Untuk Dikenang dalam Novel Bergulat dengan Nafas Terakhir_Part 1

Untuk Dikenang dalam Novel Bergulat dengan Nafas Terakhir_Part 1
0 108

UNTUK dikenang: Fanny, itulah namanya. Sosok wanita anggun nan mempesona. Wanita pendiam, tak banyak tingkah dan selalu menyembulkan harapan hidup. Ia tak memiliki banyak impian, selain bagaimana Tuhan dapat memperpanjang usianya di dunia. Sosok yang lahir dalam kultur pengusaha yang bercita-cita loncat menjadi seorang akademisi.Ia bercita-cita ingin dipanggil Bu Guru … meskipun gajihnya tak seberapa, bahkan jika dibandingkan dengan uang pemberian orang tuanya.

Ia sama seperti kita, sebagai manusia, selalu berhasyrat loncat dari sesuatu yang biasa ada dalam dirinya, ke dunia lain yang berbeda dan dianggap menjanjikan. Dunia yang mungkin dianggapnya, dapat mendorong dirinya dalam pintalan dunia yang diakui secara mendunia juga, paling tidak dalam konteks kampung halamannya. Sebuah desa, pedalaman yang jika masuk ke kampung itu, jika tidak pandai membawa kendaraan, sangat mungkin terperosok ke jurang. Kampung itu bernama Sagaraheang, Kuningan.

Hari itu, senin, pukul 9.30 pagi, dalam usia yang ke 24 tahun, dia menghembuskan nafas terakhir. Nafas yang sebelumnya, selalu ia pinta kepada Tuhannya, agar tetap melekat dengan tubuhnya yang fisik. Ia ingin nafas-nafas itu,  untuk tidak dijemput dulu oleh Izrail. Berbagai tulisan diakunnya terus menerus meminta kepada Tuhannya agar Ia berkenan memperpanjang nafas hidupnya di dunia. Tetapi, keputusan Tuhan final. Ia dipaksa pulang ke kampungnya yang abadi.

Saat keinginannya masuk ke surel-surel kecil dalam berbagai akun, termasuk ke akun facebook Dewi, seniornya di Padepokan, nafas panjang selalu mengalun bersama iringan do’a semoga Allah berkenan mengabulkan do’anya. Ratusan atau bahkan ribuan orang yang sama, tampaknya berkata hal yang sama juga. Mereka umumnya, mengetahui kalau sosok yang satu ini, memang berada dalam pilihan-pilihan hidup yang sangat pilu dengan juntaian masalah yang dihadapi suaminya tercinta.

Dalam perjalanan yang dilalui bersama suaminya, ia bukan hanya sekedar telah menyemai kasih sayang bersama suaminya, tetapi, rasa cinta tulus seorang ibu kepada anaknya yang baru dua tahun lebih sedikit. Ia demikian galau ketika membayangkan nasib anaknya di masa yang akan datang. Ia dan berbagai dokter, tentu apalagi suaminya, tak kuasa menahan nafas terakhirnya itu. Sesuai perintah Tuhan, Izrail tetap meminta Fanny kembali ke sisi-Nya. Cita-cita Fanny untuk tidak menghembuskan nafas terakhir itu, apalagi hanya untuk menjadi seorang yang layak disebut guru, pupus sudah. Usahanya untuk menambah waktu hidup bersama suami dan anaknya, berakhir sudah.

Pada jam dimaksud, ia terbang bersama para bidadari, dijemput para ummy di pintu syurga. Dan kini bersama mereka, ia akan tersenyum menanti suaminya datang menjumpainya di Syurga. Kita tidak tahu, entah berapa puluh tahun kemudian, tentu dalam ukuran dunia, suaminya yang bernama Doddy akan menemukannya kembali.

Doddy yang lemah, tak kuasa menahan tangis. Ia lunglai ketika kata mati, terungkap dari dokter yang menanganinya. Dalam balutan kasih sayang yang tak berhingga, Doddy, tak kuasa. Tak kuasa selain mengenangnya sebagai sosok pujaan yang menaruhkan segenap harapan akan masa depan kehidupan mereka di dunia bersama anaknya. Tuhan … kuikhlaskan, kuikhlaskan … dan kuikhlashkan. Ia mendekap Fanny yang masih hangat dengan menyembulkan sesungging senyum ketika menatap Doddy yang tak pernah lelah menemaninya. By. Charly Siera —Bersambung ke Bunga Terakhir¬†

Komentar
Memuat...