Ujung Mata “Cinta” Dinding Luka Yang Mengakar

0 24

Banyak arti tentang apa itu Cinta. Namun bagiku, Cinta adalah awal dari hidup kita yang sebenarnya, dengan cinta kita tahu resiko, dengan cinta kita tahu perjuangan, dengan cinta kita tahu bahagia, dengan cinta pula kita tahu bagaimana rasanya sakit hati. “Ujung Mata “Cinta” Dinding Luka Yang Mengakar”

“Cinta” Pada Pandangan Pertama

Bermula dari pandangan mata saat berpapasan diperjalanan. Ini tak pernah tak pernah terbanyangkan sebelumnya. Jatuh cinta pada pandangan pertama, yang begitu kuatnya. Hal itu mampu menghipnotis otakku, mampu mengalihkan pandangan lurusku menjadi sedikit berbelok tak berarah. namun tak sempat ku curahkan ingin ku pada wanita itu. ahh wanita itu….!!!

Waktu terus berjalan, menguatkan tekadku untuk menggauli cinta, menguatkan imajinasiku untuk mendalami cinta sedalam mungkin, berharap menemukan sepercik kebahagiaan dari Ganasnya Cinta. Hingga pada suatu hari, aku tak sengaja bertemu kemabli dengan wanita itu. Ya… wanita yang menurutku dia amat cantik, baik nan menawan. Saat itu pula gejolak hatiku mulai bereaksi, merangsang pikiranku untuk mendekati wanita itu kembali.

Perkenalanpun terjadi, kemudian kami bertukar nomor telpon dan pin BBM. PDKT pun dimulai dengan diiringi oleh ratusan bahkan ribuan kata yang sedikit gombal. Satu minggu telah berlalu, perjuanganku tak sia-sia, karena sekarang aku dan dia telah menjadi satu pasangan sejoli yang sedang diberkahi kebahagiaan yang tiada tertara. Alhamdulillah

Hari demi hari kami menjalani dan menikmati susah senangnya satu hubungan, dan satu bulan telah berlalu dan bahkan dua tahun sudah terlewati, banyak rintangan yang kami hadapi dalam perjalan, bahkan kami sempat memutuskan untuk berpisah karena ketidak dewasaan antara kami berdua. Namun kuatnya cinta aku dan dia, memaksa kami untuk menyatukan dan melanjutkan kembali cerita dulu yang telah sejenak terhenti.

Cinta Yang Hilang

Aku pernah bertekad, bahkan tekadku itu adalah satu hal yang tidak ingin aku lewati. Semua orangpun pasti memiliki tekad yang sama dalam setiap hubungan percintaan, apalagi hubungan itu sudah lama dijalani. Saat itu aku bertekad untuk menjadikan dia wanita terakhir yang singgah dihati aku. Janji demi janji aku berikan padanya, begitupun sebaliknya. Kami memilik visi yang sama seperti pada umumnya, banyak hal yang telah kami rencanakan, banyak hal pula yang telah kami siapkan untuk menjadikan hubungan ini lebih jauh dan tentunya untuk lebih baik lagi.

Namun saat hubungan kami menginjak tahun yang ketiga. Masalah baru yang tidak pernah aku banyangkan sebelumnya datang dan ikut menulis dalam catatan kisah cinta kami. Orang tua dia yang dengan lantangnya menghalangi dan tidak ingin hubungan yang telah kami jalani itu berlanjut. Satu hal yang wajar dengan segala keterbatasanku. Akhirnya hal itu pula yang menyurutkan aku bahkan seketika menghapus dan meruntuhkan tekadku yang dulu aku janjikan kepada dia.

Telah banyak hal yang aku lakukan untuk meyakinkan orangtuanya, tentunya dengan bantuan dia (kekasihku). Namun semua itu sia-sia, karena aku kalah oleh materi yang telah orangtuanya pinta kepadaku. Hingga pada akhirnya seminggu kemudian dia (kekasihku) menelpon aku, sambil menangis ia berkata “maafkan aku yang tak bisa meyakinkan kedua orangtuaku, maafkan aku juga karena dua minggu lagi aku akan menikah”. Diapun memutuskan untuk berpisah denganku, karena dia telah memilih dijodohkan dengan lelaki pilihan orangtuanya.

“Jangan Tangisi” Ini Yang Terbaik

Mulai saat itu aku berpikir, tuhan itu gak adil, memaksa memisahkan cinta yang telah diperjuangkan oleh hambanya. Namun walaupun demikian, masih ada sedikit kebahagiaan dan harapan karena aku tahu tentang resiko cinta, tahu tentang perjuangan cinta, tahu rasanya bahgia dan tahu pula bagaimana rasanya sakit hati.

“To be hurt, to be lost, to be left out in the to be kicked in dark. you’r down to feel like you’ve been pushed around. To be on the edge of breaking down and no one’s there to you”.

Tidak sampai disitu, dua minggu setelah dia menelponku, di hari H pernikahan dia menelponku lagi, kira-kira jam 06.00 WIB, dan itu 3 jam sebelum pernikahannya dilaksanakan. Awal kata dia menanyakan kabarku sambil terpatah-patah ia berkata : Apa kabar a?? Dan Alhamdulillah a baik-baik saja!! Itu jawabanku. Padahal sebenarnya saat itu aku benar-benar sangat terpukul dan penuh dengan keputus asaan. Namun, aku tak ingin membuat dia sama-sama merasakan apa yang sedang aku rasakan. Aku juga tidak mau membuat tangisannya semakin menjadi. Karena dalam perbincangan itu dia menagis meronta menunjukan ketidak inginan dia menikah dengan oranglain. Begitupun sebaliknya, akupun ikut terlarut dalam tangisannya, karena sekuat apapun laki-laki, akan sama seperti aku disaat merasakan hal yang sama seperti apa yang tengah aku rasakan saat itu.

“a man ‘s cry not because they’re weak, but because they’ve been strong for to long”

Doa Yang Menyiksa

Dan akhir kata sebelum telpon diakhiri, dia berkata:

A do’akan aku agar aku kuat menjalani semua ini, do’akan aku juga agar kelak kami menjadi Keluarga yang Syakinnah Mawaddah Warrahmah!!.

Dan jawabku: Do’aku selalu menyertaimu de. Relakan semua ini dan biarkan semua ini menjadi awal yang lebih baik untukmu dan keluarga baru kamu, aku ucapkan banyak terimakasih karena selama ini telah mengisi kekosongan hatiku dan semoga kelak kita sama-sama menemukan kebahagiaan seperti yang selalu kita harapkan, meskipun kita tidak bersama lagi!!.

Telpon ditutup. Keterpurukan aku pun semaUjung Mata "Cinta" Dinding Luka Yang Mengakarkin menjadi dan tak terarah. Aku marah terhadap ke adaan, marah terhadap takdir, dan marah terhadap kenyataan yang memaksaku untuk menerimanya. Dalam amarahku berkata “sungguh ironis cinta kami, sungguh tiada keadilan bagi kami oh.. Tuhan..” terlihat betapa bodohnya aku saat itu.

Lima tahun telah berlalu, kisah demi kisah aku coba untukku rangkai kembali, membuka kisah yang baru. Banyak hati yang aku singgahi, banyak rindu yang aku dapatkan, banyak pula cinta yang aku perjuangkan. Namun, semua itu tetap berbeda dan tiada ada yang bisa menggantikan kisah masa silamku itu.**aZ

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.