Uniknya Lanskap Budaya Cirebon, Pengaruh Hindu dan Belanda

0 76

Tidak ada bangsa yang sangat kaya dengan hura-hura, pesta, festival, hari-hari peringatan, ritual-ritual selain bangsa Yahudi, Eropa, Cina dan India,. Dan itu berimbas atau tercermin dalam pelaksanaan agama mereka. Hindu, salah satu agama yang sangat banyak mengajarkan segala macam ritual dan peringatan.

Bukan perkara mudah mengubah pengaruh yang sudah berurat berakar. Bahkan sudah menjadi darah dan daging bagi sebuah bangsa dan peradaban, termasuk di Cirebon. Masalah lanskap bangunan tempat keraton menjadi contoh penting dalam hal ini, tidak bisa dilepaskan dari pengaruh Hindu dan mistik masa lalu yang sudah tertanam kuat itu.

Dalam ajaran kosmologi Hindu anutan orang Jawa dan Bali dikenal ajaran Nawa Dewata (sembilan dewa). Delapan dewa penguasa angin di Bali meliputi Wishnu (utara), Iswara (timur laut), Sambhu (timur), Maheswara (tenggara), Brahma (selatan), Rudra (barat daya), Mahadewa (barat), Changkara (barat laut), dan penjaga titik pusat, yaitu Syiwa. Lanskap atau tata ruang membuat bangunan didasarkan pada hal ini, dan utara itu mewakili konsep arah datangnya kejayaan dan asal muasal.

Konsep ini dikonversi para mubalig Islam menjadi konsep “walisanga” (sembilan wali). Konsep kosmologi Nawa Dewata alam semesta yang dikuasai dan diatur oleh anasir-anasir Ilahi, yang disebut dewa-dewa penjaga mata angin, diubah menjadi konsep kosmologis walisanga, kedudukan dewa-dewa penjaga mata angin itu diganti manusia yang dicintai Tuhan, yaitu para wali berjumlah sembilan. “Walisanga boleh dikatakan suatu proses pengambilalihan konsep Nawa Dewata yang bersifat Hinduistik menjadi sembilan wali yang bersifat sufistik.

Ketika Belanda menjajah Indonesia awalnya dilakukan VOC, tidak ada yang gigih melakukan perlawanan terhadap penjajahan, selain orang Islam yang memiliki konsep jihad dan mati syahid. Untuk meredam perlawanan itu, Belanda tidak hanya menumpasnya dengan cara militer, tetapi juga dengan mendatangkan para ahli Islam, seperti Snouck Hurgronje, Van der Flash dan lain-lain. Salah satu upaya peredaman itu adalah dengan menggelar berbagai acara yang cukup menyibukkan orang Islam, dan itu harus terlihat sebagai acara keagamaan yang penting,  sehingga harus diadakan secara rutin dan ramai. Acara itu harus terlihat sebagai acara yang sakral, sehingga harus melibatkan orang-orang penting dalam otoritas keagamaan, yaitu para ulama atau kyai. Termasuk dalam kategori ini adalah acara panjang jimat.

Ritual panjang jimat itu jelas sangat dipengaruhi ajaran Hindu. Dalam ajaran Hindu kuno ada yang dinamakan Pesta Asywameda (saji kuda). Kuda dilepaskan keempat penjuru, diiringi bala tentara selama setahun, tanah yang dilalui kuda itu dirampas dan jadi tanah kekuasaan raja pelepas kuda. Acara ini kemudian diikuti Pesta Syakti, digelar biasanya pada bulan ke tiga. Senjata-senjata tajam dibersihkan hingga berkilat, disajikan sajian untuk Dewa Perang Indra, dan Dewi Tanah Air Perthiwi. Senjata-senjata kerajaan diarak bersama pusaka-pusaka dan barang-barang bertuah.

Pandangan ini sangat ekstrem dan berbeda dengan pendapat kalangan keraton dan adat di Cirebon. Yang meyakini panjang jimat merupakan ritual dakwah yang dikaitkan dengan peringatan hari kelahiran Nabi Muhamamd saw. Ritual panjang jimat merupakan salah satu bentuk kecintaan umat Islam kepada Rasulnya. “Di tanah Jawa tradisi ini sudah ada sejak zaman walisongo,” ungkap Ratu Arimbi dari Keraton Kanoman. “Tradisi ini pula sebagai sarana dakwah penyebaran agama Islam dengan menghadirkan berbagai macam kegiatan yang menarik masyarakat pada masa itu dan adanya keraton dengan berbagai budaya dan tradisinya dapat menciptakan daya tarik masyarakat untuk mengunjungi keraton sebagai pusat penyokong lestarinya budaya.

Ritual Panjang Jimat

Filsofi yang terdapat pada ritual panjang jimat sebenarnya merupakan fragmen yang menceritakan perjalanan hidup manusia sejak lahir hingga menjalani kehidupan sampai kembali menghadap Sang Kholiq. Karena dulu belum ada alat rekam seperti film, sehingga lahirnya Nabi Muhammad SAW diceritakan melalui simbol-simbol yang penuh makna. Panjang jimat berakhir di Langgar Agung dengan membaca kitab Barzanji karangan Syeikh Jafar Al-Barjanzi, sejarah Nabi Muhammad SAW, kemudian bersalawat dan berdoa.

Upacara panjang jimat sebetulnya merupakan salah satu trik dalam syiar Islam yang dikemas melalui fragmen atau pawai alegoris. Hingga saat ini ritual panjang  jimat telah menjadi tradisi tiap tahun yang diperingati secara terus menerus sampai sekarang. Ritual tahunan panjang jimat yang ada di keraton itu bukan dari rekayasa Belanda atau peninggalan penjajah. Namun diakui memiliki keterkaitan dengan kepercayaan sebelum Islam. Seperti adanya makanan untuk suguhan para dewa.

Jika sebelum Islam makanan suguhan diperuntukan para dewa. Berbeda dengan suguhan pada ritual panjang jimat. Meski suguhan itu ada berupa nasi lauk pauk, kue, buah-buahan dan makanan lainnya, tetapi suguhan tetap dalam kaidah syariat Islam. Suguhan tersebut diberikan setelah melakukan doa bersama kepada Allah SWT, kemudian dibagikan untuk sultan dan keluarganya. Juga suguhan diberikan kepada para wargi, kemantren, kaum Masjid Agung Sang Cipta Rasa, abdi dalem dan masyarakat.***

Nurdin M.  Noer – Wartawan senior, pemerhati kebudayaan lokal.

Komentar
Memuat...