh sekali. Itu semua hanya dapat dilakukan melalui jalan kaki.

Crhonos melakukan Jumrah Ula (pelemparan pertama) saat matahari benar-benar baru terbit. Ia menyaksikan bagaimana matahari dengan warna kemerahan yang sangat sempurna terlihat. Ia bersama istrinya, Vetra, pagi itu berjalan bersama dengan jubelan jama’ah yang hampir merapatkan seluruh tubuh. Sulit membayangkan bagaimana motibasi spiritual seperti ini dapat terjadi.

Ia berhenti di terowongan Mina yang sempat membuat ratusan jama’ah haji Indonesia meninggal. Ia membayangkan, bagaimana kalau listri dan AC di terowongan di mana dia melewatinya mati. Maka, hampir dapat dipastikan, kematian itu sulit dihindari. Inilah terowongan dengan jumlah jama’ah yang luar biasa padatnya. Iaberkata dalam hatinya: Ya Allah berilah tempat syurga untuk para syuhada di sini”.

Pelemparan batu yang popular dengan sebutan balang kecil, telah menghabiskan 7 butir batu miliknya. Kami, melakukan dengan penuh semangat kata Crhonos. Posisi tugu pertama ini,  sangat dekat dengan masjid Khaif. Selepas pelemparan batu pertama, sebenarnya kami dapat melakukan perjalanan menuju Ka’bah.

Kami dapat melakukan Thawaf ifadahah dan sya’i, lalu mencukur rambut. Kami dapat menanggalkan pakaian ihram. Setelah itu, kami kembali lagi ke Mina untuk menyempurnakan pelemparan dalam tiga malam berikutnya. Tetapi kami, bersama ribuan rombongan lain, tidak melakukannya. Kami malah meneruskan mabit [bermalam] di Mina selama dua malam berikutnya. Di tempat inilah, rombongan haji hanya menambah dua malam untuk menginap. Jama’ah tidak melakukan tahallul [potong rambut] Awal. Kami tetap meneruskan menginap di Mina.

“Hai Crhonos, ternyata kita mengambil Nafar Awal. Ini sebenarnya pilihan yang lebih baik dibandingkan dengan nafar tsani. Kalau kita mengambil nafar tsani, berarti kita akan menambah jumlah waktu penggunaan pakaian ihram sampai empat hari. Kita akan mencukupkan menginap di sini selama 3 hari berturut-turut, bukan 4 hari. Dan kita sudah melewatinya selama satu malam. Jadi, kita tinggal dua malam lagi. Berapa banyak kerikil yang telah dikumpulkan saat mabit di Muzdalifah? Crhonos menjawab, 196. Jumlah itu cukup kata Shofi untuk kita gunakan bagi 4 jama’ah. Karena kita mengambil nafar awal, maka, kita akan ke Mekkah pada tanggal 12 Dzul Hijjah.”

Shofi kelihatan begitu sumringah, meski tubuhnya semakin parah. Suasana spiritual di Mina, meski relative berbeda dengan suasana spiritual saat berada di Arofah dan Muzdalifah, tetapi, semangat itu tetap menyala dengan besar di seluruh tampilan jama’ah.

Kubunuh Syeitan-ku di Sini

Jumrah Artinya tempat pelemparan. Inilah tempat di mana Ibrahim diuji Allah akan kesetiannya kepada perintah-Nya. Jumrah pada hakikatnya adalah memperingati nabi Ibrahim saat digoda Syeitan agar tidak melaksanakan perintah Allah. Inilah moment paling histeris dalam perjalanan kemanusiaan Ibrahim. Bagaimana tidak, seorang anak yang begitu lama dinantikannya, tiba-tiba saat umurnya berada dalam masa indah, tiba-tiba diperintahkan untuk dibunuh.

Ssaat Ibrahim akan menyembelih putranya Ismail, ia begitu hebatnya digoda Syeitan. Dikisahkan, Ibrahim digoda sebanyak tiga kali. Karena itu, ia juga melakukan pelontaran batu kepada Syeitan yang langsung dibimbing Malaikat. Di tempat–tempat ini, kemudian dibangun Tugu dengan nama Ula, Wustha [jumrah tsaniyah], dan Aqabah [jumrah tsalisah] berada di gerbang Mina.

Sehabis melaksanakan balang pada setiap tugu, Crhonos selalu diam dan berdiri dengan tegap. Ia membayangkan Ibrahim hadir di sini. Di tempat ini. Ia lalu mengangkat tangan dengan do’a termisteri yang jarang dilakukan orang lain. Do’a itu adalah sebagai berikut:

“Ya Allah ya Rabbi yang kariem … Saat ini aku berdiri di sini. Di tempat di mana Kau menguji Nabi pilihan-Mu. Nabi yang menjadi kekasih-Mu. Nabi yang menjadi induk semua agama bertauhid. Nabi yang kedermawnannya, hampir tidak dapat dikalahkan siapapun. Puluhan batu telah dilempar Ibrahim di sini. Mungkin sudah milyaran manusia melakukan hal yang sama seperti Ibrahim.

