Urgensi Ilmu Dalam Kehidupan

0 870

Urgensi Ilmu Dalam Kehidupan: Ilmu adalah anugerah yang agung dan rahasia yang paling besar dari sekian banyak rahasia Allah di alam ini. Dengan ilmu manusia dikukuhkan menjadi pembawa risalah kekhilafahan di muka bumi, yang memiliki kewajiban untuk memakmurkan dan mengembangkannya. Dinamika kehidupan dan berbagai pernik- perniknya, jika dilaksanakan berdasarkan petunjuk Rabb-nya, selaras dengan manhaj dan arahan-Nya, proses pencarian maupun pengamalan ilmu dapat dikategorikan sebagai ibadah.

Dalam menjelaskan urgensi ilmu dalam kehidupan, al-Quran menguraikan melalui  kisah tentang Bani Israil. Dalam kisah dimaksud disebutkan bahwa Allah mengutus Thalut sebagai raja atas mereka. Mereka menentang pemilihan tersebut, karena ia tidak memiliki harta. Allah  menyangkal serta mementahkan harta benda yang senantiasa mereka agung- agungkan. Harta tidak selamanya dapat mengangkat derajat seseorang dan tidak membuat seseorang menjadi raja.

Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu”. Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang banyak?” (Nabi mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.”  (QS. al-Baqarah: 247)

Allah  mengangkat nilai ilmu melebihi nilai seorang raja. Dalam ayat lain dijelaskan bahwa Nabi Daud dan Sulaiman ketika menghadap kepada Rabb-nya dengan penuh puja-puji atas kebesaran dan anugerah-Nya yang telah melebihkan ilmu kepada keduanya dari hamba-hamba-Nya yang beriman. Keduanya tidak pernah menyebut-nyebut atau membangga-banggakan kerajaan yang dikuasainya, keagungan, dan kenikmatan yang telah dianugerahkan Allah kepadanya. Tetapi sikap keshalihan dan ketundukan itulah yang mereka banggakan.

وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا دَاوُدَ وَسُلَيْمَانَ عِلْمًا وَقَالا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَضَّلَنَا عَلَى كَثِيرٍ مِنْ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ

Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambaNya yang beriman”. (QS. al-Naml: 15)

Al-Quran memberikan kriteria bagi orang-orang yang disebut âlim atau ulamâ, dengan banyak memberikan gambaran yang cerah dalam perilaku kehidupannya. Ketika Allah mentranformasikan ilmu pengetahuan  kepada hati orang yang mencarinya, dari tingkah laku mereka akan nampak bahwa hati mereka senantiasa dipenuhi oleh rasa takut dan pengharapan. Panca indera mereka selalu dipenuhi dengan kepatuhan, ketaatan, dan ibadah kepada Allah semata. Oleh karena itu konsep mencari ilmu dalam perspektef Islam dibangun di atas kesalihan dan kejernihan hati pencarinya.

أَمْ مَنْ هُوَ قَانِتٌ ءَانَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الأَلْبَابِ

(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (Al-Zumar: 9)

Manusia yang Berilmu Akan Lebih Takut dan Taat Kepada Allah

Manusia yang berfikir berdasarkan sunnatullah dan memahami berdasarkan ilmu yang benar, ia akan lebih takut dan lebih taat kepada Allah. Ia pun akan lebih mengharapkan keridhaan-Nya. Karena Allah penguasa berbagai nikmat yang mereka terima dan menjadi sumber ilmu yang mereka peroleh. Dialah yang telah menganugerahkan akal dan pikiran kepada mereka dan mengangkat derajatnya di atas derajat para makhluk-Nya.

Al-Quran memberi contoh orang âlim yang berlepas diri dari tanda-tanda kebesaran Allah, yang digambarkan sebagai seorang manusia yang terpuruk dalam derajat hayawan.

Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga) (QS.al-A’râf: 175-176)

Ayat di atas menjelaskan bahwa orang yang dianugrahi ilmu, tetapi mereka mengingkari kebenaran, atau menutupinya atau menyalahgunakannya, maka cahaya yang ada akan berubah menjadi kegelapan baginya. Ia dikatagorikan sebagai orang yang sesat. Lebih dari itu orang tersebut diumpamakan seperti seekor anjing. Dimana jika kita halau ia juga mengeluarkan lidahnya, dan jika kita biarkan ia juga tetap mengeluarkan lidahnya. Hal ini disebabkan karena anugrah ilmu yang telah mereka terima bukan dijadikan sebagai pelita. Tetapi dijadikan alat untuk mengumbar nafsu yang mengendalikan pola fikir dan tata kehidupannya.

Oleh Dr. Ahmad Munir, M.Ag [Dosen Ushuludin STAIN Ponorogo]

Bahan Bacaan

Abdul Karim al-Khatib, al-Tafsîr al-Qur’any  Lî al-Qur’ân, Beirut: Dâr al-Kutub, tt

Al-Râghib al-Ashfahâny, Mu’jam Mufradât Alfâz al-Qur’an, Beirut: Dâr al-Fikr, tt.

Hendar Riyadi (ed.), Tauhid Ilmu, Bandung: Nuansa, 2000

M.Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an, Bandung: Mizan, 1996

Mahmud ‘Abbas al-‘Aqqâd,  Falsafah al-Qur’an, Beirut: Dâr al-Fikr, tt.

Mohammad Syadid, Manhaj al-Qur’an Fi al-Tarbiyah, Beirut: Muassasah al-Risalah, tt

Komentar
Memuat...