Inspirasi Tanpa Batas

Islam Indonesia di Persimpangan Jalan

Islam Indonesia di persimpangan jalan
0 147

Saat ini, umat Islam Indonesia kembali diuji. Islam Indonesia seperti dipersimpangan jalan. Diuji bukan untuk menang atau kalah. Bukan juga untuk mengalahkan atau memenangkan yang pahalanya syurga.

Mengapa? Karena umat sedang berhadapan bukan dengan mereka yang berbeda agama atau berbeda politik, tetapi dengan sesama umat Islam itu sendiri yang secara ideo politik, sesungguhnya hampir sama. Mereka satu sama lain sedang mempertahankan argumennya tentang perpsepsi mereka mengenai pengelolaan negara. Problemnya sebenarnya sangat sederhana.

Umat Islam sedang kembali diuji kesabaran dan kedewasaannya dalam menghadapi pandangan yang kian hari makin dinamis, kalau bukan menajam. Tokoh-tokoh umat satu sama lain saling menyalahkan dan menghujat. Satu sama lain, seolah “mewakili” pikiran kebenaran dan “mewakili” keislaman yang hakiki.

Siapa yang menjadi pemenang atau menjadi “korban”. Wallahu a’lam. Tetapi yang pasti umat berada dalam kebimbangan yang akut dan makin hari, makin tidak populer. Rakyat makin jauh dari tokoh-tokoh agamawan. Mereka akhirnya membawa persepsinya sendiri secara liar.

Kemunculan gerakan Islam yang cenderung massif, itulah awalnya. Massif-nya gerakan Islam dimaksud, secara organisatoris, kebetulan tidak digerakkan ormas atau tokoh ormas mapan seperti NU, Muhamadiyah, Persis dan PUI. Tetapi, digerakkan oleh ormas Islam “dadakan” dengan tingkat komunikasi yang meluas ke berbagai belahan dunia Islam lain.

Meluasnya gerakan massif mereka, dalam kacamata tertentu, sebenarnya dapat dimakulumi, mengingat kelompok terakhir ini, selalu lahir justru dari kampus-kampus besar dan mewakili kelompok Muslim terdidik. Mereka patut disebut mewakili ruh Intelektual Muslim yang ketika Indonesia merdeka, berada dalam gerakan Politik Islam Struktural.

Dalam perpektif pejoratif, kemunculan kelompok “massif”, karena itu, dapat difahami menimbulkan bukan hanya kekagetan psikologis, tetapi juga ketersinggungan ormas-ormas Islam yang mapan.

Mengingatkan ke Peristiwa Wali Sanga

Kondisi ini, dalam dimensi kebathinan umat, menurut saya, hampir mirip dengan saat peristiwa mahkamah wali sanga akan dilangsungkan. Suatu mahkamah yang “terpaksa” memutuskan bahwa Syeikh Siti Jenar atau Syiekh Lemah Abang, harus dibunuh dengan alasan untuk kepentingan agama dan umat. Meski tetap kontroversi akan kebenaran peristiwa ini.

Konsep “sajatining kawula gusti”, yang membawa Islam dalam pendekatan mistik falsafi,  dianggap wali sanga [non syeikh Siti Jenar], membahayakan keberlangsungan Islam di bumi Nusantara. Sunan Kalijaga yang biasanya “ramah” terhadap dimensi “mistik”pun tak kuasa. Akhirnya menerima keputusan dimaksud. Bahkan dalam cerita lain, dia pula akhirnya yang menjadi eksekutor atas kematian Syeikh Siti Jenar.

Namun demikian, pembunuhan terhadap “penerus” pikiran al Hallaj ini, tidak bisa hanya menggunakan nalar teologis. Mengapa? Sebab sebelumnya, peristiwa-peristiwa sosiologis turut menjadi pemicu.

Misalnya, pesantren Lemah Abang, Cirebon di mana Syeikh Siti Jenar mengibarkan bendera Islam, dalam episod tertentu, ternyata jauh lebih memikat umat. Dalam kasus lain, pesantrennya bahkan cenderung menurunkan peminatan terhadap pesantren lain yang cenderung fiqhiyah. Simpulannya, meski hanya karena beda sudut pandang dalam memahami transformasi Islam, Syeikh Siti Jenar juga dibunuh dengan alasan “merusak” ajaran Islam.

Jauh hari sebelum peristiwa Syeikh Siti Jenar, wali sanga pernah juga bersitegang dengan Sunan Kalijaga. Wali Sanga yang dipimpin Sunan Ampel, pernah mengingatkan Sunan Kalijaga, akan model dakwah yang cenderung jauh dari puritanisme Islam. Dalam kasus tertentu, bahkan cenderung singkretis dengan Hinduisme dan Budhisme. Islam melalui model dakwah Sunan Ampel dianggap terlalu kuat mengadopsi beberapa model dan gaya Hinduisme dan Budhis, di Jogjakarta.

Sebagian di antara anggota para wali sanga, bahkan sempat “menuduh” sunan Kalijaga termasuk di antara agamawan yang patut diragukan “keislamannya”. Keraguan itu, bukan hanya karena Kalijaga cenderung singkretis, tetapi dia juga dianggap masih keturunan raja Majapahit, yang karenanya patut diduga mewakili kepentingan Majapahit yang memang Hinduisme dan Budhisme.

Saat suasana perdebatan sengit yang cenderung tidak produktif itu berlangsung, salah satu wali mengingatkan bahwa ternyata Iblis merasuki mahkamah mereka. Bahkan, sang wali menyebut bahwa Iblis telah masuk ke dalam dada dan jiwa mereka.”Kewalian”, tidak mampu membendung masuknya Iblis ke dalam jiwa dan dada kita. Begitulan seloroh salah seorang wali

Islam Indonesia hari ini

Mereka semua akhirnya beristighfar. Satu sama lain akhirnya saling memeluk dan memaafkan. Tentu didalamnya, mempersilahkan setiap anggota wali sanga untuk menyebarkan Islam menurut kemampuan dan situasi sosiologisnya masing-masing. Keutuhan wali sanga kembali terjamin. Mereka kembali mampu meletakkan prinsip kesamaan dan kebersamaan dalam membangun Islam Nusantara. Fakta, berkembanglah Islam dengan gayanya masing-masing di Nusantara.

Islam Indonesia hari ini, disayangkan tidak memiliki wali sanga. Hingga tampaknya tidak ada tokoh yang benar-benar menjadi imam untuk menjadi mimbar bersama umat Islam Indonesia. Inilah yang menyebabkan, menurut saya, Islam benar-benar berada di persimpangan jalan. Suatu persimpangan, yang, saya kira cukup membahayakan bagi masa depan Islam itu sendiri. By. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...