Ya Allah yang Maha Ghaffar.  Di sini, aku tak akan melempar atau jumrah untuk membunuh Syeitan sebagaimana Ibrahim melakukannya. Karena aku tak sehebat Ibrahim yang mampu melihat wujud Iblis dan Syeitan di sini. Mereka mungkin sudah kalang kabut pergi, karena semua titik di sini, telah terisi oleh asma-asma-Mu. Di sini, aku justru akan membunuh Syeitan yang melekat dalam diri dan jiwaku dalam waktu yang cukup lama.

Ya Allah maafkan aku, jika ijtihadku ini salah. Berikanlah kepadaku dan kepada keluargaku, suatu kekuatan untuk hanya mengakui ketunggalan-Mu. Berikanlah kami keberkahan hidup yang sesungguhnya. Berilah kami keturunan-keturunan terbaik yang dapat meneruskan kebiasaan mensucikan-Mu. Hanya Engkaulah yang mampu membuat segalanya serba baik dan serba indah.

Kalimat-kalimat itulah, yang selalu muncul dari mulut Crhonos. Istrinya, Vetra selalu disuruh berada di belakangnya untuk mengatakan amin, pada setiap kata yang diucapkannya.

Ujian Datang Untuk Memenuhi Janji

Mengapa Ibrahim diuji Allah? Itulah kalimat tanya yang diajukan Shofi kepada Crhonos sepulang melakukan balang pada hati ketiga. Crhonos dan diam dan membiarkan Shofi, bapaknya untuk berkata:

“Begini anakku … Jamarat adalah tempat di mana Nabi yang wara’, taqwa dan penuh cinta diuji Allah. Inilah sosok yang terbiasa berkurban dengan 1.000 kambing, 300 sapi, dan 100 unta. Saat kegiatan itu berlangsung, banyak manusia dan bahkan Malaikat heran. Mengapa Ibrahim demikian dermawan. Ketika rasa heran itu muncul, dalam benak para penanya, maka Ibrahim berkata: “Setiap apapun yang membuat aku dekat dengan Allah, maka tidak ada sesuatu yang berharga bagiku. Demi Allah, jika aku mempunyai seorang anak, niscaya aku akan menyembelihnya ke jalan Allah. Jika itu bisa membuatku dekat kepada-Nya”.

Perjalanan waktu terus berputar. Sampai kemudian ia diberi seorang anak bernama Ismail. Mungkin ungkapan Ibrahim sudah terlupakan. Ketika Ibrahim di Baitul Muqoddas, ia bedo’a agar dikaruniai seorang anak. Allah mengabulkan permohonannya dengan dikaruniai seorang putra yang tampan dan sholeh bernama Ismail. Ia adalah anak dari istri keduanya bernama Hajar.

Hal ini dapat direkam dalam surat Ash-Shoffat []: 102 yang substansi ceritanya sebagai berikut:  Maka tatkala anak itu (Ismail) sampai pada umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim Ketika Nabi Ismail berusia 9 tahun atau ada juga yang mengatakan 13 tahun, bertepatan pada malam tanggal 8 Dzul hijjah, Nabi Ibrahim tidur dan bermimpi. Melalui mimpinya, datang seorang laki-laki dan berkata kepadanya: “Wahai Ibrahim, tepatilah janjimu!” Setelah terbangun, Ibrahim berpikir dan mengangan-angan akan masa lalu, lalu ia berkata pada dirinya sendiri: “Apakah mimpi itu berasal dari Allah atau dari syetan ?” Hari di mana Ibrahim berpikir, disebut dengan yaumut tarwiyyah  [hari berpikir untuk mengingat masa lalu].

Pada malam berikutnya, ia kembali tidur dan bermimpi seperti mimpi yang pertama. Setelah terbangun di hari ke dua, beliau mengetahui bahwa mimpi tersebut berasal dari Allah. Dan pada hari itu (tanggal 9 Dzul Hijjah) dinamakan yaum al arofah. Pada malam harinya beliau pun bermimpi dengan mimpi yang sama seperti sebelumnya. Setelah terbangun, ia menyadari bahwa mimpi tersebut adalah perintah untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Kemudian pada hari itu (tanggal 10 Dzul Hijjah) dinamakan yaum al nahr atau hari nahr.

Ketika Nabi Ibrahim akan mengajak putranya untuk disembelih, Beliau berkata kepada istrinya, Hajar. “Pakaikanlah anakmu dengan pakaian yang bagus, karena sesungguhnya aku akan pergi bersamanya untuk bertamu!” Hajar memberi pakaian bagus, memberinya wangi-wangian, dan menyisir rambutnya. Kemudian Nabi Ibrahim pergi bersama Ismail membawa sebuah pisau besar dan tali ke arah tanah Mina.

Apa makna di balik semua potret sejarah ini? Shofi menjawab sendiri. Bahwa siapapun yang berjanji untuk berbuat kebajikan agar tidak boleh lupa mengerjakannya. Jika kita lupa, maka, Tuhan akan mengingatkannya. Dan berjanjilah pada sesuatu yang mungkin mampu dilakukan, jangan berjanji pada sesuatu yang terlalu berat. Mengapa? Karena suatu hari kita pasti akan ditagih untuk mengerjakannya.  By. Charly Siera –bersambung —

Komentar
Memuat...